
"Oke sayang..ini udang untuk mu. Selamat makan," ujar Maura duduk di kursinya. Sejak tadi Anita hanya menatap tidak suka dengan interaksi keluarga bahagia yang ada di depannya. Hingga Maura menyadari jika mereka sedang diamati. Sedangkan Davin, ia tidak peduli dengan Anita yang ada disana.
"Anita..kenapa belum makan juga, apa kamu tidak suka dengan makanannya.." ujar Maura namun tidak ditanggapi oleh Anita.
"Kamu terlalu baik, lain kali tidak usah peduli dengannya. Dia saja tidak peduli dengan mu," ucap Davin.
"Aku harap kamu meninggalkan rumah ini besok. Sebaiknya kamu cari mangsa yang lain saja. Saya tau maksud kamu datang kerumah ini. Aku sudah membelikan mu tempat tinggal, besok kamu akan diantar supir kesana," ucap Davin jengkel melihat Anita yang ada di depannya. Ingin rasanya Ia segera mengusir wanita itu kalau saja ini bukan malam hari.
"Apa maksud mu kak.."
"Sudahlah, tidak perlu polos didepan ku Anita. Aku tau kamu seperti apa. Tapi sekeras apa pun kamu berusaha, aku tidak akan berpaling dari istriku," ujar Davin membuat Anita terdiam.
Setelah selesai makan malam Davin bersama istrinya berada diruang keluarga menemani Cecilia dan Devan yang bermain main.
"Apa Anita menyukaimu? dari caranya Aku bisa melihatnya," ujar Maura.
"Begitulah..." balas Davin mengangkat kedua bahunya.
"Wow...sejak kapan," tanya Maura.
"Sudah cukup lama," ujar Davin.
"Bagaimana dengan perasaanmu padanya," tanya Maura sedikit ada ketakutan dalam dirinya.
"Apa kamu takut aku meninggalkan mu hmm. Kamu jangan khawatir. Hatiku hanya milik mu seorang. aku tidak pernah menyukainya," ucap Davin mencium kening istrinya.
"Yang ada itu aku yang takut kamu pergi meninggalkanku," ujar Davin memeluk Maura.
"Aku terlalu mencintaimu, bagaimana bisa aku meninggalkan mu" balas Maura membuat hati Davin bahagia. Devan berjalan merangkak menghampiri Davin dan Maura.
"Nen..." gumam anak itu menepuk-nepuk dada Maura.
"Haus ya nak.." ujar Maura dibalas anggukan oleh Devan. Maura lalu mengangkat tubuh Devan kepangkuannya dan memberinya ASI. Sementara itu Cecilia tampak bermain sendiri. Davin menjahili putranya saat minum susu.
"Sayang..jangan diganggu dong, lihat..dia mulai kesal," ujar Maura.
"Kamu ya, udah dibilangin ngomong itu disaring..." ujar Maura.
"Itu fakta sayang...." ucap Davin santai. Biasanya tiap malam sebelum Devan lahir, Davin selalu memainkan dua benda kenyal milik istrinya itu.
"Udah ah..lepasin tangan kamu dari sana, anak kita sepertinya mau tidur," ujar Maura.
"Cecil...udah mainnya ya sayang. Ini udah waktunya tidur," ucap Maura.
"Oke mom, Cecil rapikan mainannya dulu," ujar Cecilia. Maura selalu mengajarkannya untuk merapikan mainannya ketika sudah selesai memakainya.
"Kamu tidurkan Cecil ya sayang..." tukas Maura dibalas anggukan oleh Davin.
Davin kemudian membawa Cecilia ke kamar untuk menidurkannya. Sedangkan Maura menidurkan Devan di kamar yang berbeda.
"Ceklek.." Davin masuk ke kamar si kecil.
"Sayang..., ayo ke kamar kita. Putra kita sudah tidur kan," ajak Davin.
"Akh...kenapa kamu tiba-tiba mengangkat tubuh ku," pekik Maura saat Davin mengangkat tubuhnya ala bridal style.
"Aku ingin memakan mu malam ini," ucap Davin membawa Maura keluar dari kamar Devan.
"APA?" Pekik Maura.
"Kita baru melakukannya semalam," ujar Maura tidak habis pikir dengan suaminya itu yang tidak ada lelah dan bosannya. Satu minggu ini mereka bahkan tidak pernah absen melakukannya.
"Itu semalam sayang, malam ini kan beda lagi. Aku janji tidak akan lama," balas Davin menyeringai.
"Tidak...tidak Dav..Aku tidak yakin dengan perkataan mu. Kamu selalu bilang seperti itu tiap kali kita melakukannya," pungkas Maura.
"Salahkan milikmu yang terlalu nikmat sayang," bisik Davin menjatuhkan tubuh Maura diatas ranjang dan menindihnya dan mulai menyerang tubuh Maura. Akhirnya mereka melewati malam panas lagi. Dan tentu saja tidak cukup hanya satu ronde saja.