My Hottest Duda

My Hottest Duda
Bab 54: Extra part 4



1 tahun kemudian


"Sayang... sayang ... sayang ... " panggil Davin. Maura yang sedang membantu pelayan sedang menyiapkan makan siang untuk mereka.


"Ya.. aku sedang di dapur," ucap Maura dengan suara kuat.


"Bik, tolong di lanjutkan ya. Saya mau lihat mereka dulu," ucap Maura mencuci tangannya di wastafel.


"Baik nyonya," ucap pelayan mengangguk.


Maura berjalan menuju ruang tengah, ia melihat suami tampannya bersama Devan dan Cecil.


"Bagaimana tadi di sekolah sayang?" tanya Maura mengecup kepala Cecil.


"Tentu saja menyenangkan mom bisa bermain-main bersama teman-teman," ucap Cecilia duduk di sofa kemudian merebahkan tubuhnya disana.


"Apa Alice tidak pulang makan siang ke rumah bersama kita?" tanya Maura mengambil alih Devan dari gendongan Davin karena anak berusia dua tahun itu ingin digendong ibunya.


"Sepertinya dia akan makan siang bersama salah satu anak teman bisnis ku sayang. Akhir-akhir ini mereka terlihat dekat," ucap Davin duduk bersandar di sofa.


"Benarkah... apa keduanya sedang menjalin hubungan spesial?" tanya Maura duduk di samping suaminya.


"Aku kurang tau sayang, tapi sepertinya Alice menyukai pria itu," ucap Davin mengambil botol kaca berisi cemilan kemudian memakannya dan membaginya pada putranya.


"Cecil, jangan tidur dulu sayang. Kita akan makan siang sebentar lagi," ucap Maura saat melihat Cecil mengantuk. Terlihat anak itu beberapa kali menguap.


"Tapi Cecil ngantuk mom," ucap Cecil.


"Baiklah, lima belas menit ya sayang. Nanti bisa dilanjut kalau sudah makan siang," tukas Maura.


Maura membuka pintu ruangan olahraga dan melihat suaminya sedang mengangkat barbel. Maura terlihat menggigit bibirnya saat melihat tubuh sexy suaminya yang berkeringat. Otot-ototnya terlihat membuat pria itu semakin sexy di mata Maura. Davin hanya memakai celana sport pendek. Davin tersenyum saat melihat sosok istrinya berjalan mendekatinya.


"Kamu mu olahraga?" tanya Davin. Maura menggelengkan kepalanya. Suaminya yang sudah berkepala empat itu semakin hari malah terlihat seperti muda kembali di mata Maura.


"Aku bangun dan tidak melihatmu di kamar, ternyata kamu ada di sini," ucap Maura duduk di atas kursi kayu mengamati suaminya. Davin meletakkan barbel di tangannya kemudian mengambil sikap pendinginan. Setelah selesai Davin melepas sepatunya dan mengambil minum sembari menghapus keringat di wajahnya.


"Kamu sangat cantik sayang.. " ucap Davin duduk di samping Maura. Davin kemudian mengecup bibir Maura.


"Dan karena itu kamu cinta mati pada ku," ucap Maura tertawa.


"Tentu saja, tapi yang paling aku suka adalah sifat mu," kata Davin memuji istrinya.


"Dan selain itu aku juga suka saat melihat mu tidak memakai apapun.." bisik Davin sukses Maura merona.


"Mesum..." cibir Maura membuang muka.


"Oh ya..." Davin menarik tubuh istrinya ke atas pangkuannya.


"Kalau begitu.. mari kita buktikan perkataan mu tadi sayang..." ucap Davin nakal mere*as salah satu gundukan milik Maura.


"Aku menyesal mengatakannya," balas Maura mengerucutkan bibirnya. Setelah ini, sudah di pastikan jika dirinya tidak akan lolos dari Davin.


"Jangan menyesali sesuatu yang nikmat sayang..." goda Davin mengedipkan salah satu matanya.


"hmmm.... di sini atau di kamar?" tanya Maura langsung ke intinya. Davin terkekeh.


"Di sini saja. Kita belum pernah mencobanya," ucap Davin mencium bibir Maura dengan lembut. Dengan senang hati Maura membalas ciuman suaminya yang memabukkan. Kedua tangan Maura bergerak melepaskan kancing gaunnya dan menurunkannya hingga menyisakan pembungkus dadanya.