
...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....
Atsui mendengar hal itu pun mulai mengerti kalau Suika memang takut untuk menonton film horor. "Eh ... benarkah? Apa kau yakin, kalau kau itu tidak takut?"
"T-Tidak mungkin Suika takut."
"Kau yakin?"
"Iya, Suika yakin."
"Baiklah, kalau begitu kau juga ikut menonton."
"B-Baiklah, aku terima tawaran kau."
Ringo sudah memasukkan kaset DVD-nya dan mulai menghidupkan TV. "Hei, hei, sudahlah. Jangan berkelahi lagi. Filmnya sudah diputar, jadi harap tenang."
Ringo tau kalau Suika takut dengan film horor, jadi Ringo menyuruh Suika untuk duduk di sampingnya. "Suika, duduk di samping Kakak."
"Oke, Kak."
Suika duduk di samping Ringo dan mereka bertiga menonton film horor dengan tenang. Ketika film tiba-tiba ada adegan jumpscare, Atsui berteriak karena terkejut. "Aaa ...!!"
Teriakan Atsui membuat Ringo dan Suika terkejut karena suara teriakannya yang keras. "Kenapa Atsui?"
"T-Tidak apa-apa, Ringo."
"Hahaha ... penakut. Tapi, tadi kau yang minta untuk nonton film horor. Saat nonton, kenapa teriak? Hahaha ... kalau takut jangan nonton."
Aku bingung kenapa dia tidak takut, padahal tadi sebelum menonton, aku melihat wajahnya seperti orang gelisah dan itu mungkin dia takut untuk menonton. Tapi, kenapa dia gak takut? Batinnya. "Terserah aku." Ucap Atsui yang malu.
Ringo melihat Atsui yang menutup wajahnya dengan cushion sofa karena dirinya ketakutan. Ringo mulai mencoba meyakinkan Atsui untuk menonton lagi, karena sudah tidak ada adegan jumpscare. "Atsui, bisa lihat filmnya sebentar?"
"Gak."
"Sekarang lagi adegan biasa."
"Gak, aku gak mau nonton lagi."
"Sebentar saja, kau tidak takut, 'kan?"
Ringo berusaha meyakinkan Atsui untuk menonton filmnya lagi. Atsui tidak berpikir panjang dan langsung menonton lagi. "Baiklah."
"Di antara mereka bertiga, kau mirip yang di sebelah —"
Tiba-tiba adegan jumpscare muncul dan adegan tersebut membuat Atsui berteriak. "Aaa ...!!"
Ringo melihat Atsui menutup wajahnya dengan cushion sofa lagi, karena Atsui ketakutan saat melihat adegan jumpscare. "Maaf! Aku tidak tau kalau tiba-tiba ada adegan jumpscare lagi!"
Atsui melihat Ringo dan Ringo melihat wajahnya yang sedang ketakutan. "Pembohong."
"Maaf. Apa aku membuat kau takut?"
"Berisik. Aku mengantuk dan aku mau tidur."
Ringo melihat Atsui ketakutan dan entah kenapa Ringo merasa sedikit senang, karena melihat Atsui yang bersikap seperti itu. Ringo lalu mematikan TV dan mengambil kaset DVD dan meletakkan ke tempat khusus kaset DVD.
"Yahahahah ... udah besar kok takut! Malu dong, Suika aja yang umur 13 tahun berani."
"Suika, kembalikan alat yang Kakak pinjamkan."
A-Alat? Atsui kebingungan alat apa yang dimaksud Ringo.
Suika melepaskan gelan yang ada di tangannya dan mengembalikan kepada Ringo. "Ini, Kakak Ring."
"Gelang?" Atsui yang heran kenapa gelang tersebut diminta sama Ringo.
Ringo melihat gelang dan mulai menjelaskannya. "Gelang ini adalah buatanku. Gelang ini berfungsi untuk membuat rasa ketakutan pemakainya menjadi keberanian. Contohnya seperti ini, Suika takut menonton film horor dan dia memakai alat ini dan hasilnya selama kita menonton film tadi, Suika tidak takut. Aku menyebut gelang ini dengan sebutan Gelang Pengubah Ketakutan."
Atsui melihat Ringo dengan tatapan kagum. "Kau jenius," Atsui laku melihat ke arah Suika yang sedang mengejeknya. Atsui kesal karena tau alasan Suika tidak takut saat menonton film horor dan mulai mencubit gemas pipinya. "Ha, sekarang bagaimana? Mau mengejekku lagi? Dasar curang."
"Hey, hey, hentikan. Su-Suika tidak akan mengejek lagi, Suika tidak curang."
"Kalau tidak curang, terus apa?"
"Jenius."
Atsui semakin kesal dengan perkataan Suika dan mulai menggelitikkan perutnya. "Rasakan ini!"
Suika tidak bisa menahan rasa gelik yang dibuat Atsui. "Ha ... ha ... ha ... Hentikan! Dasar gila!"
"Baiklah, aku akan berhenti, tapi dengan satu syarat."
Suika mendengar itu dan langsung menanyakan apa syaratnya. "Ha ... ha ... ha ... baiklah, apa pun syaratnya akan Suika lakukan."
"Apa pun?"
"I-Iya. Apa pun. Tapi, jangan yang aneh aneh. Suika mohon."
"Ya, ya, tenang saja. Satu syarat itu adalah mulai sekarang Suika panggil aku dengan panggilan 'Kak Atsui'. Oke?"
Tanpa pikir panjang Suika langsung menyetujuinya. "Ba-Baiklah, baiklah. Sekarang lepaskan Suika."
"Aku akan melepaskan suika, kalau Suika memanggilku. Sekarang, cepat katakan."
"Yang benar dong, bilangnya."
"Kak Atsui ... tolong lepaskan Suika, ya ...."
"Wah, imutnya. Baiklah, akan Kakak lepaskan."
Atsui lalu melepaskannya dan mengajaknya untuk bermain. "Ayo, kita main."
"Main apa?"
"Main apa saja, yang penting main."
"Tidak. Suika lagi malas bermain."
"Apa kau yakin? Aku bisa mencubit pipi gemasmu lagi, lho ...."
Suika tidak ingin pipinya dipegang-pegang lagi kecuali dipegang sama Kakak Ring dan ibu. Jadi, Suika terpaksa untuk bermain dengan Atsui. "Baiklah, kita akan bermain. Asalkan Kak Atsui tidak memegang pipiku lagi."
"Oke! Ayo kita main!"
"Ayo." Dengan malas Suika mengucapkannya.
"Kita akan bermain apa?"
Atsui berjalan untuk mengambil tasnya yang dia letakkan di meja tamu. Atsui lalu mengambil sesuatu yang ada di dalam tasnya. "Ini dia! Kita akan main ini!"
Ringo dan Suika terdiam saat mereka melihat Atsui yang sudah bisa berjalan. Atsui kebingungan, kenapa mereka tiba-tiba terdiam. "Kenapa kalian diam?"
Ringo dan Suika menunjuk ke arak kaki kiri Atsui yang sudah sembuh. "Kalian menunjuk ke kaki kiriku, emang kena — A-Aku ... bisa berjalan?"
Ringo dan Suika menganggukkan kepalanya. Atsui mulai mencoba berjalan dan melompat untuk memastikan kalau kaki kirinya benar-benar sudah sembuh.
Atsui sudah berjalan dan melompat, dia sangat senang karena kaki kirinya sudah sembuh. "Kaki kiriku sudah sembuh! Terima kasih, Tante!"
"Atsui, terima kasihnya nanti saja saat ibuku sudah pulang."
"K-Kau benar juga."
"Kak Atsui, jadi gak mainnya?
"Jadi, dong."
"Tapi ... apa itu, Kak Atsui?"
"Ini adalah congklak lipat yang terbuat dari besi!"
Ringo melihat Atsui membuka congklak lipat yang terbuat dari kayu mahoni dan congklak lipat yang Atsui punya sangat indah, mempunyai hiasan corak geometri.
Atsui melihat ke arah Ringo yang sedang melihat congklak lipatnya, Atsui mencoba untuk mengajaknya bermain. "Ringo, apa kau mau main?"
"Tidak, terima kasih. Aku hanya mengawasi kalian. Lebih baik kau main sama Suika saja. Suika belum pernah bermain congklak, jadi ajarkan dia dan selamat bersenang-senang. Dan juga, itu bukan terbuat dari besi tapi itu dari kayu mahoni."
"Ha? Benarkah itu, Suika? Kalau kau gak pernah main congklak?"
"Tidak pernah, hehehe ...."
"Kalau begitu, aku akan mengajarimu cara bermain congklak, ayo kita mainnya di lantai"
"Baiklah. Terima kasih."
Atsui dan Suika duduk di lantai dan Atsui mulai mengajari Suika cara bermain congklak. "Sekarang, ayo kita mulai!"
"Ayo!"
Atsui mengambil kotak yang berada di dalam tasnya. Suika melihat itu dan bertanya. "Kak Atsui, itu kotak apa dan apa isinya?"
Atsui lalu membuka kotak itu. "Tada ...! Ini dia."
Suika kebingungan saat melihat isi kotak itu. "Kelereng kecil?"
"Yap, benar. Ini adalah kelereng kecil."
"Satu kotak penuh yang berisi kelereng kecil? Banyak sekali, untuk apa?"
"Congklak ini ada 16 lubang congklak yang terdiri dari 14 lubang kecil congklak yang saling berhadapan dan 2 lubang besar congklak di kedua sisi."
"Iya, kelereng kecil itu untuk apa?"
"Setiap 7 lubang kecil congklak di sisi Suika, Suika isi dengan kelereng kecil ini. Begitu juga dengan setiap 7 lubang kecil congklak di sisi aku."
"Jadi, 2 lubang besar congklak ini untuk apa?"
"1 lubang besar congklak di kanan Suika itu anggap saja punya aku dan 1 lubang besar congklak di kiri Suika itu anggap saja punya Suika."
"Oke ..., 7 lubang kecil congklak ini diisi berapa kelereng kecil?"
"Masing-masing lubang kecil congklak ini, kita isi 7 kelereng kecil. Jadi, ayo kita isi sekarang."
Suika mengambil satu genggam kelereng kecil dan mulai mengisi setiap lubang kecil congklak itu dengan hati-hati. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh ...."