My Hottest Duda

My Hottest Duda
Bab 40 : Membuat adik



Maura menatap arah pandangan Davin yang tertuju pada dadanya yang tidak tertutupi apa-apa. Seketika ia menarik selimut dan menutupinya.


"Kenapa ditutup sayang, aku ingin melihat karya ku disana," ujar Davin.


"Kita makan siang saja, aku tidak yakin kamu hanya akan melihatnya saja," ujar Maura memakai kemeja Davin karena ia merasa kemeja Davin sangat simpel untuk dipakai.


"Wow...so sexy..aku ingin menerkam mu lagi melihat mu memakai kemeja ku," ujar Davin.


"Akh..." pekik Maura saat berjalan. Davin yang melihat itu sudah pasti tau penyebabnya. Pria itu langsung mengangkat tubuh Maura ala bridal style.


"Perasaan Aku belum menggempur mu habis-habisan tadi pagi," ujar Davin dibalas pukulan oleh Maura di dadanya.


"Kalau bukan karena kamu yang terus meminta Aku pasti tidak akan seperti ini," ujar Maura. Davin menurunkan Maura dengan hati-hati di atas sofa.


"Suapi Aku ya sayang.." pinta Davin manja memeluk pinggang Maura.


"Dasar manja," ujar Maura mengambil makanannya lalu menyuapi Davin.


"Ahhh..." Maura melenguh saat tangan Davin yang entah sejak kapan sudah berada di salah satu dadanya yang sedang memainkan puncaknya.


"Dav...apa yang kamu lakukan. Kita sedang makan," ujar Maura meringis. Dadanya masih terasa kebas akibat ulah Davin tadi pagi.


"Aku hanya memegangnya saja sayang.." ujar Davin sembari mengunyah makanannya.


"Tidak..tidak..keluarkan tangan mu sekarang juga" ujar Maura melotot pada Davin.


"Ohh ayolah sayang, hanya memegang saja," balas Davin dengan mata puppy eyes nya.


"Huh....Kamu itu keras kepala sekali" ujar Maura akhirnya pasrah. Ia kembali makan dan menyuapi Davin sambil menahan rasa geli di dadanya. Tingkat kemesuman suaminya tidak perlu dipertanyakan lagi.


Selama satu harian keduanya berada di dalam kamar, Davin tidak membiarkan Maura pergi kemanapun. Hingga malam tiba, Maura memilih makan malam di ruang makan.


"Makan yang banyak sayang karena malam ini Aku tidak akan membiarkan mu tidur," ujar Davin menyeringai membuat Maura bergedik ngeri. Untung saja tadi siang hingga sore Davin tidak menyentuhnya. Kalau tidak, mana sanggup Ia meladeni Davin malam ini. Setelah makan malam Davin dan Maura kembali ke dalam kamarnya. Maura melihat ada 5 panggilan tak terjawab dari mommynya. Ia menghubungi kembali mommynya.


"Kamu menelepon siapa sayang?" tanya Davin duduk disamping Maura sambil memeluknya.


"Ada panggilan tak terjawab dari mommy," ujar Maura.


"Halo mom..ada apa?" tanya Maura.


"Hai sayang..Cecil mau ngomong samamu" ujar Helen mengaktifkan panggilan vidionya.


"Halo mom..." ujar Cecilia.


"Hai..sayang..kamu tidak nakal kan disana?" tanya Maura.


"No mom. Cecil lindu mommy. Kata kak Alice mommy lagi buat adik Cecil ya," ucap Cecil polos membuat Maura menelan ludahnya. Awas saja kalau Ia sampai bertemu dengan Alice. Maura akan menjewer telinganya.


"Eh..itu..mommy__"


"Iya sayang, Cecil mau adik kan? Cecil tidur sama grandma dulu ya biar adiknya cepat datang," ujar Davin memotong perkataan Maura.


"Dav..kamu bilang apa sih.." ujar Maura kesal.


"Kan kita memang membuat adik untuk mereka," ujar Davin.


"Ok Dad, cepat buat adiknya ya.." tukas Alice senang.


"Udah ya sayang..kamu tidur ya. Daddy ada urusan dengan mommy mu," ujar Davin dibalas anggukan oleh Cecilia. Panggilan pun berakhir.


"Alice pasti mengajarkan hal-hal aneh pada Cecil. Awas saja anak itu kalau sudah di rumah nanti," ujar Maura menaruh ponselnya di atas nakas.


"Mari membuat adik untuk Cecil dan Alice," ucap Davin mendorong tubuh Maura lalu menindihnya. Ia meraup bibir merah yang menjadi candunya itu. Maura lalu membalas serangan dari Davin. Kedua tangan Davin tak tinggal diam. Tangannya bergerak menyusuri setiap jengkal tubuh Maura. Dengan perlahan Ia melepas baju Maura hingga menyisakan **********. Ciuman Davin turun ke leher jenjang Maura hingga ke bongkahan besar milik Maura.


"Auhh..pelan-pelan Dav," ringis Maura saat Davin memainkan puncak dadanya.


Kini keduanya sudah sama-sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka.


"Aku ingin kamu yang memimpin permainan," ujar Davin membalikkan tubuh Maura hingga berada di atasnya.


"Uhhh..penuh banget," gumam Maura merasakan milik Davin masuk sepenuhnya kedalam intinya.


"Bergerak sayang.." Davin mengubah posisinya menjadi duduk. Maura mulai bergerak pelan dengan dituntun oleh Davin.


"Enghhh Davhhh," erang Maura menikmatinya.


"Ya sayang...sebutkan nama ku. Kamu membuat ku semakin bergairah melihat mu mengerang memanggil namaku," ucap Davin.


"Mainkan mereka Dav.." ujar Maura membawa kedua tangan Davin ke dadanya. Suara erangan keduanya memenuhi seluruh ruangan kamar mereka.


"Dav...Aku...Aku ingin keluar," rancau Maura menekan kepala Davin ke dadanya.


"Keluarkan saja sayang.." ujar Davin. Setelah Maura mangalami pelepasan, kini Davin yang mengambil Alih.


"Sekarang giliran ku," ujar Davin menindih tubuh Maura.


"Dav...lebih cepat lagi," rancau Maura. Davin semakin mempercepat pergerakannya. Hingga keduanya mencapai puncak.


"Akh.." pekik keduanya kala merasakan pelepasan.


"Kamu sangat nikmat dan sempit sayang," ujar Davin.


"Sayang Aku mau lagi," ucap Davin lalu dibalas anggukan oleh Maura.


"Sayang lagi.." ujar Davin lagi dan lagi. Entah sudah berapa ronde yang sudah mereka lewati.


"Aku ingin di atas lagi," ucap Maura malu-malu. Davin langsung menuruti permintaan istrinya itu.


"Dav...kenapa ini begitu nikmat.." rancau Maura berkali kali. Hingga beberapa menit kemudian keduanya mencapai puncak lagi. Maura menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Davin. Deru nafas keduanya belum kembali normal.


"Lelah?" tanya Davin mengusap punggung Maura.


"Aku capek banget," ujar Maura.


"Kalau begitu kita tidur saja. Besok kita lanjut lagi" ujar Davin.


"Aku ingin tidur disini," ucap Maura dibalas anggukan oleh Davin lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Akhirnya mereka tertidur dengan posisi Maura di atas tubuh Davi.