
...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....
26 Januari 2022.
Saat Ringo memakan tahu sambal, dia seperti heran kenapa rasanya berbeda.. "Ibu, kenapa rasa tahu sambalnya berbeda?"
"Itu, masakan Atsui. Dia membantu Ibu untuk buat sarapan."
Ringo melihat Atsui yang wajahnya memerah. "Kau yang masak?"
"I-Iya. E-Emang kenapa? Aku 'kan mau bantu Tante."
"Terima kasih. Rasanya lumayan enak."
Atsui semakin malu karena Ringo memuji masakannya dan dia juga merasa senang saat Ringo memakannya dengan lahap. Baguslah kalau Ringo suka dengan masakanku, walau aku cuman masak tahu saja. Padahal, aku baru pertama kali masak tahu sambal. Ternyata, aku memiliki bakat yang terpendam.
"Atsui, kenapa kita diliburkan? Aku belum membuka HP, jadi aku tidak tau."
"Saat itu aku terbangun dan aku langsung membuka HP untuk melihat jam, aku melihat jam di HP aku pukul 06.50 a.m., lalu aku membuka Grub Sekolah dan ada informasi dari Wali Kelas aku, yaitu 'Murid-murid, hari ini kalian libur, karena semua Guru akan mengadakan rapat. Jadi, kalian diliburkan selama sehari saja.' Itu pesan yang dikirimkan Wali Kelas aku."
"Berarti, semua murid diliburkan."
"Iya. Aku juga hari ini harus pulang karena Kakakku sudah menunggu aku di rumah."
"Apa kau sudah mengemas barang -barang?"
"Belum, hehehe ...."
"Tch, kau ini ...."
"Hehehe ...."
"Yaudah, siap makan nanti aku bantu kau mengemas barang-barang yang kau bawa."
"Ti-Tidak boleh ...!"
"Kenapa?"
Ringo melihat sikap Atsui dan mengerti kalau dia malu saat pakaian dalamnya di lihat laki-laki. "Oke, aku mengerti."
"Ringo, Atsui, cepat habiskan makanan kalian."
"Iya, Bu."
"Oke, Tante."
Ringo dan Atsui melanjutkan memakan makanan mereka. Sampai dua puluh menit kemudian, mereka semua sudah selesai sarapan.
Atsui membantu ibu untuk mencuci piring kotor, sedangkan Ringo kembali ke kamarnya. Ringo mengambil HP-nya yang berada di atas tempat tidur dan membuka HP-nya lalu mengecek Grub Sekolah dan melihat ada informasi dari Bu Ichiba, Ringo membacanya dan informasi itu sama seperti apa yang dikatakan Atsui tadi. Ternyata apa yang dikatakannya tadi memang benar.
Tiga puluh menit kemudian, Atsui sudah selesai mengemas barang-barangnya dan siap untuk pergi. Baiklah, satu hari di sini sangat berarti bagiku. Mungkin, aku bisa menginap di sini lagi.
Atsui keluar dari kamar Suika dan berjalan ke ruang tamu, dirinya melihat Ringo yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV. "Ringo, aku sudah siap."
Ringo melihat Atsui yang sudah siap untuk pergi. Dia berjalan ke arahnya untuk mengantarnya pulang. "Apa kau sudah berpamitan sama Ibu?"
"Sudah. Kata Tante, 'Hati-hati di jalan dan kalau mau menginap lagi silahkan, Tante akan menerima kamu.' Aku akan menginap lagi di sini, kok. Hehehe ...."
"Tch, kau ini. Ayo, biar aku antar kau sampai rumah."
"Ti-Tidak perlu!"
"Kenapa?"
"I-Itu ... karena ...."
Ringo lalu memegang kepalanya dan mengelus rambutnya. "Tenang saja. Aku hanya ingin kau sampai di rumah dengan selamat."
Atsui mendengar itu langsung malu dan langsung salah tingkah. "Ka-Kau ini bicara apa, a-aku bisa pulang sendiri, kok. Hahaha ...."
"Ayo, kita pergi."
Cuaca yang cerah di pagi hari dan ditemani dengan suara kicauan burung. Entah kenapa, aku mau mengantar Atsui sampai di rumahnya.
Ringo mengantarku sampai ke rumah, kami berdua dari tadi masih belum berbicara, suasana ini masih canggung bagiku.
...****************...
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di depan pagar rumah Atsui. Ringo tercengang karena tempat tinggal Atsui lebih besar dibandingkan dengan tempat tinggalnya. "Tch ... ini tempat tinggal kau?"
"Ini pagar dari lapisan emas asli?"
"Iya? Emang kenapa?"
"Tidak apa-apa, rumah kau lumayan mewah. Aku sudah mengantar kau sampai rumah. Jadi, aku pulang dulu."
"Kau gak mau masuk dulu? Gak mau minum dulu sebentar?"
"Tidak. Itu merepotkan."
"Tidak merepotkan."
"Oke, sampai besok." Ketika Ringo ingin pulang, Atsui memegang tangannya dan memaksanya untuk masuk. "Jangan malu-malu. Kau tidak merepotkan, kok."
Ringo melihat Atsui yang sedang mengambil kartu di dalam tasnya. Kartu apa itu?
Atsui lalu menunjukkan kartunya ke arah CCTV yang ada di depan pagar.
Ting ... Ting ...
CCTV itu berbunyi dan pagar yang tertutup langsung terbuka secara otomatis. Itu membuat Ringo sangat heran.
"Ayo masuk, Ringo."
Atsui melihat Ringo yang keheranan. "Ringo?"
"Ada apa?"
"Kau kenapa? Aku melihat kau seperti orang yang keheranan."
"Coba kau bagi tau aku, kenapa pagar tadi terbuka secara otomatis saat kau menunjukkan kartu ke arah CCTV di depan pagar? Kartu apa itu?"
"Oh, itu. Kartu tadi adalah tanda pengenalku dan itu bisa dibilang kunci rumahku. Aku menunjukkan kartuku ke arah CCTV supaya pagar bisa terbuka."
"Kenapa pakai kartu?"
"Karena Ibuku jarang pulang ke rumah dan yang tinggal di sini hanya aku dan Kakakku. Jadi, Ibu membuat keamanan yang sangat ketat supaya tidak sembarangan orang yang bisa masuk. Ibuku memberi kami kartu tanda pengenal supaya kami bisa masuk."
"Kalau orang lain manjat ke atas, gimana?"
"Kalau orang lain manjat ke atas, sampai ke atas orang itu akan kesetrum listrik dengan tegangan tinggi yang bisa mengakibatkan orang itu mati. Hehehe ...."
Setelah Ringo mendengar itu, Ringo menelan ludahnya karena cara itu sangat berbahaya. Itu lumayan ekstrem.
"Ringo, ayo masuk."
"Baiklah, tapi cuma sebentar."
"Horee ...."
Atsui mengajak Ringo untuk masuk dan ketika dirinya masuk dan melihat halaman rumah Atsui, Ringo tercengang karena di halaman rumahnya sangat luas dan disertai dengan bunga-bunga yang indah dan dihiasin dengan kupu-kupu yang berwarna-warni. Tch ... sangat mengesankan.
Mereka sampai di depan pintu, Atsui lalu membuka pintu dan mengajak Ringo untuk masuk duluan. "Silahkan kau duluan, Ringo."
"Baiklah, terima kasih. "
Lumayan mewah, kata itu yang sangat tepat untuk ini. Ringo masuk ke dalam rumah Atsui dan melihat barang-barang, lukisan, dan lain-lain yang sangat langka dan indah. Aku tidak menyangka kalau dia tinggal di tempat seperti ini.
"Ayo, Ringo. Biar aku antar kau ke ruang tamu."
"Oke."
Atsui mengantarkan Ringo ke ruang tamu dan diperjalanan, mereka diterangi oleh lampu kristal gantung yang mewah yang terbuat dari emas. Oke, itu pasti sangat mahal.
Atsui dan Ringo sampai ke ruang tamu, dirinya melihat TV LED layar lebar yang sangat lebar. Ringo mulai membandingkan TV di rumahnya dengan TV di rumah Atsui. Mungkin, TV di rumahku lebih kecil dibandingkan TV di rumahnya.
"Ringo, silahkan duduk dulu. Aku akan mengambilkan minuman untuk kau."
Ringo melihat Atsui yang pergi mengambil minum untuknya dan dirinya duduk di sofa. Saat Ringo duduk, Ringo merasakan kalau sofa ini sangat lembut dan nyaman. I-Ini sangat ... nyaman ....
Dirinya melihat kanan, kiri, atas, dan bawah. Tapi, hanya ada satu tempat yang membuatnya menarik yaitu satu lemari kaca yang berada di sudut ruangan, Ringo berdiri dan melihat lemari kaca tersebut. Ketika dia sudah dekat di lemari kaca, Ringo melihat piala-piala dan penghargaan yang sangat banyak. Waw, ternyata Atsui tidak sebodoh yang aku bayangkan. Ternyata, selama ini aku salah sangka.
"Kenapa kau ada di sini? Murid Introvet."
Ringo berbalik dan terkejut melihat siapa yang mengatakan itu. Kau?!