My Destiny: The Beginning

My Destiny: The Beginning
Chapter 37. Membahas Sesuatu



...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....


Ringo melihat batrai HP-nya yang hanya tersisa 15% dan ia pun mematikan daya untuk berjaga-jaga mana tau kalau dia akan membutuhkan HP-nya tersebut dalam keadaan mendesak.


"Yuki, di mana letak posisi kita?" Ucap Ringo yang sedang melihat setiap sisi ruangan yang ditempatinya.


Yuki yang sedang sibuk tidak ngapa-ngapain pun menjawab. "Ini, di ruang bawah tanah sekolah."


Sial, aku tidak tau kalau sekolah ini ada tempat ruang bawah tanah. Ringo mulai melihat Yuki dengan heran. "Kenapa kau bisa membawaku sampai ke sini? Dan kenapa kau bisa tau kalau sekolah kita ini ada ruang bawah tanah?"


"Hufhhh ...." Yuki yang menghembus nafasnya menandakan bahwa ia lagi sedang tidak ingin menjelaskan.


Dengan kode yang diberikan dari Yuki, Ringo pun mengerti. Ia menghampiri Yuki yang sedang duduk di kasur dan Yuki mulai merasakan bahwa Ringo akan melakukan hal mesum karena hanya ada mereka berdua yang berada di dalam ruangan tersebut sehingga membuat jantungnya berdetak dengan cepat.


DUG ... DUG ... DUG ...


A-Apa yang akan akan dilakukannya? Apakah dia akan memperkosa aku? Kau pikir aku ini cewek murahan dan lemah? Orang seperti kau ini sangat mudah aku kalahkan!


Ringo sudah tepat di hadapannya dan Yuki sedang mengepal tangannya agar dia bisa langsung memukul ke arah wajah Ringo dengan kuat. Majulah!


Ringo mengarahkan tangannya dan mengambil novel yang tepat berada di sebelah kiri Yuki. "Ini dia."


Yuki yang melihat Ringo pergi ke pojok ruangan untuk membaca novel itu pun membuatnya heran. Eh? Jadi, dia hanya mau ambil novel itu saja? Orang aneh. Kenapa dia lebih memilih novel itu dibandingkan aku? Apa aku kurang menarik di matanya?


Ringo yang sedang sibuk membaca novel yang ia ambil tadi, karena novel tersebut adalah novel yang sangat ia inginkan sejak lama. No-Novel ini sangat aku impikan dari dulu. Tch ..., tidak kusangka akhirnya bisa mendapatkan novel ini di sini. Ini adalah novel yang berjudul My Destiny: The Beginning, aku sangat ingin membacanya sewaktu aku kecil, namun aku tidak bisa karena novel ini sangat laris terjual. Saat pertama kali dicetak dan di jual di toko-toko novel terkenal, novel ini langsung habis terjual dan dibeli oleh pemilik sekolah ini, karena dia seorang pencinta novel.


Beberapa jam kemudian Ringo dan Yuki sudah selesai membaca novel tersebut. "Akhirnya sudah tamat ceritanya ...."


Eh? Ringo melihat ke arah kiri. "Yuki!?" Karena terkejut, Ringo dengan cepat menjauh dan mulai bertanya, "Se-Sejak kapan kau ada di situ?"


"Sejak aku melihat kau yang sangat fokus membaca novel ini. Kupikir novel ini sangat seru, jadi aku mulai ikut gabung sampai kita selesai membaca novel ini. Tidak kusangka akhir dari novel My Destiny: The Beginning seperti itu."


"Jadi, apa kau suka dengan novel My Destiny: The Beginning?" Tanya Ringo sambil menunjukkan novel tersebut ke arah Yuki.


Yuki berjalan ke arahnya dan mengambil novel tersebut dari tangan Ringo. "Ya, aku suka, sangat."


"Jadi, apa ada novel lain yang kau suka?"


"Ya, tentu saja ada. Aku sangat suka membaca novel. Bukan cuma 10 atau 20 tapi sudah ratusan novel selesai kubaca"


"Wow, luar biasa. Jangan bilang, kalau kau banyak menghabiskan waktu untuk membaca novel daripada belajar."


Yuki terdiam dan Ringo sudah tau jawabannya kalau Yuki lebih suka membaca novel dibandingkan belajar. "Kau ini ..., kau boleh membaca novel tapi kau harus melakukannya dengan seimbang."


"Seimbang?" Ucap Yuki yang mengerutkan keningnya.


"Ya, seimbang."


"Contohnya?"


"Kau suka membaca novel tapi kau malas belajar, jadi kau harus membagi waktu kau."


"Membagi waktu?"


Setelah menjelaskan, Ringo melihat Yuki yang hampir muntah karena mendengar penjelasan panjang darinya membuat Yuki merasa mual. "Kau, kau baik-baik saja?"


"Huekk!! A-Aku baik-baik saja." Ucap Yuki yang menutup mulutnya.


"Jadi, apa kau sudah paham?"


"...."


"Kau paham, kan?"


" ...."


Berkali-kali Ringo bertanya tapi Yuki hanya diam saja karena ia benar-benar tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh Ringo. Namun, Ringo tidak menyerah dan berpikir untuk mencari solusi agar Yuki bisa mengerti apa yang dimaksudnya.


"Intinya, kau hanya cukup membaca novel selama 3,5 jam dan kau belajar cukup selama 3,5 jam. Paham?" Dengan muka yang datar Ringo mengucapkannya.


"Oh, iya, sekarang aku paham." Dengan senyum yang lebar ia berikan untuk Ringo.


DUG ... DUG ... DUG ...


'Gila ..., manis sekali senyumannya!' Kalimat itu yang pasti dikatakan oleh para buaya darat setelah melihat senyuman Yuki. Tapi, aku melihatnya biasa-biasa saja.


Ringo sedang menbandingkan dirinya dengan para buaya darat, padahal dirinya mulai merasa canggung dihadapan Yuki saat ia melihat senyuman Yuki tersebut.


...****************...


Detik-detik, menit-menit, jam-jam yang telah berlalu, entah berapa lama mereka masih dalam keadaan diam satu sama lain. Hal itu mungkin sudah terbiasa dengan Ringo, tapi hari ini mungkin sedikit berbeda karena dirinya sedang berduaan bersama perempuan yang cantik.


Ringo, jangan berfikiran negatif, ingat! Ingatlah! Kalau Yuki itu adalah anak Pak Wakai, jangan mengecewakan Pak Wakai. Kenapa, kenapa, kenapa takdir memperlakukan aku seperti ini!?


Ringo melihat ke arah Yuki dan Yuki melihat ke arah Ringo, tanpa sengaja mereka saling lihat satu sama lain dan langsung memalingkan wajah mereka karena malu.


A-Apa yang terjadi? Kenapa Yuki melihat aku? A-Apakah dia ingin aku membuka topik pembicaraan?


Ke-Kenapa dia melihatku? Apakah, apakah dia sedang membuat rencana mesum? Tidak, tidak, tidak, tidak, itu tidak mungkin!


Gak mungkin 'kan kalau aku duluan buka topik pembicaraan?


A-Apa yang akan dilakukan Ringo terhadapku?


Baiklah aku akan membuka topik pembicaraan duluan, karena daripada diam begini membuat pikiranku aneh-aneh.


Ringo melihat Yuki dan Yuki melihat Ringo, mereka saling melihat tapi tidak ada diantara mereka yang berbicara duluan.


"Yu—"


"Ring—"


"K-Kau duluan saja."


"T-Tidak, kau duluan saja Ringo."