
"Loh..Nona Alice pulang ya.." ujar seorang pelayan saat melihat Alice masuk ke rumah.
"Hehehe..iya bik," balas Alice.
"Tumben Nona muda tidak bilang ke Tuan mau pulang. Biasanya kan, Tuan akan bilang supaya dimasakin makanan yang banyak. Bibi jadi tidak enak kalau seperti ini," ujar pelayan.
"Tidak apa-apa kok bik. Lagi pula Alice baru makan kok," ucap Alice.
"Apa daddy tidak dirumah bik?" tanya Alice.
"Tuan ada di atas Nona. Tadi siang Beliau baru saja pulang dari luar kota," ujar pelayan.
"Kalau begitu Alice ke atas dulu ya bik," pungkas Alice berjalan menuju lift rumahnya.
Setelah menyimpan barang-barangnya dikamar, Alice pergi ke kamar Cecilia.
"Lah..Cecil tidur ya.." gumam Alice berjalan menuju ranjang Cecil mengusap rambut Cecilia dan menciumnya. Alice keluar dari kamar Cecil dan mengetuk pintu kamar Davin.
"Dad...dad..apa daddy di dalam?" panggil Alice.
"Loh pintunya tidak ditutup ya.." gumamnya saat menekan gagang pintu.
"Dad..." pekik Alice saat melihat Davin tidur dengan seorang perempuan diatas ranjang. Ia tidak bisa melihat jelas wajah wanita itu. Mendengar suara Alice, Davin dan Maura terkejut dan terbangun. Seketika Maura dan Alice saling berpandangan satu sama lain.
"Dad...ini..ini..." ucap Alice seakan belum sadar atas apa yang dilihatnya. Maura sangat gugup saat ini, apa yang sangat ditakutinya dari dulu akhirnya terjadi juga.
"Alice..A..A..Aku bisa menjelaskannya. Ini..i..ini..tidak__" ujar Maura menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Sebelum Ia selesai berbicara, Alice sudah pergi terlebih dahulu.
"Hikss...hikss..hiksss..ini semua salah ku. Alice pasti marah dan kecewa pada ku," ucap Maura menangis. Davin membawa tubuh Maura kedalam dekapannya.
"Tidak sayang...ini bukan salah mu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku akan menjelaskannya pada Alice nanti," ucap Davin menenangkan kekasihnya.
"Dia pasti membenciku sekarang. Sekarang persahabatan kami sudah berakhir. Ini semua salah ku. Andai dulu aku tidak menerima pernyataan cinta mu, ini pasti tidak akan terjadi. Sebaiknya kita akhiri semua ini," ujar Maura menangis.
"Jangan katakan seperti itu sayang..kumohon. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa tanpa mu. Jangan tinggalkan aku. Aku akan memberi penjelasan pada Alice. Aku tidak peduli Alice setuju atau tidak, aku akan tetap menikahi mu nanti," ucap Davin takut Maura meninggalkannya.
"Aku juga sangat mencintai mu, tapi aku tidak ingin hubunganmu dan Alice menjadi renggang hanya karena aku," pungkas Maura.
"Tidak sayang...ku mohon jangan pernah meninggalkan ku" ucap Davin memohon, Maura menggelengkan kepalanya meskipun sebenarnya Ia tidak rela meninggalkan Davin. Tapi ia juga tidak ingin persahabatannya berakhir. Davin menangkup wajah Maura dan menatapnya. Ia menghapus air mata kekasihnya dan mengecup kedua matanya lalu kecupannya berakhir dibibir Maura. Awalnya hanya kecupan saja, namun entah siapa yang memulai keduanya sekarang sudah saling *******. Salah satu tangan Davin tampak memainkan gundukan besar milik Maura. Merasa kekasihnya hampir kehabisan nafas, ia lalu melepaskan bibirnya.
"Dengarkan aku, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu. Aku benar benar mencintai mu. Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Davin.
"Aku juga mencintaimu, tapi__"
"Kalau begitu ayo kita hadapi bersama," ucap Davin memotong perkataan Maura lalu menyatukan keningnya pada Muara. Wanita itu mengangguk langsung memeluk tubuh Davin.
"Sekarang pakai bajumu, kita temui Alice," ujar Davin mengelus rambut Maura.