My Destiny: The Beginning

My Destiny: The Beginning
Chapter 6. Makan Siang



...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....


Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka kesal dan kenapa mereka menutup telinga?


Dua menit kemudian ...


Sekarang, kenapa mereka semua senang? Ada apa dengan kelas ini?


Pertanyaan-pertanyaan dari Ameliya seketika muncul, karena dia tidak tau apa yang sedang terjadi di sekolah barunya.


Amelia dan Ameliya melihat ke arah Ringo yang sedang melepaskan penyumbat telinga dan mereka melakukan hal yang sama juga. Amelia dan Ameliya mengembalikan penyumbat telinga yang dipinjamkan sama Ringo.


"Ini, penyumbat telinga yang kamu pinjamkan sama kami tadi." Ucap Ameliya.


"Ambil saja. Permisi." Dengan jawaban yang singkat, Ringo memberikan penyumbat telinga yang ia pinjamkam kepada Amelia dan Ameliya. Lalu, Ringo membawa bekal makan siangnya dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ada apa dengan dia? Apakah kita membuat dia marah? Kakak, apakah dia membenci kita?" Tanya Ameliya.


"Kakak juga tidak tau." Jawab polos Amelia.


Saat Amelia melihat Ringo yang pergi meninggalkannya, Amelia mengingat seseorang yang berada di masa lalunya. Apakah dia adalah ....


Lalu murid-murid berdatangan ke meja mereka dan mengajak mereka berdua untuk makan siang bersama di kantin.


"Eh Amelia, ayo kita makan di kantin."


"Ayo Ameliya, makan bersama kami di kantin."


"Ayo, ayo, makan siang bareng kami di kantin, yuk. "


"Ayo, ayo."


"Eh, ha? I-iya ayo ke kantin bersama." Jawab Ameliya yang menerima tawaran mereka.


Ameliya mengajak Amelia untuk pergi bersamanya ke kantin. "Ayo kakak. Kamu ikut juga."


"Baiklah, saya akan ikut. Permisi."


Mereka pun pergi ke kantin. Saat berjalan ke kantin, murid-murid mulai memuji kecantikan mereka dan seragam mereka yang masih memakai seragam sekolah SchoolCity 02.


"Kamu cantik sekali ...."


"Apakah itu seragam dari sekolah SchoolCity 02? Sekolah itu 'kan sangat bergengsi."


"Rambut yang indah ...."


"Aku suka sama cewek dingin itu."


"Oh yang itu? Kalau aku sukanya sama kamu."


"Eh, benarkah?"


"Iya, benar."


"Serius?"


"Iya, serius."


"Demi apa?"


"Demi cintaku pada dirimu."


"Aku cowok dan kamu cewek. Kalau begitu, ayo kita pacaran."


"Kyaaa ...!! Aku mau ...."


Saat berada di kantin, semua mata memandang ke arah Amelia dan Ameliya. Mereka mulai memuji kecantikan mereka dan menempatkan mereka ke meja yang sudah disiapkan sebelumnya.


"Cantik sekali ...."


"Apakah itu dua murid pindahan yang baru pindah?"


"Aku dengar, mereka murid pindahan dari sekolah SchoolCity 02."


"Benarkah? Dulu aku juga ingin sekolah di sana, tapi sayangnya aku tidak lulus saat tes masuk."


"Yang sabar, ya."


"Iya, terima kasih."


"Tapi, berkat kamu masuk di sekolah SMA ini, kamu bisa berjumpa dengan aku."


"Kamu benar."


"Yang mana kakak dan yang mana adiknya?"


"Aku harap, salah satu dari mereka menjadi pacarku."


"Mimpi jangan terlalu tinggi. Nanti kalau jatuh bakalan sakit."


"Ayo, ayo. Silahkan duduk di sini." Ucap salah satu murid yang menawarkan tempat untuk Ameliya dan Amelia yang sudah disiapkan sebelumnya.


Saat Amelia ingin duduk, kebetulan Amelia melihat cowok cuek tadi yang sedang makan siang sendirian. Lalu, Amelia menghampirinya dan meninggalkan mereka.


"Boleh saya duduk di sini?" Tanya Amelia.


"Silahkan." Jawab cuek Ringo.


"Terima kasih."


Ameliya melihat kakaknya yang duduk bersama Ringo, dan Ameliya ikutan duduk di dekat Ringo.


"Kakak, kamu makan di sini? Aku juga ikut. Hei ... kamu, boleh aku makan di sini?" Tanya Ameliya.


"Silahkan." Jawab cuek Ringo.


"Terima kasih ...."


Lagi dan lagi. Ameliya duduk di sebelah kiri dan Amelia duduk di sebelah kanan aku. Akibat itu, para murid melihat aku dengan tatapan iri. Aku ingin pergi dari sini, namun ibu melarangku karena itu dianggap tidak sopan.


"Hei kamu, kok melamun? Kenapa kamu tidak makan?" Tanya Ameliya.


"Maaf."


"Apa kami mengganggu kamu?"


"Tidak."


"Apa makanan kamu itu enak?"


"Iya."


"Iya."


"Apa enak?"


"Iya."


"Beneran enak?"


"Iya."


"Boleh aku coba?"


"Iya. Eh, apa?"


Ameliya terus menanyakan pertanyaan kepada Ringo dan karena Ringo selalu menjawab 'iya', akhirnya dia dijebak oleh Ameliya.


"Terima kasih. Aku ambil ini, ya. Selamat makan."


Ringo menghela napasnya dan menahan amarahnya. Sabar, sabar. Ingat, dia itu murid pindahan. Jika aku pukul dia, pasti aku akan dihabisi sama murid-murid yang tergila-gila dengan kecantikan mereka. Lagian ibu mengajarkan aku, 'Semarah apapun kamu terhadap wanita, kamu tidak boleh menggunakan kekerasan.' Aku harus tetap tenang, sabar, tahan emosi. Ringo, kau harus tenang.


"I-ini enak sekali ...! Apa ini ...? Aku harap, aku selalu memakan ini saat sarapan."


[Tahu adalah makanan yang dibuat dari endapan perasan biji kedelai yang mengalami koagulasi.]


"Yang kau ambil itu adalah tahu."


"Tau?"


"Bukan. Itu tahu."


"Tau?"


"Bukan. Itu tahu."


"Rumah?"


"Itu bahkan bukan makanan. Baiklah, ikuti aku. Ta ...."


"Ta ...."


"Hu ...."


"Hu ...."


"Ta ... hu ...."


"Ta ... hu ..., tahu ...?"


"Iya, benar. Kau suka?"


"Iya, Aku sangat suka ...."


"Baiklah, ini untuk kau." Ringo memberikan semua tahunya kepada Ameliya.


"Eh? Apa ini?" Tanya Ameliya yang kebingungan.


"Kau suka tahu yang dimasak oleh ibuku, aku sangat senang. Jadi, aku memberikan tahu ini semua kepada kau. Apa kau tidak suka?"


"Apa?! Tidak suka? Aku bersyukur karena kamu memberi semua tahumu kepada aku. Aku sangat suka. Terima kasih."


Setelah Ameliya mengatakan itu, Ameliya langsung memeluk Ringo.


"...." Ringo terkejut dan tidak bisa berkata-kata. Karena, yang pernah memeluknya adalah ibunya sendiri.


"APA ...?!!"


Akibat kejadian itu, murid-murid yang berada di kantin langsung heboh dan tidak percaya apa yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri.


"Ameliya, lepaskan dia. Kau membuat kehebohan lagi. Lihat yang kau peluk itu, dia kesusahan untuk bernafas." Ucap Amelia yang menyuruh Ameliya untuk melepaskan pelukannya.


L-lagi? Batin Ringo yang kebingungan apa yang dimaksud Amelia.


Lalu Ameliya melihat wajah Ringo yang mulai berwarna kebiruan dan langsung melepaskan pelukannya. "Eh, maaf. Aku tidak sengaja. He he he he ...."


Ameliya kembali berucap.


"Oh, iya. Kita belum kenalan. Siapa nama kamu?" Tanya Ameliya.


"Nama aku adalah Ringo, Amai Ringo. Panggil aja aku Ringo."


Ameliya langsung memuji namanya. "Ringo? Amai Ringo? Nama yang bagus."


Amai? Ringo? Apakah dia adalah .... Batin Amelia yang sedang mencurigai nama Ringo.


"Baiklah. Ayo kita makan." Ucap Ameliya.


"Selamat makan." Ucap Amelia.


Ameliya memakan tahu yang diberikan oleh Ringo dan sangat menikmatinya. "Ini enak sekali. Aku suka, aku sangat suka."


Ringo melihat bekal mereka berdua yang sangat mewah dan sepertinya sangat lezat.


ltukan Nanas lost garden of heligan yang harganya 212 juta, i-itu daging Wagyu A5 yang harga 1 kilogramnya sekitar 7 sampai 14 juta, dan itu pink lettuce atau pink radicchio (selada merah muda) yang harga 500 gramnya ditaksir sekitar 140 ribu. Buah, daging dan sayur hampir 227 juta. Itu baru makanannya saja belum lagi minumannya. Ringo terkejut melihat bekal makan siang mereka yang mahal dan Ringo penasaran minuman apa yang diminum mereka dan harganya berapa.


"Aku haus sekali, sebaiknya aku minum dulu." Ucap Ameliya yang sedang kehausan.


Ringo berusaha melihat Ameliya yang mau minum dan berusaha untuk tidak ketahuan melihat Ameliya. Baiklah, kita lihat dia minum apa. Oke, dia mulai mengangkat botol minumnya yang berwarna pink. Dia mulai meminumnya. Dia sudah meminumnya. Dia meletakkan botol minumnya. Tapi, aku tidak tau apa yang dia minum. Pasti dia tidak minum air putih.


"Segar ..., air putih memang terbaik." Ucap Ameliya.


A-air putih!? Mungkin dia takut kalau berat badannya naik, makanya dia minum air. 'Kan salah satu manfaat minum air putih yaitu mencegah kenaikan berat badan. Maaf Ameliya, karena aku telah berburuk sangka sama kau.


"Kakak, kamu mau tahu?" Tanya Ameliya.


"Iya." Jawab Amelia.


"Tapi, tahunya tinggal satu."


"Tidak apa-apa."


"Ini, Kak." Ameliya langsung memberikan tahu yang diberikan Ringo tadi. Saat Ameliya ingin meletakkan tahu ke tempat bekal Amelia, Ameliya langsung memakannya. "Tapi bohong. Ha ... ha ... ha ... ha...."


Saat Ameliya ketawa, dia melihat wajah kakaknya yang tanpa ekspresi tahap dua. Ameliya ketakutan karena wajah kakaknya yang tanpa ekspresi tahap dua itu menandakan bahwa dia sedang marah.


Gawat!


Ringo melihat Amelia yang berharap ingin merasakan tahu yang dimasak ibunya. Namun tidak bisa, karena semua tahu sudah dimakan Ameliya.


"Jangan marah, besok akan aku bawakan lebih banyak lagi untuk kalian." Ucap Ringo yang sedang membereskan bekal makan siangnya dan langsung meninggalkan mereka.