
...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....
Setelah beberapa saat Ringo mencari Wain, dirinya masih tidak menemukan di mana Wain. Polisi yang mengejarnya tadi sudah sampai ke rumah Wain dan kebetulan menemukan Ringo yang sedang putus asa.
"Hey, kau?! Kenapa kau ke sini? Kau tidak tau kalau tempat ini bahaya? Bisa saja dinding di samping kau itu roboh dan menimpa kau." Ucap Polisi yang berjalan ke arah Ringo.
"Aku tidak peduli, Pak." Ucap Ringo yang sudah putus asa.
Polisi itu lalu duduk di sebelah Ringo dan mulai menanyakannya, kenapa dia berkata seperti itu. "Kenapa kau bilang seperti itu? Di mana tempat tinggal kau? Biar Bapak antar."
"Di Jalan XX, nomor rumah XX, itu adalah tempat tinggalku, Pak." Ucap Ringo.
"Apa?! Bukankah tempat itu ...." Ucap kaget polisi setelah diberitahu tempat tinggal Ringo.
"Ya, Pak. Bapak benar. Itu adalah tempat ledakan yang sangat besar tadi siang dan memakan banyak korban jiwa. Rumah-rumah dan yang lainnya hangus terbakar. Tempat tinggalku juga ikut terbakar, ibu dan adikku juga telah meninggal akibat ledakan itu. Rumah ini adalah tempat tinggal sahabatku yang bernama Wain. Dia adalah teman sekaligus sahabat aku, Pak. Aku ke sini karena ingin menginap. Tapi, saat di tengah jalan, ada suara ledakan yang sangat besar. Waktu itu aku sangat khawatir, karena suara ledakan itu berada di tempat tinggal Wain. Aku langsung cepat ke rumahnya sampai-sampai aku menerobos police line. Namun, kekhawatiran yang sudah aku rasakan tadi menjadi kenyataan. Kalau, Wain telah meninggal." Ucap Ringo yang sedang menjelaskan sambil meneteskan air matanya.
"Maaf, Bapak tidak tau. Sudah, sudah, jangan nangis. Walaupun begitu, kau tidak boleh menyerah karena ditinggalkan oleh orang-orang yang kau sayangi. "Ucap polisi yang mencoba menghibur Ringo.
"Iya." Ucap Ringo yang mengusap air matanya.
"Siapa namamu?" Tanya polisi.
"Ringo, Pak." Jawab Ringo.
Polisi itu mulai memperkenalkan dirinya. "Ringo, ya? Nama yang bagus. Nama saya adalah Dansei Wakai, panggil saja Pak Wakai. Oke?"
"Terima kasih, Pak Wakai." Ucap Ringo.
Pak Wakai mulai menawarkan Ringo untuk menginap di rumahnya. "Sama-sama. Sudah, sudah jangan nangis. Karena, ini sudah malam dan kau tidak tau di mana kau akan menginap. Jadi, untuk sementara apa kau mau tinggal di rumah Bapak? Di sana ada anak Bapak dan sepertinya seumuran denganmu, mungkin kau bisa akrab dengannya."
Ringo menganggukkan kepalanya, karena dia memang tidak tau harus menginap di mana lagi selain di rumah Atsui.
...****************...
Tiga puluh lima menit kemudian, Ringo sudah sampai di rumah Pak Wakai dengan mengendarai mobil.
Ia melihat rumah Pak Wakai yang lumayan bagus. Rumah mewah bergaya klasik modern? Rumah yang sangat bagus. Berbeda dengan rumahku yang sekarang sudah hangus terbakar.
Mereka turun dari mobil dan Pak Wakai mengajak Ringo untuk masuk ke dalam rumahnya. "Ayo, Ringo, masuk."
"Iya, Pak. Terima kasih." Ucap Ringo yang kemudian masuk ke rumah Pak Wakai.
Saat Ringo masuk ke dalam rumah Pak Wakai. Dirinya tercengang melihat barang-barang mewah yang berada di setiap dinding dan lampunya juga besar dan indah.
Pak Wakai dan Ringo sudah sampai di ruang tamu dan menyuruhnya duduk. "Ringo, silahkan duduk."
"Terima kasih, pak." Ucap Ringo yang kemudian duduk di sofa yang sangat nyaman.
Ringo mendengar Pak Wakai yang sedang memanggil anaknya. Yuki? Bukankah itu nama anak perempuan? Berarti ....
Setelah Pak Wakai memanggil anaknya, lalu datang seorang gadis yang seumuran dengan Ringo dan berdiri di samping Pak Wakai. "Ada apa, Ayah?"
Ringo melihat anaknya Pak Wakai. Yuki, semoga saja aku tidak terlibat dengannya.
"Buatkan dua jus anggur rasa susu, ya." Ucap Pak Wakai.
"Baik, Ayah." Ucap Yuki dan pergi ke dapur untuk membuatkan dua jus anggur rasa susu.
Pak Wakai mulai bercerita tentang anaknya kepada Ringo. "Namanya adalah Dansei Yuki. Dia adalah anak Bapak. Lebih tepatnya, dia adalah anak tunggal. Yuki sangat terkenal di tempat sini, dia terkenal karena memiliki penampilan yang bagus dengan wajah yang cantik dan dia sangat ramah terhadap orang-orang sekitar. Banyak laki-laki yang suka sama Yuki, apalagi seumuran denganmu, itu membuat Bapak khawatir."
Ringo lalu menyimpulkan penjelasan dari Pak Wakai tentang anaknya. "Jadi, anak Bapak itu sangat populer di tempat ini, dan itu membuat Bapak khawatir tentang kepopulerannya karena kecantikannya yang membuat banyak laki-laki yang tergila-gila dengan anak Bapak."
Setelah Pak Wakai mendengar penjelasan dari Ringo, ia berpikir kalau di hadapannya ini adalah anak yang pintar. "Ya ... maksud Bapak seperti itu. Pintar juga kau, Ringo."
"Terima kasih, Pak." Ucap Ringo.
"Kau di sekolah, ranking berapa?" Tanya Pak Wakai.
"Satu, Pak." Jawab Ringo.
"Kau pintar juga. Kalau umum, ranking berapa?" Tanya Pak Wakai lagi.
"Satu juga, Pak." Jawab Ringo.
Pak Wakai mendengar hal itu merasa bangga, karena Ringo itu memang orang yang pintar seperti dugaannya. "Seperti dugaan Bapak, kalau kau itu sangat pintar. Berarti, Bapak bisa minta bantuan dari kau 'kan, Ringo."
"Boleh, Pak." Ucap Ringo.
"Kau bisa menjadi guru les Yuki, 'kan?" Ucap Pak Wakai yang butuh bantuan dari Ringo.
Ringo mulai bingung, kenapa dia diminta untuk menjadi guru les Yuki, karena Yuki yang dipikirkan Ringo itu lebih pintar dari dia. "Maaf. guru les? Yuki? Anak Bapak? Maksud Bapak, aku jadi guru les Yuki? "
"Iya, benar. Setiap orang itu 'kan punya kelebihan dan juga punya kekurangan. Contohnya Yuki, anak Bapak. Dia juga mempunyai kelebihan dan juga mempunyai kekurangan. Kelebihannya tadi sudah Bapak bilang. Kekurangannya, dia tidak hebat dalam pembelajaran. Sudah banyak Bapak minta guru les untuk membuat Yuki pintar, tapi tetap saja tidak ada yang berhasil. Jadi, dari apa yang kau bilang tadi, Bapak percaya kalau kau bisa membuat Yuki menjadi anak yang pintar. Bapak percaya sama kau, Ringo. Jadi, tolong kau bantu Bapak."
Baru saja aku ingin tidak mau terlibat dengannya, tapi Pak Wakai minta tolong padaku. Jadi guru les? Tapi, aku tidak ada pengalaman untuk pekerjaan ini dan aku harus membuat Yuki pintar? Apa aku bisa? Tapi, kalau aku menolak tawaran ini, Pak Wakai bakalan kecewa dan jika Pak Wakai tidak menawarkan aku menginap di rumahnya, sekarang pasti aku menginap di rumah Atsui. Demi membalas kebaikan Pak Wakai, mau tidak mau, aku harus terima tawaran ini. Anggap saja ini sebagai balas budi karena Pak Wakai mengizinkan aku untuk tinggal di rumahnya. Batinnya. "Baiklah, Pak. Aku mau." Ucap Ringo yang sedikit ragu.
Pak Wakai bahagia karena Ringo akan menjadi guru les Yuki. "Terima kasih, Ringo."
"Iya, sama-sama, Pak." Ucap Ringo.