
...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....
Pak Wakai bahagia karena Ringo akan menjadi guru les Yuki. "Terima kasih, Ringo."
"Iya, sama-sama, Pak." Ucap Ringo.
Kemudian, Yuki datang sambil membawa nampan yang di atasnya ada dua gelas jus anggur rasa susu. Lalu, memberi satu gelas kepada Ringo. "Ini, silahkan diminum."
"Terima kasih." Ucap Ringo.
Dan Yuki meletakkan satu gelas kepada ayahnya. "Ini, Ayah."
"Terima kasih, Nak." Ucap Pak Wakai.
Ketika Yuki ingin pergi, Pak Wakai menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. "Yuki, duduk sini."
"Baik, Ayah." Ucap Yuki.
Pak Wakai lalu memperkenalkan Ringo dan memberitahunya kalau Ringo akan menjadi guru lesnya. "Yuki, perkenalkan, dia adalah Ringo. Ringo akan tinggal di sini, karena dia sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Ringo juga akan menjadi guru les kau, Yuki. Dia ini ranking satu di kelasnya dan juga ranking satu umum di sekolahnya. Jadi, Bapak harap kalian bisa akur, ya."
"Baik, Ayah." Ucap Yuki tanpa ekspresi.
"Baiklah, Bapak tinggal dulu. Silahkan di minum, Ringo." Ucap Pak Wakai pergi sambil membawa minumannya.
Pak Wakai meninggalkan mereka berdua, Yuki dan Ringo berdiam-diam tanpa ada salah satu diantara mereka yang mau mulai berbicara duluan. Suasana menjadi canggung dan Ringo merasa gugup untuk pertama kalinya.
Oke, sekarang aku tau bagaimana perasaan gugup itu karena aku mulai merasakannya. Pak Wakai meninggalkan kami berdua dengan suasana yang canggung, dan kami belum berbicara saat Pak Wakai pergi. Sebaiknya aku menanyakan tentang pembelajaran dia. Batinnya. "Karena mulai besok aku akan jadi guru les kau, aku akan membuat kau menjadi pintar. Tolong, keseriusan kau untuk belajar." Ucap Ringo dengan wajah yang serius menatap Yuki.
Yuki melihat dengan serius terhadap seorang remaja pertengahan yang ada di hadapannya. Tatapan itu ... sangat berbeda dengan guru-guru les yang pernah mengajarkan aku sebelumnya. Batinnya. "Ya." Ucap Yuki yang melihat tatapan Ringo dengan serius untuk mengajarinya.
Yuki beranjak dari sofa untuk mengantarkan Ringo ke kamar yang akan ditempati. "Ikut aku."
Ringo lalu menghabiskan minuman yang dibuat Yuki dan langsung mengikutinya. Ia mengikutinya dari belakang dan mulai melihat kanan dan kiri. Dinding yang sangat indah, bingkai foto di dinding, dan warna catnya yang bagus. Dia sangat beruntung, karena bisa tinggal di tempat yang mewah dan indah seperti ini.
Beberapa menit kemudian, Yuki sudah sampai mengantarkan Ringo ke depan pintu kamar yang akan dia tempati. "Ini, kamarmu." Memberi kunci kepada Ringo.
Berarti dia mengajakku karena ingin mengantarkan aku ke kamar yang bakalan aku tempati. Batinnya. "Terima kasih." Mengambil kunci yang diberikan Yuki.
"Iya." Ucap Yuki yang langsung pergi meninggalkan Ringo di depan pintu kamar.
Kreeek ...
Ringo lalu mulai membuka pintu kamar yang akan dia tempati dan merasa kagum dengan apa yang dia lihat. Wallpaper dinding kamar tidur dengan motif elegan dan warna yang bagus. Ditambah lagi ada dekorasi yang bagus dan masih banyak lagi yang tidak akan aku sebut, karena itu sangat merepotkan.
Dia masuk ke kamarnya dan duduk di tempat tidur. Tch, pasti harganya mahal.
Ringo berbaring di tempat tidurnya dan merasakan kenyamanan yang sangat luar biasa. I-Ini ... luar biasa ..., bantal yang empuk, tempat tidur yang nyaman, selimut yang hangat, ini akan membuat tidurku menjadi nyenyak.
Pukul 02.00 a.m., Ringo terbangun dan terkejut dengan apa yang dia lihat di hadapannya. A-Apa ...!? Yuki ..., kenapa dia di sini? 'kan ini kamarku, kenapa dia tidur di kamarku? Tch ..., jika Pak Wakai melihat ini bakalan jadi masalah. Mau tidak mau, aku tidur di ruang tamu. Dengan pelan-pelan Ringo turun dari tempat tidurnya supaya tidak membuat Yuki terbangun dari tidurnya.
Kreeek ...
Ringo membuka pintu dengan pelan-pelan, supaya tidak membuat Yuki terbangun dan mulai menutup pintunya dengan pelan-pelan juga. Sangat merepotkan.
Kreeek ...
Saat Ringo sudah menutup pintu, Yuki yang pura-pura tertidur pun bangun. Ia melihat Ringo itu ternyata laki-laki yang baik. Ternyata ... dia laki-laki yang baik. Berbeda dengan laki-laki yang menyukai aku, mereka hanya ingin merebut harta kekayaan Ayahku dan juga tubuhku. Tapi, bukan karena ini aku langsung menilai dia kalau dirinya itu baik.
Ringo sudah sampai di ruang tamu, kemudian dia berbaring di sofa dan mulai melanjutkan tidurnya. Selamat malam.
...****************...
Pak Wakai yang baru pulang sambil membawa barang-barang yang baru saja dia beli dan melihat Ringo yang sedang tertidur pulas di sofa. Ringo? Kenapa dia tidur di sini? Apakah Yuki tidak memberitahu kamar yang akan Ringo pakai?
Pak Wakai meletakkan barang-barangnya dan mulai membangunkan Ringo. "Nak Ringo ... bangun ...."
Ringo terbangun dari tidurnya dan melihat Pak Wakai yang ada di hadapannya. "P-Pak Wakai?" Lalu Ringo duduk dengan terburu-buru. "Pak Wakai? A-Ada apa, Pak?"
"Kenapa kau tidur di sini? Apa memang benar, kalau Yuki tidak memberitahu kamar yang akan kau pakai?" Tanya Pak Wakai.
Ringo terdiam sejenak untuk berpikir bagaimana caranya menjawab pertanyaan dari Pak Wakai. Kalau aku katakan yang sebenarnya, ini akan menjadi masalah yang sangat merepotkan. Apakah aku harus berbohong dengan orang yang memberikan aku tempat tinggal sementara?
"Ringo, kenapa kau diam saja? Jawab pertanyaan Bapak." Ucap Pak Wakai.
"Anak Bapak sudah memberitahu kamar yang akan aku tempati, namun tidak terbiasa dengan suhu kamar yang sangat dingin. Jadi, aku memutuskan untuk tidur di ruang tamu, karena suhunya tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin, Pak." Ucap Ringo yang terpaksa berbohong. Maafkan aku, Pak.
Setelah Ringo selesai menjelaskan, Pak Wakai memakluminya, karena ia merasa kalau Ringo belum terbiasa dengan tempat tinggal barunya. "Ternyata begitu."
Pak Wakai mengambil barang-barangnya dan memberinya kepada Ringo. "Ini, untuk kau, Nak Ringo."
Ringo mengambil dan merasa bingung dengan barang-barang yang dikasih Pak Wakai untuknya. "Ini ... untuk aku, Pak?"
Pak Wakai menganggukkan kepalanya dan itu menandakan kalau barang-barang yang diberi memang untuknya. Ringo lalu membuka dan melihat isinya, dan itu adalah seragam sekolah, perlengkapan sekolah dan lain-lain. Itu membuat Ringo bahagia, karena dia bisa sekolah lagi. "I-Ini buat aku, Pak?"
"Iya. Ini semua buat kau, Ringo. Sekolah yang rajin, karena Bapak percaya sama kau, kalau kau bakalan menjadi orang hebat." Ucap Pak Wakai yang penuh harapan.
"Terima kasih, Pak. Percayakan saja sama aku." Ucap senang Ringo.
Ringo lalu melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 05.30 a.m., dan dia bersiap-siap untuk memasak sarapan untuk Pak Wakai dan Yuki. "Sebagai ucapan terima kasih, aku akan membuatkan sarapan yang enak untuk Bapak dan Yuki."
"Kau bisa masak?" Tanya Pak Wakai yang ragu.
"Tentu saja, bisa." Jawab Ringo yang penuh percaya diri.