
"Ughhh....Dav...ini sangat nikmat.." rancau Maura mengayunkan tubuhnya di atas tubuh Davin.
"Shhh..sayang...Aku sangat menyukai wajahmu yang mengerang kenikmatan diatas ku," ujar Davin menatap wajah Maura.
"Kau terlihat semakin sexy jika seperti iniiihh" rancau Davin memainkan kedua bongkahan milik Maura. Ia merasakan milik Maura semakin menjepit miliknya.
"Dav...Dav...A..Aku..hampirrr sampaihh.." ujar Maura merancau.
"Akhhh.." erangan panjang keluar dari mulut keduanya kala mereka mencapai puncaknya.
**********
"Ceklek.." pintu kamar Davin dan Maura terbuka.
"Dad, mo__"
"Astaga...dasar orang tua," ujar Alice melihat Maura dan Davin tidur berpelukan tanpa pakaian, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka hingga sebatas dada.
"Apa mereka tidak bisa mengunci pintu dulu sebelum melakukannya. Bagaimana jika Cecil tadi masuk kesini," celoteh Alice.
"Pantas saja daddy cepat pulang," gumam Alice geleng-geleng kepala lalu menutup pintu kamar.
"Enghh.." Maura tampak menggeliat di tempat tidur. Ia membuka matanya dan melihat Davin yang tidur dengan mulut yang berada di puncak dadanya. Maura terkekeh melihat Davin yang tidur seperti bayi saja. Dengan pelan Maura menjauhkan pu*ingnya dari mulut Davin. Maura bangkit dari ranjang kemudian memakai bajunya. Ia keluar dari kamar meninggalkan Davin yang masih tertidur. Maura melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mencari makanan. Perutnya sudah kelaparan. Ditambah lagi dengan dirinya yang sedang mengandung.
"Alice.." panggil Maura saat melihat Alice sedang berbaring di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Oh hai mom.." ujar Alice bangun lalu bersandar di sofa.
"Segar banget mukanya mom setelah dapat servis" ujar Alice.
"Pantas saja tadi daddy cepat pulang, ternyata mau itu" ujar Alice.
"Maksud kamu itu bagaimana?" tanya Maura tidak paham dengan perkataan Alice.
"Alah...mommy pura-pura gak tau aja" ujar Alice menggoda Maura.
"Tadi di kamar sama daddy ngapain coba sampai sore begini tidur tanpa baju kalau bukan ehem ehem" ujar Alice membuat Maura terkejut menatap Alice.
"Kami mengintip ya," pungkas Maura dengan tatapan mengintimidasinya.
"Idihhh..siapa yang mengintip coba. Kayak gak ada kerjaan aja. Makanya kalau mau gituan pastiin pintu kamarnya ditutup dulu. Orang tadi pintunya gak di kunci. Ya Aku masuk aja. Untung Aku yang masuk, gimana kalau tadi itu Cecilia" tukas Alice membuat Maura merona. Bisa-bisanya mereka lupa mengunci pintu.
"Udah ahh..mommy lapar," ujar Maura berjalan cepat menuju dapur. Sedangkan Alice tertawa melihat wajah Maura yang merah merona.
"Alice.." panggil Maura dari dapur.
"Apa mom..".
"Kemari sebentar..mommy butuh bantuan mu," ujar Maura. Alice lalu berjalan menuju dapur.
"Ada apa mom.." tanya Alice.
"Buatin nasi goreng untuk mommy ya, adikmu pengen makan nasi goreng buatan mu," ucap Maura memakan buah yang ada di piringnya.
"Mommy sengaja mau ngerjain aku ya. Jelas-jelas mommy tau aku itu gak bisa memasak" ujar Alice curiga.
"Hei...adikmu memang ingin makan nasi goreng buatanmu. Kamu mau saat lahir nanti adikmu ngiler," ujar Maura.
"Huh...dek, kamu kerjain kakak ya. Kakak tidak bisa masak tau. Tapi demi kamu kakak akan buatkan nasi gorengnya," ujar Alice berbicara didepan perut buncit Maura.
"Terima kasih kakak," ucap Maura menirukan suara anak-anak. Mereka lalu tertawa.
"Mommy tunggu di ruang tengah ya," ujar Maura berjalan membawa buahnya ke ruang tengah.