My Destiny: The Beginning

My Destiny: The Beginning
Chapter 22. Tidak Mungkin Dia Menginap (4)



...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....


Atsui dan Ringo akhirnya sampai di depan rumah Ringo. Atsui melihat tempat tinggal Ringo yang cukup nyaman untuk di tempati.


[Betah adalah merasa senang (berdiam atau tinggal di suatu tempat).]


"Rumah dua lantai dengan balkon yang modern? Desain rumah yang sangat bagus. Aku yakin pasti betah tinggal di sini selamanya." Ucap senang Atsui.


Se-Selamanya? Batinnya. "Tidak. Kau hanya menginap di sini hanya satu malam saja." Ucap Ringo.


Ringo membuka pagar dan masuk lalu menutup pagarnya. Saat di depan pintu, Ringo menurunkan Atsui dan mulai mengetuk pintu.


Tok, tok ...


"Kenapa kau mengetuk pintu? Kenapa gak langsung masuk saja?" Tanya Atsui.


"Terserah aku." Jawab singkat Ringo.



Pintu terbuka dan yang membukakan pintu adalah adiknya Ringo. "Selamat datang, Kakak Ring ...."


"Ya, Kakak pulang." Ucap Ringo.


"K-Kakak Ring? Hahaha ... Ring?" Ucap ketawa Atsui.


"Jangan mengejek Kakakku!" Bentak Suika.


"Iya, iya. Nama panggilan Ringo lucu sekali." Ucap Atsui.


"Kakak, dia siapa?" Tanya Suika.


"Ini Mizu Atsui adiknya Kak Mizu Samui, anak dari Mizu Yoi." Jawab Ringo.


"Halo, salam kenal." Atsui mencubit gemas pipi Suika. "Kamu imut sekali. Imut, imut, imut ...."


"Hentikan!" Bentak Suika.


"Saat kamu marah, kamu semakin imut ...." Ucap Atsui yang ingin mencubit gemas pipi Suika lagi.


"Sudah, sudah." Ringo yang melerai mereka.


Ringo kembali berucap.


"Ayo, Atsui. Silahkan masuk."


"Terima kasih." Ucap Atsui.


Atsui pun masuk ke dalam rumah Ringo. Saat Atsui masuk, dia melihat ke bingkai foto yang ada di dinding. "Ringo, siapa anak laki-laki itu?"


"Itu adalah aku yang berumur tujuh tahun."


Atsui melihat foto imut Ringo pada saat waktu kecil. D-Dia sangat imut saat waktu kecil.


"Ibu, aku pulang." Ucap Ringo.


"Iya, Ringo." Ucap ibu yang sedang menyiapkan makan malam.


Ringo berjalan ke dapur dan memberitahu kalau Atsui akan menginap. "Ibu, temanku akan menginap di sini. Bolehkan?"


"Wain? Tentu saja boleh." Jawab ibu.


"Bukan, Bu. Dia ada —" Saat Ringo ingin memberitahu ibunya, tiba-tiba Atsui ke dapur dan melihat ada makanan yang enak. "Wah ... ini makanannya banyak sekali. Ada lobster bakar madu, sambal ikan pari, nasi kuning, dan air minum. Pasti ini sangat enak."



"Wah, tebakan kamu sangat benar." Ucap ibu.


"Terima kasih, tante." Ucap Atsui.


"Dia, Bu. Dia yang mau menginap. Dia adalah Mizu Atsui adiknya Kak Mizu Samui, anak dari Mizu Yoi." Ucap Ringo.


"Mizu? Kamu anaknya Mizu Yoi yang Penasihat Sang Raja itu, ya?" Tanya ibu.


"Iya, benar. Dia adalah ayahku." Jawab Atsui.


"Kamu mau menginap di sini?" Tanya ibu.


"Iya, Tante. Ibuku keluar kota karena ada urusan dan bulan depan baru pulang. Sedangkan kakak aku, dia menginap di rumah temannya. Jadi, aku tidak berani di rumah sendirian, hehehe ...." Jawab Atsui.


"Yaudah, kamu boleh menginap di sini. " Ucap ibu.


Ibu kembali berucap.


"Makanannya belum siap, jadi kalian mandi dulu.


"Terima kasih, tante." Ucap Atsui.


"Iya, sama-sama."


"Saat pulang sekolah, Atsui tidak sempat bawa baju ganti. Jadi, dia tidak ada baju ganti." Ucap Ringo.


"Kau terlalu meremehkan aku, aku membawa baju ganti, dan baju ganti itu ada di dalam tasku, hahaha ...." Ucap Atsui.


Ternyata, dia sudah menyiapkan baju gantinya sebelum berangkat ke sekolah tadi. Tapi, anehnya 'kan dia baru pertama kali ketemu sama aku hari ini. Kenapa dia sudah bawa baju ganti? Kakaknya saja baru memberitahukan sama dia saat di Ruang Guru. Apa jangan-jangan ..., entahlah lagi malas berpikir.


"Atsui, kau duluan mandi saja." Ucap Ringo.


"Aku? Kenapa harus aku duluan?" Tanya Atsui.


"Karena, kau adalah tamu. Tamu yang diutamakan." Jawab Ringo.


"Benar juga. Apa ... kau tidak mau mandi bersamaku?" Ucap Atsui yang menggoda Ringo.


"Hentikan." Ucap Ringo.


"Baiklah, aku mandi duluan. Sampai nanti." Ucap Atsui pergi ke kamar mandi dan membawa tasnya.


"Ringo, sebaiknya kau juga mandi. Kamar mandi kita 'kan ada dua." Ucap ibu.


Oh, iya. Benar juga. Batinnya. "Baik, Bu." Ucap Ringo yang pergi ke kamar mandi satu lagi.


"Ringo, kenapa kau sudah mandi?" Tanya Atsui.


"Sebenarnya, kamar mandi kami ada dua." Jawab Ringo.


Ibu, Ringo, Atsui, dan juga Suika sudah berkumpul di dapur dan duduk di tempat duduk meja makan. Semuanya sudah duduk, kecuali Atsui yang masih berdiam diri.


Ringo melihat itu dan bertanya kepadanya. "Ada apa Atsui? Kenapa kau tidak duduk?"


"Tidak ada tempat untuk aku." Jawab Atsui.


"Ada. Itu 'kan kosong. Di sebelah Ibuku." Ucap Ringo.


"Iya, aku tau itu. Tapi ... itukan tempat duduk ayah kau. Jika aku duduk di situ, jadi ayah kau duduk di mana?" Tanya Atsui.


Anak ini memang beneran bodoh. Batinnya. "Tenang saja, ayahku malam ini tidak pulang." Jawab Ringo.


"Suika, sini duduk di samping Ibu."


"Baik, Bu."


"Atsui, silahkan duduk di samping Ringo. Supaya kalian lebih mudah untuk mengobrol."


"Iya, Tante. Terima kasih."


Atsui lalu duduk di samping Ringo. Ibu langsung mengambil nasi kuning dan menyiapkan untuk Atsui. "Apa segini cukup, Atsui?"


"Cukup, Tante."


Ibu lalu mengambil nasi kuning dan menyiapkan untuk Ringo dan Suika. "Apa segini cukup?"


"Cukup, Bu." Jawab mereka.


"Selamat makan ...." Ucap mereka semua.


Atsui mencoba merasakan sesuap nasi kuning yang dimasak oleh Ibu Ringo. Atsui memakan suapan pertama dan mengunyahnya.


Nyam, Nyam ...


N-Nasi kuning ini ..., sangat enak. Apakah Ibu Ringo memasaknya dengan menggunakan sihir? Batinnya. "I-ini sangat enak! Apa ibu memasaknya dengan sihir?


"Tidak, Ibu tidak memakai sihir."


Nyam, Nyam ...


"I-Ini sangat enak!"


"Terima kasih, Atsui."


"Apa kau tidak pernah makan nasi kuning?"


"Tidak pernah, Ringo. Aku baru pertama kali makan nasi kuning ini."


"Wah ..., kebetulan sekali hari ini Ibu masak nasi kuning."


"Iya, Tante."


"Yaudah, makan lagi. Jika kurang, boleh tambah lagi."


"Terima kasih, Tante."


Nyam, Nyam ...


Atsui lalu memakan nasi kuning lagi bersama lauk-pauk yang sudah dimasak Ibu Ringo.


"Ringo, ayah kau kenapa gak pulang?"


"Kau belum paham juga? Biar aku jelaskan. Nama ayahku adalah Amai Key, dia adalah Tangan Kanan Sang Raja. Dia sekarang bekerja di Istana Kerajaan dan aku tidak tau kapan ayahku pulang. Sama seperti kau, aku juga belum pernah melihat ayahku, dari aku lahir sampai sekarang."


"Sekarang aku paham. Jadi, tempat duduk kosong itu untuk ayah kau duduk saat dia pulang nanti?"


"Iya, benar."


Setelah mendengar kan penjelasan dari Ringo, Atsui lalu melanjutkan makanannya.


Nyam, Nyam ...


"Atsui, saat kamu berjalan tadi, kenapa kamu berjalan pincang? Apa kakimu cedera?"


"Iya, Tante. Saat kami keluar dari toko roti, tiba-tiba kakiku keseleo. Jadi, dari sana aku digendong sama Ringo sampai sini. Maaf merepotkan anak Tante."


"Tidak apa-apa. Tapi, apa kaki kirimu masih sakit?"


"Iya, Tante."


"Yaudah, nanti Ibu pijat kakimu ya."


"Jangan, Tante."


"Kenapa? Apa kamu mau selamanya kamu berjalan pincang?"


"T-Tidak."


"Ibu, sebenarnya dia takut. Karena, saat kakinya dipijat, bakalan sakit. Jadi, dia takut."


"B-Bukan, bukan, bukan seperti itu. Ringo, kau ini ...."


Ibu, dan Suika tertawa karena tau kalau Atsui takut dipijat. "Hahaha ...."


"Udah besar kok takut dipijat." Ucap Suika.


"B-Bukan begitu."


Atsui merasa malu dan terpaksa dia harus menerima tawaran Ibu Ringo, walaupun dia takut. "B-Baiklah, akan aku buktikan kalau aku tidak takut. Aku terima tawaran Tante."


"Oke. Yaudah, silahkan lanjut makannya."


Saat semuanya sedang makan, Atsui mulai menceritakan cerita yang lucu. Sampai membuat mereka tertawa. "Hahaha ...."


Ringo baru pertama kali merasakan suasana bahagia di meja makan. P-Perasaan apa ini? A-Aku baru pertama kali, tertawa bahagia seperti ini. Ibu dan Suika juga sepertinya senang terhadap kehadiran Atsui.