
...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....
Atsui menge-cek semua kamera CCTV namun tidak ada bahaya yang mengancam. dirinya berpikir dan berpikir untuk mengetahui di mana CCTV yang berbunyi itu. Aduh ... mana nih? Mana CCTV yang bunyi? Dan jantungku mulai berdetak dengan sangat — Jangan-jangan?!
Kreeek ...
Samui membuka pintu dan masuk ke Ruang Kontrol Kamera CCTV. Dia melihat Atsui yang sedang panik karena bunyi dari salah satu CCTV. Ia berjalan dan menekan tombol untuk mematikan bunyi tersebut.
Ceklek ...
Setelah bunyi mati, Samui lalu mencari CCTV yang berbunyi tadi. Beberapa menit kemudian, dirinya berhasil menemukan CCTV yang tadi berbunyi, CCTV itu berada di atas pagar rumahnya. "Adik, lihat ini."
"Gawat, gawat, gawat! Macam mana ini!? Aku belum siap?!" Ucap Atsui yang panik karena dia merasakan kalau Ringo bakalan nginap di rumahnya, sehingga dia tidak dengar apa yang dikatakan kakaknya.
Samui melihat adikknya yang tidak mendengarkannya, sehingga dia melempar buku yang kebetulan ada di sampingnya.
Swishh ...
Buku yang dilempar Samui tadi tepat mengenai wajah Atsui. Seharusnya buku yang terkena wajah Atsui membuatnya diam, tapi malah membuatnya tambah berisik. "Aw ...! Kakak kenapa, sih?! Kenapa Kakak melempar buku itu ke wajahku!? 'kan jadi sakit ini ...."
Ucapan demi ucapan keluar dari mulutnya, yang membuat Samui menjadi kesal. Samui berpikir sebentar untuk mencari cara supaya adiknya yang cerewet ini diam.
Setelah berpikir sebentar, tidak sengaja dirinya melihat Ringo di CCTV. "Ringo datang."
Atsui mendengar itu dan membuatnya semakin berisik. "R-Ringo? Ri ... Ringo? Gawat! Ternyata apa yang aku rasakan tadi benar! Cobaan apa lagi ini! Apa mungkin dia mau menginap di sini!? Gawat, gawat, gawat! Aku belum siap!" Atsui memegang bahu Samui. "Kakak, sekarang dia ada di mana!?"
"Depan pagar." Ucap Samui yang tidak bisa bergerak karena bahunya dipegang erat sama Atsui.
Setelah mendengar itu, Atsui langsung cepat-cepat pergi ke depan pagar rumahnya. "Ringo ...! Aku datang!"
"Walau tidak berhasil membuat dia diam, setidaknya aku berhasil membuatnya pergi." Ucap Samui yang menghela napas.
Di perjalanan, Atsui berpikir kenapa Ringo tiba-tiba mau menginap di rumahnya. Kenapa dia berubah pikiran? Apa tadi dia malu? Oh, Ringo. Kau sangat lucu!
Atsui berlari dan menambah kecepatan larinya, karena dia tidak sabar untuk berjumpa sama Ringo. "Ringo! Aku datang!"
Atsui sudah ada di depan pagar rumahnya dan bersiap-siap untuk bertemu dengan Ringo. "Aku harus siap. Sebelum pagar yang di depanku ini terbuka, aku harus terlihat rapi walaupun belum mandi tapi masih wangi, karena aku memakai parfum."
Mau keluar-masuk harus nunjuki kartu, ini merepotkan. Atsui mengambil kartu tanda pengenal di saku bajunya. Lalu menunjukkan kartu tanda pengenalnya ke arah CCTV yang ada di depan pagar.
Ting ... Ting ...
CCTV itu berbunyi dan pagar yang tertutup itu langsung terbuka secara otomatis. Saat pagar sudah terbuka lebar dan Atsui sudah siap untuk menyambut Ringo. Namun, Atsui terdiam karena Ringo tidak ada. Senyumannya seketika menghilang dan dia berpikir kalau Samui membohonginya. Ke-Kenapa? Ringo? Mana, Ringo? Apakah ... Kakak berbohong?
KRIIING ...!
Saat Atsui ingin tidur, tiba-tiba HP-nya berdering. Atsui langsung membuka HP-nya dan ada satu pesan berupa video masuk dari Samui. Atsui langsung memutar video yang dikirimkan.
Video yang dikirim Samui adalah rekaman CCTV di depan pagar. Atsui melihat kalau Ringo memang datang ke rumahnya dan sedang menekan bel dan itu penyebab CCTV tadi berbunyi. Tapi, sebelum Atsui menemui Ringo, Ringo sudah pergi. Karena itu, pada saat pagar sudah terbuka, Atsui tidak melihat Ringo.
Setelah selesai melihat video yang dikirim Samui. Atsui merasa bersalah, karena telah berpikir kalau Samui membohonginya.
Atsui lalu mengirim pesan yang berisi permintaan maaf dan Samui membaca pesan yang dikirim Atsui, Samui membalasnya dan mengirimkan pesan kepada Atsui kalau dia telah memaafkannya.
Flashback ...
Ringo sudah sampai di depan pagar rumah Atsui dan mencari tombol bel di sekitar pagar tersebut. Setelah beberapa saat mencari, Ringo berhasil menemukan bel yang berada di samping pagar. Pantas saja aku tidak melihat bel ini. Warna pagar dan belnya terlihat sama.
Ting ... Ting ...
Ringo menekan tombol bel dan wajahnya sudah terdeteksi sebagai ancaman yang membuat CCTV berbunyi di tempat Ruang Kontrol Kamera CCTV.
Setelah Ringo menekan tombol bel, tiba-tiba dia teringat salah satu teman dan sekaligus sahabatnya, yaitu Wain. Kenapa aku menginap di sini? Bisa saja tawaran Atsui ini adalah jebakan. Dipikir-pikir lagi, aku baru kenal sama dia dan dia berani menawarkan aku untuk menginap? Jelas-jelas ini jebakan. Sebaiknya, aku pergi saja dari sini dan menginap di rumah Wain.
Ringo tidak jadi menginap di rumah Atsui, karena dia menganggap tawaran Atsui itu adalah sebuah jebakan. Ringo lalu pergi ke rumah Wain untuk menginap di rumahnya.
Flashback selesai ...
Duarr ...!!
Jam 20.30 p.m., suara ledakan yang besar terdengar olehnya saat berjalan ke rumah Wain. "Eh! Suara ledakan apa itu!" Ucap Ringo.
Dak, dig, dug ...
Dirinya sangat khawatir dan jantungnya mulai berdetak dengan sangat cepat. Suara ledakan itu ... seperti di daerah tempat tinggal Wain! Mungkinkah!?
Ringo mulai berlari dengan sangat cepat dan perasaannya diselimuti dengan rasa cemas yang berlebihan. Saat Ringo hampir sampai ke rumah Wain. Ringo melihat banyak sekali mobil polisi, mobil ambulans, dan mobil pemadam kebakaran, seperti kejadian yang baru saja dia alami.
Dia melihat ada polisi yang menjaga dan tanpa pikir panjang dirinya lari terus dan mengabaikan larangan dari polisi dan terus melewati police line. Semua polisi mengejar dia, karena itu adalah tempat yang berbahaya.
Ringo berlari sekuat tenaga dan melihat sekelilingnya. Ia melihat rumah-rumah yang terbakar dan banyak mayat yang mati terbakar. "Tidak, tidak, tidak, tidak! Jangan lagi! Aku tidak ingin kehilangan teman dan sekaligus sahabatku ...! Aku baru saja sudah kehilangan Ibu dan Suika! Sekarang harus kehilangan Wain!?"
Ketika Ringo sudah sampai di depan rumah Wain yang sudah hangus terbakar. Ringo masuk ke rumahnya dan mencari Wain. Karena, bisa saja apa yang dia pikirkan tidak menjadi kenyataan.
Setelah beberapa menit Ringo mencari Wain, dia tidak menemukannya. Polisi yang mengejar tadi, sudah sampai dan menyuruh Ringo untuk keluar dari tempat ini.