
...Karya ini adalah fiksi. Karakter, grub, tempat, adegan, dan lain-lain yang muncul adalah imajinasi. Adanya kesamaan itu merupakan kebetulan, harap tidak ada kekeliruan dengan kenyataan....
Ringo berbalik dan terkejut melihat siapa yang mengatakan itu, ternyata yang mengatakan itu adalah seorang wanita yang tidak dikenalnya. Kau?! Penyusup!
Dirinya mengambil pisau yang berukuran jarum jahit dan dalam sikap siap bertarung. Wanita tersebut melihat hal itu dan mulai tersenyum tipis. "Murid introvert."
Ringo mendengar kalimat itu merasa tidak asing dengan suara yang baru saja keluar dari mulut wanita yang ada di hadapannya. "Mungkinkah?"
"Ya, kau benar. Ini aku."
Kenapa aku bisa lupa kalau dia tinggal bersama Atsui. Jangan panik, terakhir kali aku ketemu dia di Gudang Sekolah, dia mengabaikan aku jadi sebaiknya aku mulai menjelaskan kenapa aku berada di sini. Batinnya. "Aku mengantar Atsui pulang sampai sini. Aku ingin pulang ke rumahku, tapi Atsui memaksaku untuk singgah ke sini. Atsui membawaku ke ruang tamu dan dia sedang pergi ke dapur untuk membawakan aku minum."
"Aku tau itu." Ucap Samui setelah mendengar penjelasan dari Ringo sambil menganggukkan kepalanya.
Tch ... kalau Kak Samui tau, kenapa nanya!? Aku harus bersabar. Batinnya. "Kalau Kak Samui tau, kenapa Kakak nanya lagi?"
"Ternyata, kau tidak sepintar yang aku bayangkan."
"Maaf kalau begitu. Tapi Kak Samui, ternyata Kakak mempunyai adik yang pintar. Aku melihat lemari kaca ini, dan aku tidak menyangka kalau Atsui banyak menerima penghargaan dan banyak memenangkan perlombaan."
"Itu semua, punyaku." Ucap Samui singkat.
A-Apa!? Oke, oke, oke. Aku bilang Atsui pintar? Aku tarik kembali kata-kataku. Karena, ini bukanlah punya dia, melainkan punya Kak Samui. Ringo merasa malu karena dia salah paham, ternyata semua piala-piala dan semua penghargaan itu bukan milik Atsui melainkan milik Samui.
"Kau adalah tamu di sini. Silahkan duduk."
"Terima kasih, Kak Samui."
Ringo dan Samui pun duduk di sofa. Ketika mereka duduk, Ringo mulai membahas tentang ayah Samui. "Maaf sebelumnya, tapi apa Kak Samui pernah bertemu dengan Pak Yoi?"
"Maksud kau, Ayahku? Tidak pernah. Kau juga tidak pernah bertemu dengan Pak Key. Seperti salah satu peraturan dari Istana Kerajaan, 'Siapa saja yang bekerja di Istana Kerajaan, dia tidak diperbolehkan berjumpa dengan keluarganya termasuk juga dengan keluarga besarnya saat anak pertamanya lahir. Jika anak pertamanya lahir, dia akan selamanya di Istana Kerajaan dan tidak diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Kecuali, anak pertamanya meninggal.' Seperti itu."
Ketika Ringo mendengarkan penjelasan dari Samui, Ringo semakin yakin tentang keanehan sistem peraturan Istana Kerajaan. Kenapa harus anak pertama?
"Kenapa saat kau melihatku tadi sangat terkejut?"
"Itu karena aku sangka kalau Kakak adalah penyusup."
"Tidak mungkin penyusup bisa masuk ke sini, apalagi ke dalam rumah. Karena, banyak CCTV yang aktif 24 jam dan juga harus butuh kartu tanda pengenal kami agar bisa masuk melalui pagar dan itu hanya satu-satunya jalan keluar-masuk ke sini."
Benar juga. Melihat ke arah Samui dan membandingkan saat dirinya di sekolah dan di rumah. "Sangat berbeda."
Tidak sengaja Samui mendengar perkataan itu. "Sangat berbeda?"
"Maaf, maksudku Kak Samui berbeda sekali saat berada di sekolah."
Melihat dirinya di lemari kaca. "Berbeda ..., maksud kau pakaianku?"
"Salah satunya."
"Aku di sekolah 'kan sebagai Ketua OSIS dan aku harus berpakaian seperti itu di sekolah. Jujur saja, pakaian itu sangat panas."
Ternyata begitu. Aku baru tau kalau dia adalah Ketua OSIS dan murid yang berprestasi. Memikirkan kejadian di Gudang Sekolah. "Tapi, kenapa Kak Samui mengabaikan aku saat di Gudang Sekolah?"
"Karena, pada saat itu aku sedang sibuk berpikir untuk memilih keputusan dalam rapat OSIS."
Beberapa saat kemudian, Atsui sedang membawa satu gelas susu untuk Ringo. Dia melihat mereka yang sedang membicarakan tentang pekerjaan ayah mereka.
Atsui berjalan ke arah Ringo dan memberikan satu gelas susu kepadanya. "Ini, Ringo. Silahkan diminum ...."
"Terima kasih."
Ringo mengambil satu gelas susu yang diberikan Atsui dan langsung meminumnya sampai habis.
Glug, glug, glug ...
Ringo meminum satu gelas susu yang aku buat. Aku sangat senang, karena dia meminumnya sampai habis.
Samui melihat Ringo yang menghabiskan satu gelas susu yang dibuat Atsui. Dia heran kenapa sanggup menghabiskan minuman itu. "Itu sangat asin, kenapa kau meminumnya sampai habis?"
Saat Samui bilang seperti itu, Atsui baru sadar kalau setiap dia membuat susu selalu banyak memasuki garam. Aku lupa! Kalau setiap aku buat susu, aku selalu banyak memasuki garam!
Ringo mulai menjawabnya dengan tenang. "Ini memang asin, sangat asin. Aku sengaja menghabiskannya, karena aku menghargainya. Coba Kak Samui lihat jari telunjuk kirinya. Sepertinya dia membuka kaleng susu pakai pisau hingga membuat jari telunjuk kirinya terluka dan dia mungkin tidak sengaja memasukkan banyak garam yang membuat rasa susunya asin."
Atsui merasa malu karena menurut atsui, Ringo sangat memperhatikannya. Di-Dia memperhatikan aku!
"Baiklah." Ringo lalu berdiri. "Aku pulang dulu."
Atsui mulai mencegah Ringo untuk pulang. "Eh? Cepat sekali? Menginap di sini saja semalam, ya?"
"Tidak, terima kasih. Lagian, aku tidak bawa baju ganti."
"Pakai bajuku saja."
"Apa kau sehat?"
"Ya-Yaudah, deh. Aku akan mengantar kau sampai rumah."
"Sampai rumah? Tidak perlu. Nanti yang mengantar pulang kau siapa?"
"Oh, iya. Benar juga. Hahaha ...."
"Lebih baik, mengantarku sampai depan pagar rumah kau saja."
"Oke. Ayo, biar aku antar."
"Iya. Kak Samui, aku permisi pulang dulu."
"Iya." Ucap Samui yang menganggukkan kepalanya.
Atsui mengantar Ringo pulang sampai di depan pagar. Selama perjalanan, Atsui mulai mencoba menggoda Ringo. "Ringo, kalau kau menginap di sini, kau akan ditemani dengan cewek-cewek cantik, loh."
Atsui mencoba menggodaku, tapi aku tidak terpengaruh. Karena, aku tidak ingin mengenal tentang cinta.
"Ringo, kenapa kau diam saja? Apa kau m-a-l-u, malu? Hahaha ..., kalau kau mau bilang saja, jangan malu-malu. Dasar pintar tapi pemalu. Hahaha ...."
Selama perjalanan, Atsui menggoda Ringo. hingga di depan pagar, Atsui masih menggodanya.
Atsui membuka pagar dengan menggunakan kartunya dan dia masih saja menggodaku, sampai-sampai membuat telingaku mulai sakit. Terpaksa, aku menggunakan kata-kata andalanku. Sebenarnya aku tidak mau menggunakan cara inj tapi aku harus cepat-cepat pulang. Batinnya.
"Ringo, pagarnya sudah terbuka. Silahkan kalau kau mau pulang. Kalau kau tidak mau pulang, nginap aja di sini. Kau tidak merepotkan, kok. Kalau kau menginap di sini, kau boleh memakai kamarku, kok. Hehehe ...."
Baiklah, ini waktu yang tepat. Aku memegang kepala Atsui. Dia mulai merasa kebingungan saat aku memegang kepalanya. Tapi, ini saatnya aku menggunakan kata-kata andalanku. Batinnya. "Atsui, ketika mata ini memandang raut wajah kau yang indah, hanya tiga kata yang terucap dari lubuk hatiku yang paling dalam."
Dak, dig, dug ...
Ro-Romantis sekali. A-Apa dia ingin menembakku? Jantungku mulai berdetak sangat kenceng. Aku malu sekali ini. Tapi, apakah dia akan bilang 'Aku suka kamu' atau 'Aku cinta kamu', apakah salah satu diantara dua itu? Batinnya. "A-Apa itu?"
Aku melihat wajahnya yang memerah, apakah dia baik-baik saja atau tidak. Aku tidak peduli itu. Aku harus mengatakannya supaya aku bisa pulang. Batinnya. "Aku ...."
Aku ....
"Aku ...."
Aku ....
"Aku pulang dulu." Ucap Ringo.
Setelah Ringo mengucapkan itu, Ringo langsung pulang meninggalkan Atsui.
Aku pulang dulu. Ha? Aku pulang dulu? A-Apa!? Atsui kebingungan dengan perkataan yang dimaksud Ringo.
Atsui melihat Ringo yang sudah pulang. Dirinya mulai sedih karena cowok yang dia sukai sudah pulang dan hanya bisa bertemu dengannya di sekolah saja. Dia sudah pulang, ya? Yah ... kalau begitu hari indahku bersama dia sudah berakhir ....
...****************...
Duarr ...!!
Tepat jam 12.00 p.m., suara ledakan yang besar terdengar oleh Ringo saat berjalan pulang ke rumahnya. A-Apa itu? Suara ledakan apa itu? Kenapa suara ledakannya seperti dekat di rumahku? Sebaiknya aku cepat-cepat pulang.
Ringo berlari dengan cepat dan diselimuti dengan rasa cemas yang berlebihan. Saat Ringo hampir sampai ke rumahnya, dirinya melihat banyak sekali orang berkumpul sampai-sampai ada yang menangis dan teriak dengan histeris, yang membuat dirinya semakin khawatir ditambah lagi dia melihat mobil polisi, mobil ambulans, dan mobil pemadam kebakaran.
Ringo lari terus dan mengabaikan larangan dari polisi dan terus melewati police line. Semua polisi mengejar dia, karena itu adalah tempat yang berbahaya.
Ringo berlari sekuat tenaga dan melihat sekelilingnya. Dia melihat rumah-rumah yang terbakar dan banyak mayat yang mati terbakar. Ringo semakin khawatir dengan keadaan ibu dan adiknya. I-Ibu ... Suika ....
Ringo menahan air matanya karena dia tidak ingin apa yang dipikirkannya itu menjadi kenyataan.