My Destiny: The Beginning

My Destiny: The Beginning
Chapter 24. Tidak Mungkin Dia Menginap (6)



...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....


"Tidak sulit. Kau hanya perlu berjalan dari sini sampai ujung dapur lalu datang ke sini lagi. Bisa?" Ucap Suika.


Atsui sedikit ragu dan mulai menerima tantangan dari Suika. "B-Baik, aku setuju."


Ibu, Ringo, dan Suika melihat Atsui yang berjalan menggunakan kedua kakinya. Padahal kaki kiri Atsui masih sakit, tapi dia memaksa. Baru dua langkah, dia terjatuh dan menahan rasa sakit yang dia rasakan. A-Aduhh ....


Suika melihat itu merasa senang. Karena, Atsui akan dipijat sama ibu. "Hahaha ..., katanya tadi udah sembuh. Kok, baru dua langkah udah jatuh. Pembohong, Atsui pembohong."


Atsui hanya diam saja. Mau tidak mau, dia harus dipijat supaya kaki kirinya tidak sakit lagi.


Ringo melihat Atsui yang diam saja dan mulai menghampirinya. Ringo segera duduk di sampingnya. "Kau mau sembuh, 'kan? Jadi, kau harus segera dipijat supaya sembuh."


"T-Tapi ...."


"Ya, aku tau kalau kau itu takut. Tapi, apa kau mau jalan pincang lagi?"


"T-Tidak ..."


"Yaudah, ayo."


Ringo berdiri dan ingin pergi. Ketika Ringo ingin pergi, Atsui memegang tangannya. "B-Bisakah kau berada di sampingku, saat dipijat nanti?"


"Ya, tentu saja."


Ringo membantu Atsui berdiri dan membawanya ke ruang tamu. Mereka sudah berada di ruang tamu dan Ringo mulai menyuruh Atsui untuk duduk di sofa panjang. "Silahkan duduk."


"Iya, terima kasih."


Aku merasa sangat senang saat Ringo membantuku dan itu membuatku semakin menyukainya. Ringo duduk di sampingku untuk menemani aku. Karena, aku sangat takut untuk melawan rasa sakit ini. Ringo, aku semakin menyukaimu ....


Saat Atsui sedang memandang Ringo. Dia melihat ibu yang sudah keluar dari dapur dan membawa minyak zaitun untuk memijat kaki Atsui. Entah kenapa, Atsui sangat ketakutan. Setiap langkah ibu berjalan, jantungnya berdetak dengan sangat cepat.


Dak, dig, dug ...


Ibu sudah duduk di samping Atsui dan menyuruhnya untuk menaikkan kaki kirinya yang keseleo. "Atsui, naikkan kaki kirimu yang sakit."


Atsui hanya pasrah saja dan mengikuti perkataan ibu. "B-Baiklah, Tante."


Atsui menaikkan kaki kirinya dan melihat Suika yang melihat kakinya dengan serius. Atsui bertanya sama Suika, kenapa dia memegang kaki kanannya. "A-Ada apa, Suika?"


"Kaki kau sangat mulus dan kulitmu sangat bagus. Bagaimana bisa?"


"Itu, karena aku sering merawat kulitku."


"Jadi, begitu."


"Apa Suika mau kulitnya seperti ini?"


"Iya, Suika mau."


Sepuluh menit kemudian, ibu sudah selesai memijat kaki Atsui. Atsui tidak sadar kalau kakinya sedang dipijat oleh ibu, karena dia asik mengobrol dengan Suika. "Atsui, gimana? Sudah baikkan?"


Atsui kebingungan karena tiba-tiba sudah selesai dan Atsui tidak merasakan apa pun. "Eh? Udah selesai?"


"Sudah."


"T-Tapi, kenapa aku tidak merasakan apa pun?"


"Karena, selama Ibu memijat kakimu. Kamu asik sekali mengobrol dengan Suika. Jadi, kamu tidak merasakan apa pun."


"Suika, terima kasih."


Padahal Suika tidak melakukan apa pun. Batinnya. "I-Iya, sama-sama."


Sepertinya Atsui dan Suika sudah akur lagi. Aku sangat suka melihat pemandangan ini. Aku menghibur Suika saat sedih walaupun tidak ada yang menghiburku, aku membantu Atsui saat dia mengalami kesulitan walaupun tidak ada yang membantuku, dan aku membantu pekerjaan Ibuku sebagian.


"Atsui, tunggu beberapa menit, ya. Posisi kakimu, biarkan saja seperti ini."


"Iya, Tante. Terima kasih."


"Iya, sama-sama."


Ibu langsung membawa minyak zaitun dan pergi ke dapur untuk mengambil air.


Beberapa menit kemudian, Atsui melihat ibu keluar dari dapur sambil membawa satu gayung penuh yang berisi air hangat. Ibu duduk di samping Atsui dan mulai mengoleskan air hangat itu di kaki kirinya. "Tahan sebentar, ya ...."


Ibu langsung mengoles air hangat itu ke kaki kiri Atsui. Atsui merasa takut dan mulai menggenggam kuat tangan Ringo. "A-Aduh ... pelan-pelan, Tante."


Aku merasa sakit karena tanganku yang digenggam kuat sama Atsui. Seharusnya aku yang bilang, 'Aduh'.


Atsui menahan rasa takutnya dan mencoba untuk santai. "I-Iya, Tante."


Saat ibu mengoleskan kaki kiri Atsui dengan air hangat, entah kenapa rasanya sangat enak. "Hm ... enak sekali ...."


"Ya, seperti itulah rasanya. Jadi, kamu santai saja."


Ibu yang sedang mengoleskan kaki kiri Atsui dengan air hangat sampai sepuluh menit. Sepuluh menit kemudian, ibu berhenti dan menyuruh Atsui untuk berdiri. "Nah, sudah selesai. Atsui, sekarang coba kamu berdiri dengan kedua kakiku."


"Baik, Tante."


Ketika Atsui melepaskan genggaman tangan Ringo, Ringo memegang tangannya karena sakit. Ini cukup sakit dan genggaman dia sangat kuat.


Atsui mulai menurunkan kakinya dan mencoba berdiri dengan perlahan. Ketika, Atsui berdiri dengan sempurna. Atsui merasa sangat senang karena kaki kirinya sudah baik dan juga merasa sedih karena tidak akan digendong sama Ringo lagi. "A-Aku bisa berdiri, Tante. Terima kasih."


"Iya, sama-sama. Sekarang, coba kamu berjalan beberapa langkah."


"Baiklah."


Atsui mulai berjalan beberapa langkah dan berhasil, walaupun kaki kirinya sedikit bergoyang. A-Aku bisa! Walaupun kaki kiriku sedikit bergoyang.


"Wah, ternyata sudah lumayan sembuh, ya ...."


"Iya, Tante. Ini karena Tante sudah memijat kaki kiriku. Terima kasih, Tante."


"Iya, sama-sama. Sekarang duduklah, tunggu beberapa menit pasti kaki kirimu sembuh."


"Oke, Tante."


"Baiklah, Tante ke dapur dulu untuk meletakkan gayung ini dan mencuci tangan."


"Iya, Tante."


Ibu pergi ke dapur untuk meletakkan gayung dan mencuci tangan. Ringo melihat Atsui yang sedang mengobrol sama Suika. Mereka sepertinya mengobrol tentang sesuatu yang lucu, sehingga membuat mereka tertawa.


"Benarkah itu, Suika?"


"Iya, benar. Hahaha ...."


"Jadi begitu. Lucu sekali, hahaha ...."


Beberapa menit kemudian ibu keluar dari dapur dan sepertinya akan pergi ke pasar. Ringo kebingungan dan bertanya lebih jelas kepada ibunya yang mau pergi ke mana. "Ibu, mau pergi ke mana?"


"Ibu, mau pergi ke pasar dulu."


"Mau ngapain, Bu?"


"Mau beli bahan yang sudah habis di dapur."


"Oh, begitu. Yaudah."


Ringo dan Suika mulai melambaikan tangannya, lalu mengucapkan. "Hati-hati di jalan, Bu."


"Iya."


"Hati-hati di jalan, Tante."


"Iya. Kalian semua, tolong jagain rumah, ya ...."


"Iya." Jawab mereka serentak.


Ibu lalu berjalan keluar rumah untuk pergi ke pasar dan membeli bahan yang sudah habis.


Ketika ibu sudah keluar rumah, Atsui menyarankan Ringo untuk menonton film. "Ringo, ayo kita nonton film."


"Emang mau nonton apa?"


"Nonton yang seram-seram, ada?"


"Ada, bentar. Biar aku masukkan kaset DVD-nya."


Ringo mulai memasukkan kaset DVD dan Atsui senang karena bisa nonton film. "Horee!!"


Atsui melihat Suika yang hanya diam saja dan bertanya sama Suika, kenapa dia diam saja. "Ada apa, Suika? Apa kau takut?"


"T-Tidak. Suika tidak takut!"


Atsui mendengar hal itu pun mulai mengerti kalau Suika memang takut untuk menonton yang seram-seram. "Eh ... benarkah? Apa kau yakin, kalau kau itu tidak takut?"