My Destiny: The Beginning

My Destiny: The Beginning
Chapter 30. Kematian (2)



...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....


Ringo menahan air matanya, karena dia tidak ingin apa yang dipikirkannya itu menjadi kenyataan.


"Hey, kau! Berhenti!" Perintah salah satu polisi yang mengejar Ringo.


Ringo mengabaikan larangan dari salah satu polisi tersebut. Dia terus berlari dan berlari sampai ke rumahnya.


Ketika Ringo sudah sampai di depan rumah, dia melihat rumahnya yang sudah hangus terbakar, dan hampir rata dengan tanah. Dia langsung masuk untuk mencari ibu dan Suika dengan panik. "Ibu! Suika! Di mana kalian?! Ibu! Suika!"


Setelah beberapa menit mencari ibu dan Suika, dia terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. "I-Ibu ...? Su-Suika ...?"


Dirinya melihat ibu yang melindungi Suika dengan cara memeluk, namun mereka sudah mati akibat ledakkan misterius yang mengakibat rumahnya dan rumah yang lainnya terbakar.


Hujan mulai turun dan membuat api yang menyala menjadi padam sehingga membuat asap yang cukup tebal. Dalam keadaan ini, kesedihan Ringo terdengar oleh langit, dirinya tidak tau harus ke mana dan di mana ia harus tinggal.


Ringo mulai memeluk ibu dan Suika, ia menahan rasa sakit akibat luka bakar di tangannya karena tubuh kedua orang yang ia cintai masih terasa panas. "Ibu, bangun. Ringo sudah pulang. Suika juga bangun, Kakak Ring sudah pulang."


Polisi yang mengejar Ringo berhasil menemukannya."Uhuk! Hei, kau? Apa yang kau lakukan?" Tanya polisi.


"Aku hanya membangunkan Ibu dan adikku, Pak." Jawab Ringo.


Polisi itu melihat Ringo yang sangat sulit untuk mempercayai kalau ibu dan adikknya sudah mati. Ka-Kasihan ....


Polisi itu berjalan ke arah Ringo dan memegang bahunya. "Maaf, sekuat apa pun usahamu untuk membangunkan mereka, mereka tidak akan bangun."


"Iya, Pak. Aku tau itu."


Kemudian, polisi itu mengambil Walkie Talkie yang berada di bahunya dan melaporkan kejadian yang baru saja dia lihat. "Lapor, Pak! Saya menemukan dua korban yang telah mati terbakar dan seorang remaja."


"Laporan diterima. Di mana lokasi?"


"Di Jalan XX, nomor rumah XX, Pak!"


"Ambulans akan segera datang."


"Siap, Pak!"


10 menit kemudian, mobil ambulans datang dan paramedis membawa dua mayat itu menggunakan Ambulance Stretcher dan memasukkan ke dalam ambulans. Tangan Ringo di perban menggunakan elastic bandage dan dirinya juga ikut naik ke mobil ambulans, lalu mobil ambulans langsung pergi ke rumah sakit.


Selama diperjalanan, Ringo mengingat pertama kali dia berjumpa dengan Suika. Semakin dia ingat, semakin sakit perasaannya. Adik yang dia sayangi, meninggal di depan matanya sendiri. Ibu yang selalu mengkhawatirkannya, sekarang tidur untuk selamanya.


Selama diperjalanan juga, Ringo melihat taman hiburan yang pernah dia datangi bersama ibu dan Suika. Tempat itu adalah tempat kesukaan Suika. Setiap ulang tahun Suika, mereka semua pergi ke taman hiburan itu. "Taman hiburan itu, sudah menjadi tempat bersejarah bagiku. Di mana tempat itu ada kenangan, tragedi, kesenangan, kesedihan, pertemuan, dan perpisahan. Aku masih ingat, saat Ibu beristirahat di Cafe Coffee. Aku dan Suika pergi ke Rumah Hantu. Saat itu, aku kehilangan Suika. Aku sangat panik, aku terus mencari dan mencari, namun tetap saja tidak ketemu. Tapi, ketika aku sudah pasrah. Aku melihat seorang perempuan cantik yang tidak sengaja menemukan Suika. Dari saat itu aku mulai berteman dengannya. Tapi, ketika dia pulang, aku lupa menanyakan namanya. Jadi ingat masa lalu, hehehe ...."


Paramedis melihat Ringo dengan kasihan. Karena, orang yang dia sayangi telah meninggal di hadapannya dan membuat dia berbicara sendiri. Sangat menyedihkan.


Beberapa saat kemudian, mobil ambulans sudah sampai di Rumah Sakit Pasti Sehat. Suasana yang sangat ramai karena banyak korban atas kejadian tadi dibawa ke sini. Paramedis mulai bergegas membawa mayat ibu dan Suika dan menempatkan ke dalam Ruangan Mayat.


Ketika Ringo ingin memasuki Ruangan Mayat, paramedis itu melarangnya. "Nak, lebih baik kau pulang dulu. Jika kau sudah mendingan, kau datang saja ke sini lagi, ya."


Ringo mendengar itu dan hanya menganggukkan kepalanya, yang menandakan dia mengerti. Kemudian, Ringo di antar pulang sama polisi tadi yang kebetulan ada di Rumah Sakit Pasti Sehat.


"Ringo, Pak."


"Ringo, ya? Nak Ringo, jangan terlalu sedih. Karena, itu tidak bagus. Kau harus keluar dari kesedihanmu dan melanjutkan hidupmu tanpa mereka. Jangan sampai kau terjebak dalam kesedihanmu itu. Karena jika sekali masuk, kau tidak akan pernah keluar. Yang lebih penting lagi, mereka akan ikutan sedih jika melihatmu seperti ini. Bapak yakin, kamu pasti bisa."


"Iya, Pak."


Beberapa saat kemudian, mereka sampai ke rumah Ringo. Polisi itu merasa kasihan kepadanya. Karena, rumah yang dia tempati sekarang, tidak bisa untuk ditempati lagi. "Nak Ringo, apa kau tidak ingin nginap di rumah saudaramu?"


"Tidak, Pak."


Polisi itu mengeluarkan kartu yang berisi nomor teleponnya dan memberikan kepada Ringo. "Jika Nak Ringo butuh bantuan Bapak. Telepon saja Bapak, ya."


"Iya." Ringo mengambil kartu yang diberikan polisi. "Terima kasih, Pak."


"Sama-sama. Bapak pergi dulu."


Polisi itu pergi dan meninggalkan Ringo yang masih dalam kesedihan. "Rumah hangus terbakar, Ibu meninggal, Suika meninggal, aku tidak tau rumah pamanku dan punya ayah gak tau diri! Dia tidak peduli sama keluarganya! Dia! Dia! Dia tidak tau kalau istrinya telah meninggal!"


Saat ini, Ringo dalam keadaan sedih dan marah. Sedih karena ditinggali oleh orang yang dia sayangi dan marah karena punya ayah yang tidak peduli sama keluarganya. Ringo masuk ke dalam rumah yang sudah hangus terbakar untuk mencari barang-barang yang masih bisa dipakai.


Setelah beberapa saat kemudian, Ringo tidak menemukan barang-barang yang bisa dipakai. Semua boneka Suika sudah terbakar, alat-alat yang diciptakannya pun juga sudah terbakar. Kini, yang tersisa hanyalah pakaian yang dipakainya.


Dia duduk di depan rumahnya dan mengingat masa-masa yang sangat menyenangkan dari pertama kali Suika tinggal di rumah ini, pertama kali tidur bareng suika, dan yang lainnya. A-Aku ... a-aku ... aku ....


Ringo mengingat dan terus mengingat dan tanpa disadari, air matanya keluar. A-Air mata? Kenapa ... kenapa aku menangis? Ringo mengelap air matanya. Bukan, bukan saatnya untuk menangis! Sekarang, aku terpaksa harus menginap di rumah Atsui. Karena, tempat itulah satu-satunya yang bisa aku tempati untuk sementara waktu dan juga dia sudah menawarkan aku untuk menginap.


[PJU \= Lampu penerangan jalan]


Sebelum Ringo pergi, dia meletakkan Kamera CCTV Jarak Jauh Tanpa Kabel buatannya di PJU yang kebetulan ada di depan rumahnya. Oke, sekarang sudah aku aktifkan.


Kamera CCTV Jarak Jauh Tanpa Kabel buatannya adalah kamera yang tidak memerlukan kabel. Jika kamera CCTV diaktifkan, otomatis akan langsung terhubung di HP-nya karena buatannya ini berbeda dengan yang lain.


Setelah selesai memasang alat tersebut, Ringo berjalan pergi meninggalkan rumahnya yang sudah hampir rata dengan tanah. A-Aku, aku akan membunuh pelaku dibalik tragedi ini!


Lalu Ringo berjalan di tengah kegelapan yang hanya diterangi cahaya lampu yang hampir kehabisan tenaga, dengan tatapan kosongnya Ringo berjalan menuju ke tempat tinggal Atsui. Perasaan sedih, marah, dan kesal mulai bergejolak di hatinya. Dia ingin melampiaskan kepada takdir karena telah mengambil orang yang paling berharga di dalam hidupnya. Takdir sialan! Takdir tidak berguna! Takdir tidak adil ...!


...****************...


Di tempat tinggal Atsui, kebetulan dirinya yang berjaga di Ruang Kontrol Kamera CCTV. "Kenapa sih, penjaganya harus izin pulang? 'kan jadi aku yang menggantikannya. Udah gak bisa main HP, harus lihat seluruh kamera yang di pasang, dan sangat membosankan. Tapi, kalau ada Ringo pasti sangat menyenangkan. Hehehe ... jadi tergila-gila aku sama dia."


Dua puluh lima menit kemudian ...


Ting ...! Ting ...!


Sinyal bahaya dari CCTV terdengar kuat yang membuat Atsui kaget. "Eh! Ada apa!?"


Atsui menge-cek semua kamera CCTV, namun tidak ada bahaya yang mengancam. dia berpikir dan berpikir, untuk mengetahui di mana CCTV yang berbunyi itu. Aduh ... mana nih? Mana cctv yang bunyi? Dan jantungku, jantungku mulai berdetak dengan sangat ce— Jangan-jangan!