My Destiny: The Beginning

My Destiny: The Beginning
Chapter 35. Ruangan



...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....


Salah satu dari sekumpulan murid itu ingin membuka pintu lemari dan itu membuat Ringo dan Yuki ketakutan. Semakin dekat tangan murid itu ke gagang lemari, semakin ketakutan mereka berdua, yang membuat mereka menahan napas supaya tidak ketahuan.


Ringo yang sudah tidak sanggup menahan napasnya mencoba memaksa diri untuk menahan napasnya lebih lama lagi supaya tidak ketahuan oleh sekumpulan murid itu. Oksigen, aku butuh oksigen. Tempat ini sangat panas, sempit, dan sulit untuk bernapas. Sesak sekali, napasku sangat sesak seperti menunggu uang kembali.


Tangan murid itu sudah memegang gagang pintu lemari dan ketika ingin membuka, tiba-tiba Pak Suji datang. "Hey, kalian! kenapa kalian di sini?!"


Sekumpulan murid itu pun kaget termasuk murid yang ingin membuka pintu lemari. Mereka mencari alasan supaya tidak ketahuan apa yang mereka lakukan. "Eh, Pak Suji yang ganteng. Kami cuma ingin mau mengambil bola basket saja, kok."


Pak Suji tidak curiga dengan mereka dan menyuruh mereka kembali ke kelas. "Kalian olahraga bukan jam pertama, melainkan jam terakhir. Kembali ke kelas, sekarang!"


Mendengar hal itu, sekumpulan murid kembali ke kelas mereka dan tidak jadi membuka lemari persembunyian Ringo dan Yuki.


"Dasar anak zaman sekarang, beda sekali sama zaman aku sekolah dulu." Ucap Pak Suji yang mengunci pintu Ruang Olahraga.


Ringo menyadari kalau situasi sudah aman dan membuka pintu lemari yang akhirnya dia bisa menghirup oksigen lagi. "Ak-Akhirnya ... kita selamat."


Ia berjalan ke pintu Ruang Olahraga dan menyadari kalau pintunya terkunci. Sial! Pintunya dikunci dari luar! Pertanda apa ini? Kenapa semenjak Amelia dan Ameliya datang ke sekolah, hari-hariku menjadi sial?


Yuki melihat Ringo yang sedang berusaha untuk membuka pintu yang sudah dikunci oleh Pak Suji. Dia ... dia baru saja menyelamatkan diriku. Baru pertama kali aku diselamatkan oleh orang lain.


Yuki berjalan ke arah Ringo dan mengucapkan terima kasih karena telah diselamatkan. "Terima kasih."


Karena suara Yuki kecil, Ringo tidak mendengarnya dan masih berusaha untuk membuka pintu yang sudah terkunci.


I-Ini, sulit sekali. Batinnya. Ringo lalu menghadap ke belakang dan melihat Yuki tepat dihadapannya, hal itu membuat dirinya terkejut dan terjatuh. "A-Aduh ... apa maumu?"


Yuki lalu duduk di pangkuan Ringo dan mulai membisik di telinganya. "Terima kasih."


Gawat, jantungku .... Batinnya. "Sama-sama." Ucap Ringo yang kalem, padahal aslinya sangat gugup.


Yuki berdiri dan mengambil kunci yang berada di dalam kotak dekat bawah pintu, Ringo melihat itu merasa bodoh daripada Atsui. Yuki membuka pintu dan mereka berdua keluar dari Ruang Olahraga.


Ketika keluar, Yuki merasakan akan ada bahaya yang akan terjadi. Dia langsung menarik Ringo untuk membawanya ke tempat yang aman. Karena Yuki mendadak menarik tangannya, Ringo refleks melepaskan pegangan tangan Yuki dan langsung mundur.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ringo yang curiga.


"Kita harus pergi." Jawab Yuki.


"Ke kelas? Tapi, ini bukan jalannya."


"Ini benar jalannya."


Yuki lalu memegang tangan Ringo dan memaksanya untuk mengikuti dirinya. "Ayo."


Ringo masih menolak dan melepaskan pegangan tangan Yuki dan langsung pergi ke kelasnya.


Yuki melihat Ringo yang pergi dan mengejarnya, kemudian Yuki memegang bahu Ringo. "Maaf."


Ringo berbalik untuk melepaskan pegangan Yuki di bahunya, namun dengan cepat Yuki memukul kuat tepat di wajahnya. "Lepaskan Ak—!"


Blam ...!


Ringo yang tidak sempat memghindar langsung pingsan akibat pukulan keras tepat di wajahnya. Yuki hanya melihat Ringo yang berbaring pingsan dengan tatapan dingin. "Keras kepala."


...****************...


"Aduhh ... kepalaku pusing." Ucap Ringo yang baru sadar.


Ia melihat ke sekelilingnya dan kebingungan kenapa dia bisa berada di sini. "Ka-Kamar? kamar siapa ini? Kenapa aku bisa di sini?"


Kreeek ...


Ketika Ringo sedang mencari tombol lampu, tiba-tiba pintu terbuka dan Ringo langsung bersembunyi di balik pintu. Akan aku hajar langsung orang ini.


Seorang misterius masuk dan menutup pintu kamar. Dia sedang mencari sesuatu di dalam meja belajar, Ringo melihatnya dan langsung lari untuk menghajar seorang misterius itu. "Rasakan ini!"


"Gerakan yang lamban."


Seorang misterius itu berhasil menghindar dari serangan Ringo, hal itu membuatnya belum sempat bereaksi sudah langsung di pukul tepat di perut yang membuat dirinya kesakitan.


"Akh ...! S-Siapa kau?! Apa mau kau, hah?!" Ucap Ringo yang kesakitan.


Seorang misterius itu berjalan dan menghidupkan lampu yang membuat Ringo melihat wajah orang yang ada di hadapannya terlihas jelas. "K-Kau ... Yuki ...."


"Maaf. Tapi, aku harus melakukannya." Ucap Yuki.


Seorang misterius itu adalah Yuki. Ringo semakin bingung kenapa dia melakukannya. "Kenapa kau menghajarku tadi?"


"Aku terpaksa." Jawab Yuki yang tenang.


Yuki lalu memberikan Ringo minum dan sedikit camilan supaya bisa menenangkan dirinya. Ringo memakan camilan itu dan rasanya sangat enak, sehingga tanpa sadar dia menghabiskan semuanya. "Sudah habis? Ada lagi?"


"Tidak ada. Apa kau menyukainya?" Tanya Yuki.


"Ya. Ini seperti buatan sendiri." Jawab Ringo.


Baguslah. Yuki tersenyum tipis karena camilan yang dimakan Ringo sampai habis itu adalah buatannya.


Beberapa menit kemudian, Ringo mulai menanyai Yuki tentang barusan yang terjadi. "Siapa sekumpulan murid tadi? Apa hubungannya dengan kau? Sehingga membuat mereka mengejar kita tadi?"


"Sebenarnya mereka adalah fans aku." Jawab Yuki singkat.


"Fans? Maksudmu ... mereka semua itu penggemarmu? Kenapa kau ketakutan saat melihat mereka tadi?" Ucap Ringo yang kebingungan.


Yuki terlebih dahulu menenangkan dirinya dan mulai menjelaskan yang sebenarnya. "Sebenarnya, mereka itu adalah sekumpulan orang jahat yang menyamar sebagai sekumpulan murid yang meng-idolakan aku."


"Menyamar? Mungkinkah ...." Ucap Ringo.


"Ya, benar. Di saku baju mereka semua ada Pulpen P. Jadi, mereka bisa menyamar." Ucap Yuki.


"Sejak, sejak kapan kau menyadarinya?" Tanya Ringo.


"Sejak aku melihat tatapan mereka."


"Tatapan?"


"Ya. Tatapan, tatapan seorang pembunuh."


"Kenapa? Kenapa mereka ingin membunuhmu? Apa yang mereka incar dari kau?"


"Maaf, aku tidak bisa bilang."


"Aku mengerti."


...****************...


Entah berapa lama sejak terakhir mereka berbicara membuat ruang kamar itu merasa sunyi dan hening. Ringo hanya fokus dengan melihat berita mengenai dua ledakan misterius yang memakan banyak korban jiwa termasuk ibu dan adik angkatnya. Sedangkan, Yuki hanya tertidur pulas.


"Informasi dari internet mengenai dua ledakan misterius itu tidak perlu aku percaya, aku anggap sebagai omong kosong saja. Apa mungkin orang yang di balik peristiwa ini pasti berhubungan dengan sekumpulan murid yang dikatakan Yuki?" Ucap Ringo yang mulai berpikir.