
...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....
Cih ..., anak ini. Pak Suji mulai kesal terhadap Ringo, karena dia telah memberi tau tentang peraturan sekolah kepadanya.
Ringo penasaran terhadap Pak Suji yang tidak seperti biasanya. Ada apa dengannya? Kenapa dia tidak seperti biasanya? Tapi, kok ....
"Sebenarnya, siapa kau?!" Tanya Ringo yang curiga sama orang yang dihadapannya.
"Aku gurumu, kenapa kau bertanya seperti itu dengan nada tinggi, ha?!"
"Bohong. Aku tanya sekali lagi, siapa kau?!"
"Sudah aku bilang, kalau aku ini gurumu! Jangan menanyakan hal yang bodoh, sialan!" Dengan marah Pak Suji menjawabnya.
"Tch, apa kau yakin?"
Ringo kembali berucap.
"Jika benar kau adalah guruku, kenapa kau semarah itu? Lalu kenapa kau mempunyai alat ilegal itu?" Tanya Ringo yang menunjuk ke arah saku baju Pak Suji.
A-apa! Da-dari mana dia tau?! Terus kenapa dia tidak terpengaruh dengan alat ini? Pak Suji yang terkejut karena Ringo tidak terpengaruh dengan alat yang digunakannya.
Ringo melihat ekspresi orang yang ada dihadapannya yang sedang panik dan kecurigaan Ringo semakin kuat, kalau Pak Suji ini bukan gurunya.
"Kenapa? Kenapa diam saja?" Tanya Ringo yang tersenyum sinis.
"A-aku marah karena kau telah melanggar peraturan sekolah dan juga ini bukan alat ilegal, ini hanya sebuah pulpen biasa." Jawabnya yang menunjukkan pulpennya sama Ringo.
"Jika benar begitu, kenapa Bu Ichiba menyuruh aku untuk membawa kotak yang berisi buku-buku lama?" Tanya Ringo.
"M-mana aku tau!" Jawab Pak Suji yang semakin panik.
"Ringo, sudahlah. Jangan diteruskan lagi. Kami semua jadi takut, kecuali kakakku." Ucap Ameliya.
"Diam, Ameliya. Biar aku dan dia saja yang bicara." Ucap Ringo yang menunjuk ke arah Pak Suji
Lalu Ringo melihat ke arah sekelilingnya dan melihat murid yang ada di dalam kelasnya dalam keadaan ketakutan karena Pak Suji yang lagi marah besar, kecuali Amelia yang masih bersikap tenang.
"Jika benar begitu, kenapa kau tidak membawa laptop?" Tanya Ringo.
Pak Suji panik dan mencari alasan. "I-itu karena laptopku rusak!"
Pak Suji kembali berucap.
"Sudah masuk terlambat! Banyak tanya pula kau, sialan! Keluar kau sekarang!" Perintah tegasnya yang mengusir Ringo.
"Bapak mengusir aku? Bapak tidak ada hak untuk itu. Karena, bapak bukan seorang guru. Melainkan bapak seorang sampah!" Ucap Ringo.
"Apa kau bilang ...! Kau berani menyebut guru kau sendiri ini dengan sebutan sampah?! Beraninya kau! Karena ayah kau adalah Tangan Kanan Sang Raja, kau jadi berani membilangi gurumu ini sampah! Kau tarik ucapanmu itu!"
"Guru kok sikapnya seperti ini, apa pantas kau disebut guru? Tch, jangan bercanda."
Pak Suji langsung membuka tasnya dan mengambil pisau, lalu mengancam Ringo supaya menarik kata-katanya kembali.
"Apa kau yakin? Apa kau yakin tidak ingin menarik kata-kata kau itu?" Tanya Pak Suji yang menunjukkan pisaunya.
"Terlalu kekanak-kanakan." Jawab Ringo.
Wain melihat ke arah Pak Suji yang sedang mengancam Ringo dan dia sadar kalau itu adalah kode saatnya dia masuk ke dalam drama yang telah dibuat. Itu kodenya, jadi aku bisa mulai.