
Siang harinya saat Maura dan Davin sedang berduaan di taman belakang rumah mereka. Keduanya duduk di ayunan dengan posisi Davin tidur dengan kepalanya di atas paha Maura.
"Apa Cecil tidak pulang ya..baru satu hari saja Aku sudah merindukannya.." ujar Maura mengusap rambut Davin.
"Biarkan saja mereka disana untuk beberapa hari ini. Aku ingin bebas berduaan dengan mu tanpa ada anak-anak," ucap Davin. Ia sudah pernah mengajak Maura untuk berbulan madu ke Paris. Hanya saja wanita itu menolaknya karena tidak ingin meninggalkan Cecilia meskipun ada yang menjaganya saat mereka pergi.
"Tapi rasanya sepi kalau tidak ada Cecil di rumah," pungkas Maura.
"Sayang...ayolah..hanya beberapa hari saja," ucap Davin membelai wajah Maura.
Beberapa menit kemudian Maura dan Davin dikejutkan dengan suara Cecilia yang memanggil mereka. Dengan cepat Maura menjauhkan kepala Davin dari dadanya yang sedang bermain main disana.
"Dav Cecil datang," ujar Maura. Davin segera bangkit dan melihat ke belakang, putri mereka sedang berjalan menghampiri mereka. Sementara Maura tampak sibuk merapikan bra-nya lalu mengancingkan bajunya.
"Baru saja kita membicarakannya, anak itu sudah kembali," ujar Davin.
"Mommy," ujar Cecilia naik ke pangkuan Maura.
"Uhh...sayangnya mommy," ujar Maura senang mencium wajah Cecilia.
"Siapa yang mengantarmu sayang.." tanya Davin.
"Aku pulang sama kak Alice dad. Kakak ada di dalam lumah," jawab Cecilia.
"Kalian sudah makan sayang.." tanya Maura mengusap rambut sebahu Cecil.
"Sudah mom. Glandma masak ayam goleng tadi. Cecil dan kak Alice makan banyak" balas Cecilia senang.
"Dad mana adik Cecil?" tanya Cecilia membuat Maura membulatkan kedua matanya karena pertanyaan Cecil.
"Adiknya masih di perut mommy sayang. Kita harus menunggu sampai perut mommy besar dan melahirkan adik untuk mu," ujar Davin lalu Cecil mengangguk.
"Mom..Cecil mau nen," ujar Cecilia. Maura lalu terkekeh melihat putrinya itu. Ayah dan anak sama saja. Maura membuka bajunya dan mengeluarkan salah satu gundukan besar miliknya.
"Mom..kenapa ini melah melah.." tanya Cecilia melihat bagian dada Maura. Sontak Maura menatap Davin. Maura lupa jika semalam Davin membuat banyak tanda di tubuhnya. Davin yang di tatap Maura seakan tidak tau apa-apa.
"I..itu..itu hanya gatal-gatal sayang," ujar Maura terbata.
"Kamu nen saja sayang...mommy tidak apa-apa kok," ujar Maura mengarahkan puncak dadanya ke mulut mungil Cecilia.
"Lain kali jangan buat tanda lagi atau Cecil akan bertanya terus," ucap Maura pelan pada Davin.
"Kalau begitu kamu harus selalu mengingatkan ku," ujar Davin memeluk tubuh Maura dari samping. Davin merasa bahagia setelah bertemu dengan Maura. Hari-hari yang ia jalani terasa lebih cepat ketika Ia bersama dengan Maura.
3 Minggu kemudian
"Sayang....aku menginginkan mu," ujar Davin mengelus punggung tangan Maura naik turun.
"Astaga Dav...apa kamu tidak capek. Tiga minggu ini kita terus melakukannya. Lagian hari ini aku capek, tadi siang aku dan Cecil dari taman hiburan. Besok saja ya," ujar Maura menahan tangan Davin yang mulai menyelusup kedalam gaun tidurnya. Baru saja Ia ingin menutup matanya karena sudah mengantuk tapi Davin mengurungkannya.
"Aku tidak akan pernah lelah melakukannya dengan mu sayang," bisik Davin.
"Baiklah kalau begitu, kita tidur saja," ujar Davin mengecup kening Maura lalu memeluk erat tubuh Maura.