My Destiny: The Beginning

My Destiny: The Beginning
Chapter 26. Tidak Mungkin Dia Menginap (8)



...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....


Beberapa menit kemudian, Atsui dan Suika telah selesai mengisi 14 lubang kecil congklak itu. "Kak Atsui, Suika sudah isi semua 7 lubang kecil congklak ini."


"Aku juga sudah."


"Terus, cara mainnya gimana, Kak?


"Sebelum aku jelaskan, Suika yang main duluan, ya?"


"Suika? Tapi, Suika gak tau cara mainnya."


"Tenang saja, aku akan menjelaskannya."


"Oke. Suika mau main duluan!"


"Sebelum Suika main duluan, aku akan jelaskan bagaimana cara mainnya. Suika dengar baik-baik, ya. Karena, aku tidak akan menjelaskannya lagi. Oke?"


"Oke!"


"Cara mainnya adalah kita memainkan ini secara bergantian untuk memilih 1 lubang kecil congklak milik kita. Kemudian, kelereng kecil pada lubang kecil congklak tersebut dipindahkan satu per satu ke lubang lain searah jarum jam, sampai kelereng kecil dalam genggaman habis."


"Jadi, cara mengakhiri permainan ini bagaimana?"


"Permainan akan berakhir saat kelereng kecil di semua lubang kecil pada congklak ini kosong dan berpindah ke lubang besar congklak."


"Cara menentukan pemenangnya, bagaimana?"


"Menentukan pemenangnya adalah dari jumlah kelereng kecil terbanyak di lubang besar congklak masing-masing pemain."


Atsui selesai menjelaskan tentang permainan congklak. Suika dengan semangat ingin memulai permainan congklak ini. "Ternyata begitu, sekarang Suika paham! Suika akan mulai duluan!"


Ketika Suika ingin mengambil kelereng kecil di salah satu lubang kecil congklak. Atsui tiba-tiba menghentikan tindakan Suika. "Setop!"


Suika heran kenapa Kak Atsui menghentikan langkah pertama main congklak Suika. "A-Ada apa, Kak Suika?"


"Aku hampir lupa. Kita harus menentukan hadiah untuk yang menang dan menentukan hukuman apa yang cocok untuk yang kalah."


Ringo mendengar itu dan mulai menanyakan apa maksudnya. "Atsui, apa maksud kau? Kenapa harus ada hadiah atau hukuman? 'kan, dia baru pertama kali main permainan congklak ini."


"Itu tidak apa-apa. Kalau ada hadiah atau hukuman, permainan ini akan menjadi lebih seru dan menyenangkan."


"Tapi, ini 'kan untuk bersenang-senang."


"Ya, itu memang benar. Tapi, keputusan ada di tangan Suika. Bagaimana, Suika?"


Suika baru pertama kali main permainan ini dan dia langsung menerima tantangan dari Atsui. "Baiklah, Suika terima tantangan dari Kak Atsui."


Prok, prok, prok!


Atsui bertepuk tangan untuk memuji keberanian Suika karena dia telah menerima tantangan darinya. "Bagus, bagus, bagus."


Ringo mendengar pilihan dari suika dan langsung menyemangatinya. "Suika berani juga, ya. Semoga menang, Suika."


"Terima kasih, Kakak Ring."


Ringo memikirkan tantangan dari Atsui, tentang hadiah dan hukuman. Tapi, Atsui belum bilang apa hadiah dan hukumannya. Ringo langsung memberhentikan permainan. "Sekarang, tunggu sebentar."


"Ada apa, Ringo?"


"Kenapa, Kakak Ring?"


"Tentang menentukan hadiah untuk yang menang dan menentukan hukuman apa yang cocok untuk yang kalah belum diberitahukan sama Atsui."


"Oh, iya. Aku lupa, hehehehe ...."


"Dasar kau ini."


"Jadi, apa hadiah dan hukumannya, Kak Atsui?"


"Hehehe ..., bagaimana kalau yang menang hadiahnya adalah tidur bareng sama Ringo dan hukuman yang kalah adalah tidur sendirian. Bagaimana?"


Ringo mendengar kalau hadiahnya adalah tidur bareng bersamanya. Dirinya bingung kenapa harus dia dilibatkan dalam permainan Atsui. "Yang memainkan permainan ini adalah kalian, kenapa aku yang dibawa-bawa?"


"Bagaimana, Suika. Setuju?"


Suika ragu-ragu untuk menjawabnya, Suika tidak ingin orang lain tidur bersama Ringo dan Suika menyetujuinya. "Ba-Baiklah, Suika setuju."


Mana mungkin Suika bisa menang mengalahkanku. Aku yang akan menang dan tidur bareng sama Ringo. Batinnya. "Bagus, sekarang silahkan main duluan."


"Baiklah, Suika mulai!"


"Eitsss ..., tunggu dulu." Atsui menghentikan permainan dan mulai memperbaiki penampilan Suika.


"Eh, a-apa yang Kak Atsui lakukan?" Suika panik karena wajah dan rambutnya di acak-acak oleh Atsui.


"Tunggu sebentar. Ini ke sini, lalu ke situ, terus di situ letakkan ini, terus ...." Ucap Atsui yang membuat penampilan Suika.


Beberapa menit kemudian Atsui selesai mengubah penampilan Suika, lalu dirinya mengambil cermin di dalan tasnya dan menunjukkan kepada Suika.


"I-Ini Suika? Ini beneran Suika?" Tanya heran Suika saat melihat penampilan barunya.


"Yaps, benar. Bagaimana?"


"Cantik dan lucu sekali Suika. Terima kasih, Kak Atsui."


"Sama-sama."


"Kak Ring, bagaimana tanggapan Kakak?"


Ringo melihat penampilan baru dari adik angkatnya yang diubah oleh Atsui lalu mengelus rambutnya. "Adikku sangat cantik dan menggemaskan."


Mendengar tanggapan dari kakak angkatnya, Suika semakin senang dan bersemangat untuk memenangkan permainan congklak. "Baikhlah, Ayo kita mulai."


Suika mengambil langkah pertamanya dan dengan fokus memainkan permainan congklak ini. Demi Kak Ringo, Suika pasti menang!


Ringo melihat mereka bermain permainan congklak ini dengan sangat serius. Mereka benar-benar serius memainkan permainan congklak ini. Apa karena hadiah pemenangnya adalah aku?


Mereka bermain dengan sangat serius sampai dua puluh lima menit kemudian permainan sudah berakhir. "Permainan ini dimenangkan oleh ... Akai Suika ...."



Aku bingung kenapa dia bisa menang, padahal dia baru pertama kali main permainan ini. Kok bisa? Kenapa aku bisa kalah? Kenapa aku bisa kalah sama orang yang baru pertama kali main permainan ini? Kok bisa? Kenapa?


Atsui melihat ke arah Suika dan mulai mengejeknya. "Bagaimana? Suika menang, 'kan? Tadi, apa hadiahnya untuk yang menang? Ayo katakan."


"Tidur bareng sama Ringo." Ucap Atsui yang kecewa.


"Dan kalau yang kalah, apa hukumannya tadi?"


"Tidur sendirian." Ucap Atsui yang kesal.


"Kak Ring, hari ini kita tidur bareng. Ya, Kakak Ring."


Ringo melihat Suika yang senang karena Suika akan tidur bersamanya. Terakhir kali mereka tidur bersama waktu lima tahun yang lalu karena Suika belum mempunyai kamar sendiri. Ketika kamar barunya sudah dibuat, Suika langsung tidur di kamar barunya.


Atsui melihat dengan teliti terhadap Suika dan mulai mencari sesuatu di pakaian Suika. Suika pun terkejut atas tindakan yang dilakukan Atsui. "A-Apa yang Kak Atsui lakukan ...?"


"Suika, apa kau menggunaka alat agar kau bisa memenangkan permainan ini?" Ucap Atsui yang curiga.


"Mana mungkin Suika melakukan hal yang curang."


"Jadi, kenapa kau bisa menang melawanku?"


"Itu mungkin keberuntungan."


"Keberuntungan?"


Ringo melihat situasi yang sedang tidak baik, jadi dia berinisiatif menjadi penengah. "Sudah, sudah, ini hanya sebuah permaianan dan sudah sewajarnya ada yang menang dan juga ada yang kalah. Lagian, aku tidak bermaksud untuk membela Suika, tapi dirinya memang bersih atau bisa dibilang memang menang dengan kemampuannya sendiri. Atsui, kalau kau kalah ya kau harus terima."


"Tapi, aku tidak pernah kalah memainkan congklak ini."


"Mungkin kau bisa minta tolong kepada Suika."


Atsui melihat ke arah Suika dan Suika menunjukkan wajah sombongnya, Atsui tidak tahan dengan penghinaan itu. Aku kalah dengan seorang amatiran dan orang itu adalah Suika. Suika ...!


Atsui menghampiri Suika dengan tatapan tajam yang membuat Suika terdiam tidak bergerak, Atsui tepat berada di hadapannya dan Ringo merasakan hawa negatif dan dirinya mau mencegah sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Namun, Atsui langsung menggelitikkan Suika yang membuat Suika tertawa sampai mengeluarkan air mata karena tertawa. Ringo melihat itu pun heran karena apa yang dipikirkannya berbeda dengan apa yang terjadi.


Saat mereka lagi bersenang-senang, ibu pun pulang sambil membawa kantong plastik. "Ibu pulang ...."


Ibu berjalan ke ruang tamu dan melihat mereka yang masih belum tidur. "Kalian? Kenapa belum tidur?"


Mereka melihat ibu yang baru pulang dan Atsui membantu membawakan kantong plastik yang ibu bawa. "Tante baru pulang? Sini, biar aku yang bawakan."


"Iya, terima kasih."


Suika berlari ke arah ibu dan memberitahukannya kalau dia menang. "Ibu, Suika menang. Suika berhasil mengalahkan Kak Atsui."


"Menang? Main apa? "


"Main congklak, Bu."


"Congklak? Tapi, Suika belum pernah main 'kan? Siapa yang ngajarin?"


"Kak Atsui, Bu. Dia yang ngajarin Suika."


"Benarkah? Atsui yang ngajarin?"


"Iya, Bu. Tadi, saat kami main, Kak Atsui menentang Suika dan ada hadiah bagi yang menang dan juga hukuman bagi yang kalah."


"Apa hadiah dan apa hukumannya?"


"Hadiahnya adalah tidur bareng sama Kakak Ring dan hukumannya adalah tidur sendiri."


"Jadi, Suika tidur bareng sama Ringo dan Atsui tidur sendiri?"


"Iya, Bu."


Ibu mulai sadar dengan penampilan anak angkatnya tersebut "Sekarang, tunggu sebentar. Suika, kenapa kau berbeda? Kau semakin cantik dan imut. Siapa yang merubah penampilan kau?"


Suika merasa senang dengan pujian dari ibu dan mulai menjelaskan dari awal. "Ternyata begitu, ya. Atsui memang berbakat. Terima kasih, Atsui."


Atsui merasa bahagia sekali karena calon ibu mertuanya memuji dia. "Sama-sama, Bu."


Kemudian Ibu menunjukkan jarinya ke arah jam dinding. "Sekarang, coba lihat itu."


Mereka semua melihat jari ibu yang menunjuk ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 23.00 p.m., mereka terkejut karena sudah jam segitu. "Kok bisa?"


"Tentu saja bisa. Karena tadi terlalu asik main congklak, jadi kalian lupa waktu."


"Ternyata begitu. Terima kasih, Ringo."


"Ringo, Suika, dan Atsui silahkan tidur. Besok 'kan sekolah, jadi kalian harus tidur supaya gak kesiangan bangunnya."


"Tapi, aku tidur di mana, Tante?"


"Atsui tidur di kamar Suika. Karena, yang kalah harus tidur sendirian 'kan?"


"Yah ... Tante ...."


"Hahaha ... tidur sendiri. Selamat malam Bu, Kak Atsui."


"Selamat malam, Suika."


"Selamat malam."


Suika memegang tangan Ringo dan mengajaknya untuk menggosok gigi. "Kak Ring, ayo kita gosok gigi dulu. Setelah itu, kita tidur."


"Iya, Suika."


"Atsui , kantong plastik itu tolong diletakkan di meja makan, ya ...."


"Oke, Tante. Aku sekalian permisi ke kamar mandi, boleh Tante?"


"Boleh."


Atsui memasukkan kelereng kecil itu ke dalam kotaknya dan memasukkan congklak lipatnya itu ke dalam tasnya, lalu Atsui membawa tasnya dan pergi ke dapur.


Atsui sampai di dapur, lalu meletakkan kantong plastik yang berisi cabai, bawang merah, dan bawang putih di meja makan. "Di sini saja aku meletakkannya dan sekarang saatnya gosok gigi."


Atsui meletakkan tasnya di meja makan dan membuka tasnya untuk mengambil sikat gigi dan pasta gigi. Setelah mengambil kedua barang tersebut, dirinya pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi.