
...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....
Yuki membuka matanya dan melihat kalau tubuhnya sudah diselimutkan. Selimut?
"Kau jangan lagi tidur tengkurap karena itu tidak baik untuk kesehatan." Ucap Ringo yang fokus bermain game di HP-nya.
"Kenapa?"
"Pakai nanya lagi, jika kau tidur tengkurap maka dapat menimbulkan sakit atau nyeri leher dan punggung, memperburuk masalah tulang belakang, hingga memicu masalah sistem pernapasan. Apa kau tidak merasa sesak di dada saat kau bangun?"
"Sesak di dada? Ya, aku selalu merasakan itu saat aku terbangun."
"Nah, jadi jangan tidur tengkurap lagi."
"Tapi, itu sudah kebiasaanku."
"Memang betul, tapi untuk apa membiasakan yang tidak sehat? Seperti tidur tengkurap. Jadi, mulai sekarang cobalah untuk tidur telentang agar memungkinkan kepala, leher, dan tulang belakang kau dalam posisi sejajar, supaya tidak ada tekanan ekstra pada tubuh yang tidak menyebabkan rasa sakit di bagian tubuh tertentu. Walaupun, awal-awalnya kau akan tidak terbiasa dan tidak nyaman. Tapi percayalah jika kau melakukannya dengan teratur, kau akan menjadi kebiasaan."
"Jadi, apakah aku dapat meninggalkan kebiasaan tidur tengkurap saat aku telah terbiasa tidur terlentang?"
"Tentu saja."
Mata Yuki bersinar saat mendengar perkataan itu yang membuat Ringo seolah-olah mengkhawatirkan dirinya. "B-Baikhlah. Terima kasih atas pengetahuannya."
Ringo tidak mendengar perkataan barusan dari Yuki, karena ia sedang menahan kekesalannya terhadap sebuah game di ponsel yang dia mainkan. "Tch, susah sekali lawan stage ini. Udah bercoba-coba kali aku mainkan serta mengupgrade senjata dan lainnya, tapi masih saja tetap kalah."
"Ringo, ada hal yang ingin aku beritahu ke kau."
"Tentang apa?"
"Orang-orang yang telah kau bunuh."
Orang-orang yang aku bunuh? Maksudnya? Ringo meletak HP-nya dan melihat Yuki dengan serius. "Apa yang kau katakan barusan?"
"Sepertinya kau memang sudah lupa akibat pengaruh dari Alat P."
"Alat P? Maksud kau Alat Pelupa dari Perusahaan milik Amai Key, ya?"
"Ya, kau benar."
Ringo memiringkan kepalanya dan tidak tau apa yang dimaksud Yuki. "Terus, apa hubungannya denganku?"
Yuki memgambil HP-nya yang berada di atas meja belajar lalu membuka Hp-nya dan menunjukkan kepada Ringo yaitu sebuah video. "Ini, lihatlah."
Ringo mengambil HP Yuki dan melihat sebuah video yang ditunjukkan olehnya. "Video apa, nih?"
"Tonton saja."
"Oke, aku akan menontonnya." Ucap Ringo yang mulai memutar video yang ditunjukkan oleh Yuki.
Dari awal video diputar, tatapan Ringo biasa saja. Tapi saat video selesai diputar, tatapan Ringo sangat tajam. "Aku ingat sekarang."
"Bagus, bisa kau simpulkan?"
Ringo menjelaskan sambil mengingat kejadian pada saat itu. "Ya, pada saat itu aku membunuh seorang yang menyamar sebagai Bu Ichiba dan membuat rekannya dalam keadaan sekarat, yaitu orang yang menyamar sebagai Pak Suji. Namun, ada orang yang menyamar sebagai Wain mati dalam keadaan kepalanya yang terputus dari tubuhnya di tangan rekannya sendiri. Kemudian lima polisi dan Detektif C datang dan menyelesaikan semuanya."
"Tapi, bagaimana kau bisa ingat dan merekam semua kejadian pada saat itu sedangkan kita semua sudah lupa dengan kejadiannya karena Alat P yang diaktifkan Detektif C?"
"Itu karena ini ...." Menunjukkan gelang di tangan kanannya ke arah Ringo.
"Gelang?" Ucap Ringo yang tidak mengerti maksud Yuki.
"Ya, gelang ini adalah counter dari Alat P. Gelang ini bernama Gelang G yaitu gelang yang mencegah penggunanya terkena efek dari alat P."
"Jadi, dari saat Pak Suji marah-marah sampai Alat P itu diaktifkan, kau mulai merekam diam-diam?"
"Iya."
Jika orang yang terkena efek dari alat P tapi diingatkan oleh orang yang menggunakan Gelang G dengan video, maka ia akan teringat kembali. Sebagai contohnya, Yuki yang menggunakan Gelang G mengingatkan Ringo yang terkena efek dari Alat P menggunakan video, maka Ringo akan teringat kembali.
Jadi, pada saat itu yang dimaksud Paman C rahasia adalah ini, Gelang G counter Alat P. Memikirkan waktu Detektif C tidak ingin memberitahu mengenai Gelang G kepada orang lain. "Tapi, kenapa ada di kau Gelang G-nya? Bukankah itu alat yang bukan sembarangan orang bisa memakainya?"
"Iya, benar. Tapi, apa kau lupa dengan pekerjaan ayahku?"
"Pak Wakai? Pekerjaannya polisi, 'kan?"
"Iya, kenapa tanya lagi?"
"Bukan, maksudku kenapa kau memakai alat ini dan tidak mungkin Pak Wakai meminjamkan alat ini?"
"Pada saat itu sebelum berangkat sekolah, aku masuk ke kamar ayahku untuk mengambil uang saku dan aku melihat di mejanya ada sebuah gelang dan aku mencoba memakainya. Namun sejak aku memakainya, gelang ini tidak bisa dilepas sampai sekarang karena perlu menggunakan sandi."
"Kenapa kau tidak minta tolong kepada Pak Wakai?"
"Karena, ada sebuah peraturan yang berbunyi, 'Jika pengguna Gelang G meminjamkan atau tanpa sengaja dipakai orang lain, maka dirinya akan diberikan hukuman yang berat.' Sebab itu aku tidak mau memberitahu ayahku."
"Jadi?"
"Ya, begitulah."
"Boleh aku melihat Gelang G itu?"
"Boleh." Yuki mengulurkan tangannya.
Ringo melihatnya dengan teliti dan mulai mempelajari corak dan juga ukiran dari gelang tersebut. Corak yang sulit dan ukiran yang aneh. Bagaimana bisa gelang punya Pak Wakai cocok di tangan Yuki? Bukankah ukuran tangan mereka berbeda? Tapi, saat dia bilang kalau gelang ini tidak bisa dilepas dari tangannya karena memerlukan sandi, atau jangan-jangan ukuran sebenarnya gelang ini tidak ada yang tau?
Ringo membuka HP-nya dan membaca informasi mengenai ukuran sebenarnya dari Gelang G. "Ini dia, 'Ukuran yang sebenarnya Gelang G hanya diketahui oleh pembuatnya.' Pembuatnya? Tapi, siapa?"
Ringo mulai mencari informasi siapa pembuat Gelang G namun tetap tidak ada hasilnya karena setiap pembuat alat dari Perusaahan Senjata milik Amai Key bersifat rahasia. Karena jika tidak, maka pembuat alat tersebut akan ditangkap oleh penjahat dan menyuruhnya membuat alat tersebut yang akan digunakan mereka untuk melakukan hal yang merugikan bagi orang lain.
Ringo mulai mengeluh karena setiap usahanya untuk mencari informasi pembuat alat tersebut tetap tidak ada hasil. "Huffhh ... gagal, tidak ada informasi, sangat rahasia, walaupun begitu ini memang harus dilakukan karena jika dipublikasikan orang yang membuat alat tersebut pasti akan berdampak buruk bagi semua orang."
"Jadi, untuk sekarang apa yang akan kita lakukan?" Tanya Yuki.
"Untuk sekarang, kita akan menyusun strategi untuk menyelesaikan para penggemar yang kau maksud dan juga jangan memberitahu atau menyebarkan video tersebut. Karena, kita tidak tau dampak yang akan terjadi jika orang lain tau kejadian pada saat itu."
"Baikhlah."