
...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....
Mereka semua sudah selesai makan malam, saat ibu ingin membereskan semuanya. Atsui menawarkan diri untuk membantu ibunya Ringo. "Biar aku bantu, Tante ...."
"Terima kasih, Atsui."
Aku melihat pemandangan yang sangat bagus. Biasanya cuman Suika saja yang membantu, tapi sekarang Atsui ikut membantu Ibuku. Suasana yang sangat nyaman, seperti istri membantu ibu mertuanya. Ya, beg — Tidak, tidak, tidak! Aku tidak boleh terlalu terbawa suasana.
Meja makan sudah bersih dan tinggal piring kotor yang terletak di kitchen sink. Atsui melihat ibu yang bersiap untuk mencuci piring kotor, Atsui menghampiri ibu dan ingin membantunya. "Tante, biar aku bantu."
"Tidak perlu, Atsui. Kamu di sini sebagai tamu, jadi gak perlu repot-repot."
"Tidak apa-apa, Tante. Ini sebagai ucapan terima kasih, karena Tante sudah mengizinkan aku untuk menginap di sini. Jadi, biar aku bantu. Ya, Tante ...."
"Yaudah. Terima kasih, Atsui."
"Sama-sama, Tante."
Ringo melihat Atsui yang membantu ibunya untuk mencuci piring kotor. Ringo mulai mengubah pandangannya terhadap Atsui. Ternyata sifat Atsui ceria, walaupun dia mengejutkan aku, menggoda aku. Tapi, dibalik semua itu, ternyata dia adalah anak yang baik.
Saat mereka berdua mencuci piring kotor bersama, Atsui mulai menceritakan cerita yang lucu hingga membuat ibu tertawa. "Atsui, Atsui, ternyata kamu memang orang yang bisa membuat orang lain tertawa, ya ...."
"Iya, Tante. Hehehe ...."
"Terima kasih, karena cerita kamu itu sudah membuat Suika tertawa lagi."
"Suika?"
"Iya, Suika. Dia adalah anak angkat ibu dan adik angkat Ringo."
"Oh, ternyata itu adalah adik angkat Ringo. Aku pikir, itu adik kandung Ringo. Tapi ... kenapa dengan Suika, Tante?"
Ibu mulai menceritakan saat pertama kali berjumpa dengan Suika. "Ibunya Suika adalah teman Ibu waktu SMA di sekolah SchoolCity 01. Pada saat tengah malam, seluruh keluarga besar teman Ibu sedang tidur dan ada tiga orang yang sedang mabuk melempar lima bom yang mengakibatkan seluruh keluarga besar teman Ibu meninggal. Atsui selamat, karena waktu itu dititipkan pada Ibu. Jadi, Ibu yang mengasuh dia sampai sekarang." Ucap ibu yang meneteskan air matanya saat selesai menjelaskan.
Atsui mendengar penjelasan dan membuat dia berhenti sejenak. Dia melihat ibu yang sedang menangis dan merasa menyesal karena telah menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dipertanyakan. "Tante, maafkan aku. Gara-gara aku, Tante jadi menangis."
"Tidak apa-apa." Ucap ibu sambil mengelap air matanya yang keluar.
Kebetulan saat ibu menjelaskan tentang Suika. Suika mendengar semuanya, dia berlari dan masuk ke kamarnya. Ringo melihat itu dan menghampiri Suika untuk menghiburnya.
Ringo masuk ke kamar adik angkatnya dan melihat Suika yang sedang menangis. Ringo duduk di sampingnya dan mencoba untuk menenangkannya. "Hei, sudahlah. Suika jangan nangis, nanti cantiknya hilang, loh ...."
"S-Suika sedih, karena kalian semua b-bukan keluarga Suika. Hiks, hiks ...."
"Jangan sedih lagi, ya ...."
"Ke-Kenapa Kakak Ring dan Ibu tidak memberitahu Suika? Hiks, hiks ...."
"Sebenarnya kami ingin memberitahu Suika. Tapi, Kami merasa kalau Suika belum siap untuk menerima kenyataan ini, karena Suika masih kecil. Jadi, kami akan memberitahu Suika saat sudah dewasa."
"Hiks, hiks ...."
Ringo mengelus kepala Suika supaya dia lebih tenang. "Walaupun Suika adik angkat Kakak. Kakak masih sayang kok sama Suika. Kakak menganggap Suika seperti adik kandung Kakak."
"B-Benaran ...? Hiks, hiks ...."
"Iya, beneran."
Suika langsung memeluk Ringo, karena Suika sangat menyayangi-nya. "Terima kasih, Kakak Ring. Hiks, hiks ...."
"Sama-sama. Yaudah, jangan nangis lagi."
"I-Iya, Kak."
"Oh, iya. Kakak lupa. Bagaimana kalau kita takuti Atsui. Dia 'kan takut dipijat."
"Iya, Kakak benar. Ayo kita takuti dia."
"Ayo. Tapi, lepaskan dulu pelukan Suika."
Suika melepaskan pelukannya dan berdiri. "Ayo, Kak. Selagi dia masih di sini, ayo kita takuti dia!"
"Oke, Kak Ring."
Suika langsung lari untuk menakuti Atsui. Tapi, Suika berhenti dan berbalik melihat ke arah Ringo. "Kakak Ring. Jangan kasih tau siapa-siapa, ya. Kalau Suika sudah tau yang sebenarnya."
"Iya." Mengangguk. Tidak kusangka, kalau emosinya cepat berubah. Aku pikir, Suika akan menangis tujuh hari tujuh malam untuk menstabilkan emosinya, tapi ini hanya perlu beberapa menit saja. Waw, emosi anak kecil mengagumkan.
Suika langsung lari ke dapur dan melihat Atsui bersama ibu yang masih mencuci piring kotor. Suika melihat kaki kiri Atsui yang diangkat. Suika lalu berhati-hati mendekat untuk memukul kaki kiri Atsui. Sedikit lagi, sedikit lagi ....
Pada saat Suika ingin memukul kaki kiri Atsui, dirinya ketahuan. "Eh, Suika. Kamu mau ngapain?"
"Suika mau ini!"
Blam!
Suika langsung memukul kaki kiri Atsui yang keseleo. Atsui kesakitan dan mengejar Suika untuk membalasnya. "Aw ..., kau ini ...."
"Hahaha ..., kejarlah Suika kalau bisa."
Atsui mengejar Suika dengan cara melompat satu kaki dan menahan rasa sakit. "Kau ini ...."
Atsui hampir mendapatkan tangan Suika. Saat Suika hampir menjauh, tanpa pikir panjang Atsui langsung meloncat untuk menangkapnya. Yaaa ....
Bruk ...!
Atsui berhasil mendapatkan Suika, yang membuat mereka berdua terjatuh. Suika ketakutan dan memanggil Kakaknya. "Kakak Ring! Tolong aku!"
Ringo mendengar permintaan tolong dari adiknya. Ringo lalu buru-buru berlari ke dapur untuk menyelamatkan Suika. "Ada apa, Suika!"
Ringo melihat Atsui yang mengelus kepala Suika. Ringo melihat tatapan minta tolong dari Suika untuk menolongnya. "Atsui, lepaskan Suika. Kau membuatnya takut."
"Enggak, aku enggak membuat dia takut, kok."
"Kau yakin? Coba lihat yang benar."
Atsui lalu melihat tatapan Suika yang kasihan. Dia tersentuh dan mulai melepaskannya. Suika langsung cepat-cepat lari untuk berlindung di belakang Ringo. "Tertipu kau. Dasar Atsui bodoh!"
Atsui mendengar hal itu, tapi dia tidak marah. Dirinya berjalan pincang ke arah Ringo untuk menangkap Suika. "Kau imut, kau imut, kau imut, kau imut sekali ...!"
"Menjauhlah! Jangan dekat-dekat!"
"Ayo, jadilah adik Kak Atsui. Ayo, jadilah adik Kak Atsui ...."
"T-Tidak. Suika tidak mau!"
Atsui semakin dekat ke arah Ringo. Suika hanya berlindung di belakang Ringo, karena hanya dia yang bisa menyelamatkannya. Jika Suika lari ke arah ibu, Suika pasti akan tertangkap sama Atsui. "Kakak Ring, tolong Suika ...."
"Sudah, sudah. Atsui, kau membuatnya semakin takut."
"Aku tidak peduli."
"Atsui, bukankah kau seharusnya dipijat sama Ibuku?"
Atsui mendengar hal itu yang membuat keadaan menjadi berbalik. Suika melihat Atsui yang ketakutan dan mulai menakutinya. "Kena pijit. Itu sangat sakit. Kau sudah besar, jadi jangan nangis ...."
Atsui mulai sedikit kesal atas ucapan dari Suika. A-Anak ini ....
"Tunggu sebentar, ya. Ibu siapkan bahan-bahannya."
"T-Tidak perlu, Tante. Kakiku sudah sembuh, kok."
"Kau berbohong. Suika tidak percaya kalau kaki kau sudah sembuh."
"K-Kaki Kakak sudah sembuh, kok."
"Suika tidak percaya! Coba kau buktikan!"
"B-Buktikan? Ya, tentu. Suika ingin yang bagaimana?"
"Tidak sulit. Kau hanya perlu berjalan dari sini sampai ujung dapur lalu datang ke sini lagi. Bisa?"