
"Aku akan memulainya" ujar Davin mendorong miliknya ke dalam milik Maura dengan perlahan.
"Tahan sayang...sedikit lagi hampir sampai eunghhh" desah Davin mendorong miliknya hingga akhirnya seluruh miliknya sudah memasuki lubang hangat milik Maura.
"Bergeraklah.." ujar Maura. Davin kemudian menggerakkan pinggulnya dengan perlahan. Ia tidak ingin buru-buru karena ingin memberi kepuasan pada istrinya. Maura merancau kenikmatan hingga suaranya menggema di seluruh ruangan kamar mereka. Davin menatap mata Maura yang sesekali tertutup lalu terbuka merasakan kenikmatan yang diberikan Davin.
"Dav...lebih cepat..." ujar Maura menarik kepala Davin ke atas dua gundukan kenyal miliknya, Ia juga ingin Davin memainkannya.
"Kenapa kamu begitu nikmat sayang" rancau Davin merasakan miliknya dijepit oleh milik Maura.
"Dav...Aku...Akuhhhh ingin keluar..." gumam Maura. Davin yang memahaminya semakin mempercepat pergerakannya. Hingga Akhirnya Maura mencapai puncaknya.
"Nikmat bukan..." bisik Davin menatap wajah berkeringat dan merona Maura.
"Sekarang giliran ku sayang..." ujar Davin kembali menggerakkan miliknya. Ia merancau memanggil manggil nama Maura karena rasa nikmat yang menguasai dirinya.
"Kau sangat nikmat sayang, Aku tidak akan berhenti.." rancau Davin. Beberapa menit kemudian Maura merasakan dirinya ingin meledak lagi.
"Tunggu Aku sayang..." ucap Davin mempercepat pergerakannya hingga akhirnya mereka mencapai puncaknya.
"Akhhhh" pekik Davin saat mencapai puncaknya menyemburkan benihnya kedalam milik Maura. Davin menjatuhkan dirinya diatas tubuh Maura. Nafas keduanya menggebu-gebu setelah aktivitas panas mereka.
"Thanks sayang.." ucap Davin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Maura. Maura mengecup lama puncak kepala Davin lalu menyugarkan rambutnya kebelakang.
"Dav..." ujar Maura saat merasakan milik Davin kembali membesar.
"Aku menginginkan mu lagi" ujar Davin kembali melanjutkan kegiatan panas mereka hingga beberapa ronde lagi.
"Dav..sudah ya. Aku capek banget. Apa kamu tidak lelah hmm" ujar Maura dengan nafas yang tidak teratur.
"Aku tidak akan pernah lelah melakukannya sayang. Kamu terlalu nikmat" ucap Davin mengecup bibir Maura.
"Kita istirahat dulu, Aku tau kamu kelelahan" ucap Davin memeluk tubuh polos Maura dari depan.
"Bagaimana Aku bisa istirahat, milikmu masih disana" ujar Maura. Davin kemudian mengeluarkan miliknya.
"Apa kamu menikmatinya?" tanya Davin mengusap punggung Maura.
"Sangat..., Aku tidak mengira kamu masih kuat di usia 40an" balas Maura terkekeh mengeratkan pelukannya.
"Jadi kamu meragukan ku sayang..hmm..." ujar Davin menggelitik tubuh Maura.
"Hahahah...ampun Dav..perut ku sakit sekali.." ujar Maura tertawa. Davi kemudian memeluk kembali tubuh Maura dan mengecup dahinya.
"Sebaiknya kita tidur sayang.." ucap Davin. Keduanya pun tertidur.
Siang harinya Davin terbangun karena mendengar suara pintu ya sedang di ketuk. Perlahan Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Maura. Setelah memakai pakaiannya, Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Tuan makan siangnya" ujar pelayan membawakan makan siang untuk mereka. Sebelumnya Davin sudah menghubungi pelayan agar mengantarkan makansiang mereka ke kamar saja saat Maura sudah tertidur.
"Terima kasih bik" ujar Davin mengambil alih nampan yang berisi makanan dari pelayan.
"Saya permisi tuan" ujar pelayan lalu pergi. Davin menaruh nampan di atas meja kemudian naik ke atas ranjang.
"Sayang...sayang..." panggil Davin menepuk pelan wajah Maura. Wanita itu menggeliat sebentar sebelum membuka kedua matanya.
"Kita makan siang dulu yuk..kamu pasti sudah kelaparan" ujar Davin. Maura lalu bangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.