
1 bulan kemudian
"Sayang...kamu tidur saja, biar Aku yang menjaga putra kita," ucap Davin setelah selesai mengerjakan berkas-berkasnya. Sampai sekarang Devan masih belum menutup matanya. Sepertinya anak itu tidak berniat untuk tidur cepat. Begitulah kebiasaan anak itu dalam 2 minggu ini.
"Tidak usah Dav, sebentar lagi Devan akan tidur. Kamu juga harus bekerja besok," ujar Maura tidak ingin Davin semakin kelelahan.
"Tidak apa-apa sayang, aku tau kamu kelelahan mengurus putra kita. Tidur lah..." ujar Davin mengecup kening Maura.
"Baiklah, kalau Devan belum tidur juga bangunkan aku," ucap Maura membaringkan tubuhnya. Davin naik ke kasur dan membawa putra mereka ke gendongannya. Ia duduk bersandar di kepala ranjang.
"Jagoan daddy kok belum tidur sih..." ujar Davin pada Devan. Anak itu hanya tersenyum saja menanggapi perkataan Davin.
"Tidur ya nak.., mommy mu pasti lelah satu harian ini menjaga mu," ucap Davin menepuk nepuk bokong putranya. Davin mengajak Devan bercerita meskipun anak itu tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya hingga akhirnya Devan tertidur.
"Untung saja sudah tidur," gumam Davin yang sudah mengantuk juga. Ia kemudian menidurkan Devan di box bayi.
"Good night sayang.." ucap Davin mengecup puncak kepala Maura.
Pagi harinya Maura bangun dan melihat kamarnya yang kosong. Matanya melirik jam di dinding sudah menunjuk pada angka 9.
"Ya ampun..pantas saja tidak ada orang disini. Sudah jam 9 ternyata," ujar Maura bangun dari tempat tidur. Hari ini Ia bangun lebih lama tidak seperti biasanya. Mungkin saja itu karena badannya kelelahan mengurus Devan satu harian. Ia melangkahkan kakinya menuju balkon sekedar untuk menghirup udara segar. Pandangan Maura tertuju ke bawah saat melihat Suami dan anak-anaknya tampak sedang bersama di taman depan.
"Bahagia banget sih aku punya mereka," gumam Maura tersenyum bahagia.
Beberapa menit kemudian Maura turun dari kamarnya, ingin bergabung dengan yang lainnya.
"Mom.." panggil Cecilia yang melihat Maura mendekati mereka.
"Hai sayang...tadi yang bangunin siapa?" ujar Maura mencium wajah Cecil. Biasanya Ia yang membangunkan anak itu dan memandikannya.
"Pintarnya anak mommy," tukas Maura.
"Kalian udah makan belum?" tanya Maura.
"Belum mom, kata daddy kita mau makan di luar. Tapi tunggu mommy bangun dulu," ujar Cecilia.
"Ya ampun.., kenapa tidak membangunkan ku Dav. Anak-anak pasti sudah lapar," ujar Maura dengan wajah marah pada Davin.
"Aku tidak ingin membangunkan mu, kamu tidur sangat pulas sayang. Tadi mereka sudah makan roti kok, kamu tenang saja," ucap Davin tau istrinya khawatir pada anak anak.
"Dad mommy udah bangun, kita pigi yuk," ajak Alice.
"Ya sudah ayo.." ajak Maura.
"Mom biar Alice yang menggendong Devan ya.." pinta Alice saat Maura ingin mengambil alih Devan dari gendongan Davin.
"Yang gendong Cecil siapa dong.." ujar Cecilia dengan cemberut memajukan bibirnya.
"Ooo..si kakak ingin digendong juga," ujar Maura terkekeh melihat wajah cemberut Cecilia. Maura menyadari sejak kelahiran Devan waktunya untuk Cecil berkurang.
"Kan ada mommy.." ujar Maura merentangkan kedua tangannya.
"Sayang...kamu baru satu bulan melahirkan jangan lupa itu," ujar Davin mengingatkan Maura.
"Biar daddy saja yang menggendong mu ya.., mommy belum bisa," ujar Davin dibalas anggukan oleh Cecilia.