My Destiny: The Beginning

My Destiny: The Beginning
Chapter 21. Tidak Mungkin Dia Menginap (3)



...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....


Ringo melihat itu dan curiga, kalau itu bukan darah sungguhan. A-Apa?! Tapi ini 'kan hanya roti, berarti itu bukan ....


Ringo lalu mencicipi darah yang keluar dari roti berbentuk kelinci. Atsui melihat hal itu pun merasa jijik dengan apa yang dia lihat barusan. "A-Apa yang kau lakukan, Ringo? Itu ... itu sangat menjijikkan."


Setelah Ringo mencicipi sedikit, Ringo tau kalau itu bukanlah darah melainkan selai stroberi. "Ini bukan darah. Tapi, ini cuma selai stroberi."


Atsui tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ringo. "Kau mencoba membohongi aku? Aku tidak mau memakannya."


"Kau yang pesan dan kau juga yang memilih ini. Jadi, kau harus makan." Ucap Ringo.


"Tidak mau." Ucap Atsui yang menolak.


"Kau harus makan." Ucap Ringo.


Ringo mengambil sendok dan memotong roti berbentuk kelinci punya Atsui, lalu menyuapkannya secara paksa. "Nah, makan ini."


"Hup —! Nyam, nyam ..., k-kau benar. Ini bukan darah, tapi ini selai stroberi dan ini sangat enak ...." Ucap Atsui.


"Yaudah, cepat habiskan." Ucap Ringo.


Atsui memakan roti yang berbentuk kelinci itu dengan sangat lahap. Atsui melihat Ringo yang tidak memakan roti berbentuk kelinci yang Atsui pesan. "Ringo, kenapa kau tidak makan?"


"Karena, aku tidak memesan apa pun. Ini 'kan pesanan punya kau."Jawab Ringo.


"Tenang saja, aku yang bayar. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih aku untuk kau, karena telah mengizinkan aku untuk menginap." Ucap Atsui.


"Baiklah." Ucap Ringo.


"Nyam, nyam ...."


Mereka berdua makan dengan sangat lahap. Dua puluh lima menit kemudian, mereka sudah menghabiskan makanan dan minumannya. Mereka berdiri dan berjalan ke tempat kasir.


"Berapa, Kak?" Tanya Atsui.



"Kamu pesan dua roti berbentuk kelinci. Satu roti berbentuk kelinci harganya satu juta. Jadi, totalnya dua juta." Jawab kasir.


"Oh, cuman dua ju — A-Apa! D-Dua juta? Serius?" Tanya Atsui yang terkejut karena harga pesanannya yang sangat mahal.


"Iya, saya serius. Satu roti berbentuk kelinci harganya satu juta, kamu beli dua. Jadi, satu juta tambah satu juta sama dengan dua juta." Jawab kasir.


"Iya, aku tau kalau itu dua hasilnya dua juta. Maksud aku, kenapa harganya sangat mahal?" Tanya Atsui.


"Karena, bahan-bahannya berkualitas sangat bagus dan juga mahal. Jadi, dibuatlah harganya segitu. Tapi, kamu pasti sudah melihat harganya, 'kan? Sebelum kamu memesannya?" Tanya balik kasir.


Oh, iya. Sebelum aku pesan 'kan, harganya sudah aku lihat. Aku memang bodoh, hehehe .... Batinnya. "Pantas saja rasanya sangat enak." Ucap Atsui.


"Jadi, mau dibayar tunai atau dibayar nontunai?" Tanya kasir.


"Nontunai aja, tunggu sebentar." Atsui membuka tasnya untuk mengambil kartu debitnya. "Ini, Kak." Ucap Atsui yang memberikan kartu debitnya.


Saat kartu debit punya Atsui digesek ke mesin EDC, saldonya tidak mencukupi. "Maaf, kartu kamu saldonya tidak mencukupi jadi tidak bisa digunakan untuk membayar pesanan kamu. Silahkan dibayar dengan tunai saja."


"A-Apa? Saldonya kurang?" Ucap Atsui yang tidak percaya.


Atsui langsung memasukkan kartu debitnya ke dalam tasnya dan mencari uang tunai untuk membayar pesanannya.


Atsui sudah mencari di dalam tasnya, namun tidak ada uang sepeser pun. Atsui semakin khawatir bagaimana caranya dia untuk membayar. Gawat, gawat, gawat, gawat ...! Bagaimana caranya aku membayar? Aku tidak tau bahwa saldoku kurang, lebih parahnya lagi aku tidak membawa uang seperser pun.


Ringo melihat Atsui yang mencari uang di dalam tasnya dengan cemas. Ringo sudah tau, kalau dia tidak bisa membayar pesanannya. aku masih ingat dia berkata, 'Tenang saja, aku yang bayar.' Bayar apaan. Terpaksa aku yang harus bayar pesanannya.


Ringo membuka tasnya dan mengambil kartu debitnya dan memberikan kepada kasir untuk membayar pesanan Atsui. "Ini, Kak. Pakai kartu punyaku saja."


Kasir mengambil kartu debitnya dan digesek ke mesin EDC. "Oke, tunggu sebentar."


"Tidak perlu. Kau tidak perlu menggantinya." Ucap Ringo.


"Oke, ini kartunya." Ucap kasir.


Kasir memberikan kartu debit punya Ringo dan Ringo mengambilnya.


"Terima kasih, karena telah makan di restoran kami." Ucap kasir.


"Sama-sama." Ucap Ringo.


Ringo berjalan ke pintu saat keluar dan memberikan lima bintang untuk toko roti. Karena makanannya sangat enak dan pelayanannya sangat ramah. Oke, ini bagus. Saatnya pulang.


Atsui dan Ringo keluar dari toko roti itu dan pulang ke rumah Ringo.


Diperjalanan, Ringo melihat Atsui yang cemberut. Kenapa dia cemberut? 'kan dia yang minta makan di toko roti itu dan kita sudah makan. Seharusnya senang, 'kan?


"R-Ringo ..., ma-maafkan aku. Karena gara-gara aku, kau yang membayar pesanan aku. Padahal aku yang mentraktir kau, Ringo." Ucap Atsui sedih.


Ringo melihat Atsui yang merasa bersalah dan Ringo tidak tega kalau Atsui yang ceria ini menjadi sedih. "Jangan khawatir tentang pesanan punya kau yang aku bayar. Karena kau, aku telah melihat apa yang tidak pernah aku lihat. Di dalam toko roti tadi, aku melihat roti-roti yang mengagumkan. Aku suka roti yang berbentuk kelinci yang kau pesan, rasanya sangat enak dan aku suka itu. Jadi, terima kasih telah mengajak aku ke tempat itu. Ya ...."


Dak, dig, dug ...


Atsui melihat Ringo yang baru pertama kali tersenyum, entah kenapa jantungnya berdetak dengan sangat cepat. P-Perasaan apa ini? K-Kenapa jantungku berdetak dengan sangat cepat saat melihat senyuman Ringo? Perasaan apa in — Ha ...! Mungkinkah ini perasaan jatuh cinta?! Apakah aku jatuh cinta sama Ringo? Apa karena dia yang membayar membuat aku jatuh cinta? Aneh sekali 'kan, kalau seorang gadis cantik jatuh cinta dengan cowok yang membayar karena gadis tersebut tidak mempunyai uang. T-Tidak mungkin, itu tidak mungkin.Tapi, perasaan tidak pernah berbohong, 'kan? Tapi ....


Ringo melihat ke samping namun Atsui tidak ada di sampingnya. Eh? Mana dia?


Ringo kebingungan dan sedikit khawatir. Mana dia? Apa jangan-jangan dia hilang? T-Tidak mungkin. Kalau dia hilang, itu akan sangat merepotkan.


Ringo menjadi sangat khawatir, Ringo melihat ke atas, bawah, kanan, kiri, dan depan, masih tidak melihat Atsui. Saat Ringo melihat ke belakang, ternyata Atsui sedang berdiam diri. Eh, itu dia. Buat aku khawatir aja. Tapi, kenapa dia diam di situ, ya? Dan kenapa wajahnya memerah?


Ringo kebingungan dan berjalan ke arah Atsui. Saat sudah sampai, Ringo melihat wajah Atsui yang memerah. "Hei, Atsui. Kenapa wajah kau memerah? Apa kau sakit?"


"T-Tidak. M-Mana mungkin aku sakit." Ucap Atsui.


"Yaudah, ayo jalan lagi. Sebentar lagi akan gelap. Jadi, ayo cepat-cepat pulang ke rumahku." Ucap Ringo.


"I-Iya. Baiklah." Ucap Atsui.


Saat mereka berjalan, Atsui tiba-tiba terjatuh dan itu membuat Ringo biasa saja. Karena Ringo berpikir kalau itu cuman bohongan saja. "Hey, jangan pura-pura. Ayo, cepat berdiri."


"Aku tidak berpura-pura, sepertinya kakiku keseleo." Ucap Atsui.


"Tidak mungkin kaki kau tiba-tiba keseleo." Ucap Ringo yang tidak percaya.


Ringo melihat wajah Atsui yang serius dan sepertinya dia berkata jujur. Ringo lalu mendekatinya dan memeriksa kaki Atsui yang katanya keseleo. "Kaki sebelah mana yang keseleo?"


"Kaki kiri." Jawab Atsui.


Ringo memegang kaki kiri Atsui untuk melihat seberapa parahnya. Tapi, saat Ringo baru memegang kaki kiri Atsui, Atsui kesakitan. "A-Aduhh ... sakit ...."


"Maaf." Ucap Ringo.


Ringo kembali berucap.


"Yaudah, biar aku gendong belakang saja. Cepat naik."


"B-Baiklah." Ucap Atsui.


Ringo lalu menggendong Atsui dan mulai mengejeknya. "Ternyata kau sangat berat."


"A-Aku tidak berat." Ucap Atsui.


Atsui melihat Ringo yang sedang menggendongnya dan wajah Atsui semakin memerah. S-Sepertinya ... aku memang menyukainya.