My Hottest Duda

My Hottest Duda
Bab 47 : Rumah sakit



1 Bulan Kemudian


"Pak ada panggilan dari rumah," bisik asisten Davin masuk ke dalam ruang meeting kantor Davin.


"Halo..."


"APA?..baik saya akan segera kesana," ujar Davin dengan suara yang kuat membuat semua orang yang ada disana terkejut.


"Rapat hari ini dibatalkan, saya harus segera pergi," ujar Davin berdiri.


"Alice, ikut daddy pulang," ujar Davin mengajak Alice. Wanita itu tampak kebingungan melihat Davin yang tiba-tiba mengajaknya pulang.


"Kenapa rapatnya dibatalkan dad, apa terjadi sesuatu?" tanya Alice berjalan mengikuti langkah kaki Davin yang terburu-buru.


"Mommy mu akan melahirkan, kita harus segera kerumah sakit sekarang juga. Daddy khawatir, mommy mu pasti ketakutan disana karena tidak ada kita yang menemaninya," ucap Davin masuk ke dalam mobil.


"Loh bukannya mommy lahiran 4 hari lagi dad," tanya Alice memasang seat belt di badannya.


"Kemarin dokter mengatakan terkadang waktu untuk melahirkan itu bisa lebih cepat dari tanggal yang sudah diperkirakan," jawab Davin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya saat ini hanya ada pada Maura saja.


Setibanya di rumah sakit, Davin dan Alice segera menuju ruang persalinan.


"Daddy.." ujar Cecilia saat melihat Davin tiba di depan ruang persalinan.


"Mommy kesakitan...Cecil takut dad," ucap Cecilia turun fari pangkuan pelayan di rumah Davin.


"Semuanya akan baik-baik saja sayang.." ucap Davin memberi ketenangan pada putrinya itu.


"Kamu sama kak Alice dulu, daddy mau menemani mommy di dalam," ujar Davin. Cecilia lalu mengangguk.


"Kemari sayang sama kakak," tukas Alice merentangkan tangannya, Cecil kemudian berjalan mendekati Alice.


"Cecil sedih melihat mommy kesakitan," ucap Cecilia dengan wajah sedihnya di gendongan Alice.


"Mommy dan adik kita akan baik-baik sayang..percaya deh sama kakak. Jangan sedih lagi ya," ujar Alice mengecup pipi adiknya.


Sementara itu Davin tampak menemani Maura di dalam ruang persalinan.


"Sayang..kamu jangan takut..ada Aku yang menemanimu disini," ucap Davin menggenggam tangan Maura memberi semangat pada istrinya itu.


Pria itu dengan setia menghapus keringat di dahi istrinya.


"Dav..rasanya sakit sekali.." ucap Maura meringis kesakitan.


"Sabar sayang...ku mohon bertahanlah demi kami," ucap Davin mengecup dahi Maura berkali-kali. Jantungnya bahkan berdetak lebih cepat sekarang ini melihat istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anak mereka.


"Sepertinya sudah pembukaan terakhir, bayinya akan segera dilahirkan," ujar Dokter.


"Ikuti instruksi dari saya ya ibu..jangan terlalu tegang, cobalah untuk rileks," ujar Dokter dibalas anggukan oleh Maura. Dokter tersebut mulai memandu Maura.


"Ya ibu dorong lagi, kepalanya sudah keluar," ujar Dokter. Maura mengenjan kembali dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Maura tampak menghela nafas panjang, mengekspresikan kesakitan bercampur rasa bahagian dan lega.


"Terima kasih sayang sudah berjuang untuk kami. I love you," ucap Davin mengecup bibir Maura dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"I love you too my husband," ujar Maura tersenyum.


Setelah persalinan selesai, Maura dipindahkan keruang rawat inap.


"Mom.." ujar Alice dan Cecilia bersamaan berjalan menghampiri Maura yang sedang disuapi oleh Davin.


"Kemari anak-anak mommy.." ujar Maura merentangkan kedua tangannya. Ketiganya kemudian berpelukan.


"Dimana adik Cecil dad," tanya Cecil saat tidak melihat keberadaan seorang bayi disana.


"Nah itu Dia.." ujar Davin kala sang Dokter masuk menggendong seorang bayi laki-laki.


"Bayinya masih tertidur, kalau sudah bangun tolong diberi ASI ya," ujar sang Dokter menyerahkan bayi sehat dan berisi itu pada Maura.


"Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Dokter lalu keluar.


Mereka tampak bahagia memandang bayi kecil yang ada di gendongan Maura.


"Ya ampun...gemas banget sih..Alice tidak sabar lagu ingin mengajaknya bermain-main," ucap Alice mengelus pelan wajah adiknya. Bayi itu menggeliat sebentar lalu kembali tidur pulas.


"Dad, nama baby-nya siapa?" tanya Cecilia menatap Davin.


"Devan Alexander sayang.." ujar Davin mengusap kepala Cecilia.


"Hmm..Cecil panggil Evan saja kalau begitu.." ucap Cecil.


"Mommy setuju.." ucap Maura menyukai nama panggilan untuk bayinya.


"Apa kalian sudah mengabari mommy dan daddy?" tanya Maura.


"Sudah mom, Alice tadi menelepon grandma. Mereka akan segera datang," pungkas Alice.


"Sayang..Aku ingin menggendong bayi kita," pinta Davin.


"Aku juga mau mom.." ujar Alice.


"Aku juga mom," pekik Cecilia mengangkat tanganya.


"Ssttt..suaranya jangan keras-keraa, nanti adiknya bangun" ujar Maura.


"Opss sorry mom," pungkas Cecil terkekeh.


"Ya sudah..daddy dulu yang menggendongnya, habis itu Alice dan Cecil ya," ujar Maura. Ia kemudian memberikan Devan kepada Davin dengan sangat hati-hati.