
5 bulan kemudian
"Sayang...dimana buahnya," panggil Maura mengelus perut buncitnya. Setelah pulang dari rumah sakit memeriksa perkembangan janin yang ada di dalam perut Maura, wanita itu mengidam ingin memakan buah-buahan.
"Sabar cinta...ini sudah hampir siap," ucap Davin dari dapur.
"Ini buahnya sayang," ujar Davin memberikan piring yang berisi buah.
"Cecil mau buah tidak," ujar Maura pada Cecilia yang sedang bermain boneka di sofa.
"No mom. Cecil gak suka. Buahnya asam telus," ujar Cecilia.
"Kalau yang manis mau gak," tukas Maura.
"Mau mom.." ucap Cecil. Maura kemudian memanggil pelayan untuk mengambil buah pada Cecilia.
"Pelan-pelan makannya sayang. Tidak akan ada yang mengambilnya dari mu," ujar Davin melihat Maura yang memakan buahnya terburu-buru.
"Habisnya enak banget," ujar Maura membuat Davin terkekeh.
"Wanita hamil memang aneh ya," ucap Davin mengelus perut buncit Maura.
"Aku mau makan cakenya dong Dav," ucap Maura menunjuk cake yang ada diatas meja. Davin segera menuruti keinginan istrinya itu. Akhir-akhir ini, nafsu makan istrinya meningkat terus.
"Hai mom..hai dad.." ujar Alice yang baru saja tiba dirumah dengan menenteng beberapa paper bag ditangannya.
"Kamu habis darimana Alice?" tanya Maura.
"Aku dari mall mom, besok kan Alice mulai bekerja di perusahaan daddy. Jadi Alice membeli beberapa pakaian kantoran," ujar Alice.
"Oh ya Aku juga membeli baju baru untuk Cecil" ucap Alice mengeluarkan beberapa pakaian dan mencobanya pada Cecil.
"Alice..ya ampun.., kamu ya..kenapa membeli baju yang banyak untuk adik mu. Baru saja 3 hari yang lalu kamu membelikannya dan sekarang lihat ini. Kamu boros banget sih. Mommy kira hanya satu pasang saja. Baju-baju adik mu masih banyak yang belum dipakai di lemarinya," ujar Maura merepet.
"Hehehe..jangan merepet dong mom. Nanti bayi ya jadi cerewet seperti mommy setelah lahir. Ini yang terakhir. Serius.." ujar Cecilia.
"Awas saja kalau mommy lihat kamu boros, mommy akan bilang sama daddy mu biar atm mu disita," ujar Maura.
"Iya..iya mom..Alice gak akan boros lagi. Tapi sekali sekali bisa kan mom," ucap Alice.
"Kamu selalu saja bilang sekali, tapi ini apa," ucap Maura menunjuk barang belanjaan Alice.
"Hehehehe. Ini yang terakhir deh mom" ujar Alice tertawa.
"Mommy makan apa tuh, aak dong," ujar Alice membuka mulutnya.
"Iss mommy, tapi Aku kan mau disuapi," ujar Alice kesal.
"Kenapa semua orang dirumah ini manja," ujar Maura geleng kepala kemudian menyuapi Alice.
"Kami sangat suka bermanja manja pada mu sayang," ucap Davin merangkul tubuh Maura dari samping.
"Kalian bukan anak kecil lagi seperti Cecil," ujar Maura menyuapi Alice.
"Tapi kami pengen seperti Cecil biar bisa bermanja manja terus sama mommy. Mommy yang terbaik deh pokoknya," ujar Alice memeluk Maura.
"Kenapa Cecil tidak ikut memeluk mommy," ujar Cecilia melihat Davin dan Alice memeluk Maura.
"Ohh...putri kecilnya mommy. Sini sayang..." panggil Maura. Anak kecil itu kemudian naik kepangkuan Davin lalu memeluk Maura.
*************
"Cecil susah tidur sayang?" tanya Davin saat melihat Maura masuk ke kamar mereka.
"Sudah," jawab Maura berjalan menuju meja rias untuk merapikan rambutnya sebelum tidur. Davin turun dari tempat tidur, berjalan menghampiri Maura.
"Sayang Aku menginginkan mu," ujar Davin mengecup leher Maura dari belakang. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya. Maura tampak memejamkan matanya menikmati bibir Davin yang ada di lehernya. Davin mengubah posisi mereka hingga Maura berada diatas pangkuannya dengan duduk mengangkang.
"Dav..pelan-pelan.." ujar Maura meringis saat merasakan tangan Davin menyusup kedalam gaunnya dan mencari benda kesukaannya.
"Aku akan pelan sayang," ujar Davin me*em*s lembut dada Maura, memberi pijatan pijatan ringan.
"Dav.." ujar Maura melenguh kala Ia merasakan permainan tangan Davin di dadanya. Entah kenapa sejak Ia mengandung, Maura sangat suka saat tangan Davin memainkan kedua bongkahan besar miliknya itu. Ia sangat nyaman saat Davin memegangnya. Bahkan sebelum tidur, Maura meminta Davin untuk melakukan pijatan-pijatan ringan di dadanya agar Ia bisa tidur dengan pulas.
"Kamu menikmatinya sayang?" tanya Davin menatap Maura yang memejamkan matanya.
"Hmm..." gumam Maura mer*m*s kepala Davin. Mulut Davin beralih pada puncak dada Maura.
"Ahhh...Dav.." lenguh Maura bergerak tidak nyaman diatas pangkuan Davin. Ia menginginkan hal yang lebih. Davin yang paham langsung menginstruksi istrinya.
"Angkat badan mu sebentar sayang," ujar Davin. Ia kemudian membuka boxernya hingga terpampanglah sudah miliknya yang berdiri tegak.
"Masukkan sayang.." ujar Davin. Maura kemudian menuntun milik Davin ke dalam miliknya.
"Ughh...penuh baget.." ujar Maura merasakan milik Davin tertanam didalam miliknya. Ia kemudian mulai menggerakkan badannya hingga beberapa menit kemudian keduanya mencapai puncak.
"Cukup sayang...Aku tidak ingin kamu dan bayi kita kenapa-napa. Sebaiknya kita tidur" ujar Davin. Meskipun Ia masih merasa kurang. Akan tetapi yang lebih utama baginya adalah istri dan bayinya. Davin kemudian mengangkat tubuh Maura ala bridal style dan membaringkannya diatas ranjang. Keduanya tidur dibawah selimut dengan keadaan polos.