My Hottest Duda

My Hottest Duda
Bab 38 : Mengganggu



Pagi harinya mereka kembali ke rumah Davin. Malam pertama Davin dan Maura tertunda. Tentu saja karena ada Cecilia. Bahkan saat anak itu sudah tidur dan Davin ingin memindahkannya ke kamar Alice, anak itu terbangun. Tiga kali Davin melakukannya namun tetap saja gagal. Sementara itu kedua orang tua Maura dan kakeknya kembali ke rumah mereka yang ditempati Maura sebelumnya. Helen juga sengaja mengajak Cecil ikut bersama mereka agar Davin dan Maura memiliki waktu untuk berduaan.


"Gimana tadi malam? enak tidak? Aku yakin kamu pasti berteriak histeris," ucap Alice pada Maura sembari berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kamu ngomong apa sih Alice..." ujar Maura risih dengan pertanyaan Alice.


"Aishhh..jangan pura-pura gak tau deh mom.." kesal Alice.


"Lah...memang Aku tidak tau apa maksudmu" ucap Maura berjalan mendahului Alice seakan tidak tau arah pembicaraan Alice.


"Mom...mom..jadi kapan adik ku akan bertambah," panggil Alice namun tidak di sahut oleh Maura.


"Ahh sudah lah. Aku yakin sebentar lagi Aku akan punya adik lagi melihat sifat daddy pada Maura," gumam Alice.


"Ceklek," Maura membuka pintu kamarnya dengan Davin. Ia tidak melihat Davin berada disana.


"Dav..." panggil Maura.


"Ada apa sayang.." ujar Davin yang tiba-tiba muncul dari belakang Maura. Kedua tangannya memeluk tubuh Maura dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Maura.


"Tokk...tokk..dad..mom.." panggil Alice dari balik pintu kamar Davin dan Maura.


"Astaga...kenapa anak-anak ku tidak bisa membiarkan ku berduaan dengan mu sedikit pun," kesal Davin mendengar pintunya diketuk. Maura terkekeh mendengar kekesalan Davin.


"Buka pintunya sana.." ucap Maura. Davin Akhirnya membuka pintu dengan raut wajah yang kesal.


"Ada apa?" tanya Davin dengan wajah datarnya.


"Dad..Aku mau ke rumah grandma dan menginap disana dengan Cecil," ujar Alice seketika mengubah raut wajah Davin.


"Ya sudah, kamu pergi saja. Hati-hati jika mengemudi sendiri," ucap Davin merasa senang.


"Oke dad, Aku pergi dulu. Bye mom," ujar Alice lalu pergi. Davin kemudian mengunci pintu kamarnya. Ia berjalan mendekati Maura dengan senyum smirknya.


Ia mendorong tubuh Maura hingga bersandar pada dinding kamar. Dengan cepat, Davin meraup bibir Maura yang menjadi candunya itu. Membawanya kedalam ciuman lembut dan dalam. Maura selalu saja terbuai dengan ciuman Davin. Kedua tangan Davin sibuk memberikan pijatan lembut pada kedua dada Maura.


Davin mengangkat tubuh Maura dan membawanya ke atas ranjang tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Bibir Davin turun menyusuri leher jenjang Maura dan memberi tanda kepemilikannya disana.


Maura melenguh kala Davin me*e*as salah satu gundukan miliknya. Davin yang tidak tahan langsung membuka gaun Maura hingga menyisakan **********. Davin melepaskan bra milik Maura hingga menampilkan benda ranum kesukaannya. Ia tampak menelan salivanya susah payah.


"Aku malu tiap kali kamu menatapnya seperti itu," ujar Maura dengan pipi yang merona.


"Mereka sangat indah dan terlalu menggairahkan sayang," ucap Davin tak sabar langsung meraup salah satu gundukan besar itu.


"Enghh..Dav..." lenguh Maura menekan kepala Davin ke dadanya sambil menyugarkan rambut Davin kebelakang. Cukup lama Davin bermain-main disana hingga Ia berdiri dan membuat Maura seperti kehilangan kenikmatannya.


"Sabar sayang," ujar Davin mengetahui Maura yang sudah begitu menginginkannya seperti dirinya yang juga menginginkan Maura. Ia melepas boxernya lalu kembali menindih tubuh Maura.