
1 tahun kemudian
"Mommy...mommy... " panggil Devan turun dari pangkuan Alice, berjalan dengan cepat menuju Maura yang baru saja pulang dari toko bunganya.
"Ouh...hati-hati sayang..nanti kamu terjatuh," ucap Maura menggapai tubuh kecil Devan dan menggendongnya.
"Daddy mu dimana Alice?" tanya Maura.
"Menemani Cecil berenang mom.." jawab Alice memakan cemilannya. Maura lalu berjalan menuju kolam renang untuk melihat suami dan putrinya.
"Mom...liat Cecil udah bisa berenang.." ucap Cecilia kemudian berenang ke tepi kolam menghampiri Maura.
"No boy..., jangan sekarang. Besok saja ya sayang.." ujar Maura saat tau Devan ingin turun dari gendongannya untuk bergabung dengan yang lainnya. Tapi anak itu bersikeras ingin turun.
"Biarkan saja sayang...anak kita sepertinya ingin berenang" ujar Davin
"Tidak sayang..., semalam Devan sudah berenang sangat lama. Aku tidak mau anak kita sakit," pungkas Maura.
"Kamu tidak usah khawatir. Dia akan baik-baik saja, tubuhnya kuat kok," ujar Davin mengambil alih Devan dari gendongan Maura.
"Tapi kan.."
"Sudahlah...jangan khawatir," ucap Davin.
"Hmm...jangan terlalu lama di dalam air. Aku duduk di kursi saja sembari melihat kalian," ujar Maura duduk di kursi meneguk jus yang ada di meja.
Setengah jam kemudian Maura menghampiri suami dan anak-anaknya.
"Berenangnya sudah cukup ya, sekarang kalian naik dan keringkan badan kalian," ucap Maura menenteng handuk ditangannya.
"Dav..tolong keringkan tubuh Cecil," ucap Maura memberikan handuk pada Davin. Sementara itu ia mengeringkan tubuh Devan
"Mom..nen.." ujar Devan menarik baju Maura.
"Kalian mau makan buah tidak? daddy akan ambilkan dari dapur," tawar Devan.
"Iya dad, Cecil juga mau cookies. Ambilkan juga ya dad," ucap Cecil dibalas anggukan oleh Davin.
Davin datang membawa sepiring buah dan cookies Cecilia. Mereka pun menikmati makanan sembari mengobrol. Devan yang sepertinya sudah kelelahan karena berenang sudah tertidur dipangkuan Maura sembari meny*s*.
*********
Malam harinya Maura dan Davin tampak berpelukan sembari bersandar di kepala ranjang. Keduanya sedang menikmati tayangan televisi yang ada di depan mereka.
"Sayang.., bagaimana kalau kamu liburan. Selama kamu liburan, aku yang akan menjaga anak-anak kita. Aku hanya ingin memberimu waktu untuk sendirian. Aku kasihan melihatmu menjaga anak-anak kita selama satu harian. Kamu pasti kelelahan. Apalagi tidak dibantu dengan pengasuh. Masalah kantor, biar Alice yang menanganinya," ucap Davin mengusap lengan Maura.
"Hei...aku tidak pernah lelah mengurus anak kita. Kamu tidak perlu kasihan padaku. Itu sudah menjadi tugas ku. Lagi pula aku hanya menjaga mereka. urusan rumah sudah ada yang mengerjakan," ucap Maura mengusap wajah Davin dengan penuh sayang. Suaminya selalu saja perhatian padanya.
"Dan kalau untuk liburan, aku setuju. Hanya saja aku tidak mau sendirian. Kita harus pergi bersama-sama," pungkas Maura mengecupi leher Davin. Membuat Davin tiba-tiba menatapnya dengan senyum menyeringai.
"Sayang..jangan coba-coba menggoda ku atau kamu tidak akan bisa berjalan besok pagi," ucap Davin menahan kepala Maura.
"Siapa yang menggoda mu. Salahkan saja pikirannya yang selalu mesum," cibir Maura.
"Aku memang selalu mesum jika di dekat istriku yang palang kucintai," ucap Davin menindih tubuh Maura.
"Dav..Apa yang kamu lakukan.." ujar Maura.
"Apa lagi kalau bukan untuk memakan mu," bisik Davin mengecup telinga Maura.
"Tidak..tidak..jangan dulu. Apa pintunya sudah kamu kunci. Aku tidak mau Cecil masuk besok pagi dan melemparkan banyak pertanyaan," ucap Maura. Ia ingat terakhir kali mereka melakukannya, Cecil masuk ke kamar mereka di pagi hari. Untung saja tubuh mereka ditutupi selimut.
"Sudah sayang...tidak usah takut. Kejadian kemarin tidak akan terjadi," ucap Davin memulai aksinya.