
Sera tidak dapat berbuat apapun, keputusan ayahnya tidak dapat diganggu gugat.
Sera dikurung di apartemen Eun-Woo. Dia tidak bisa pergi tanpa pengawasan dari Eun-Woo.
Fitting baju pengantin, pemotretan prewedding dan persiapan lainnya selalu dikawal beberapa pengawal. Namun Ju-Hwan selalu menemani Sera kemanapun dia pergi, itu adalah persyaratan dari Sera.
Ting.. tong.. ting.. tong..
Eun-Woo membuka pintu apartemennya. "Kau lagi?" Tanya Eun-Woo saat tahu bahwa yang menekan bel apartemennya adalah Ju-Hwan.
"Sera menyuruhku beli ini." Ju-Hwan menenteng satu kota pembalut.
Eun-Woo mengerutkan dahinya. "Ini urgent jadi tolong minggir." Ju-Hwan masuk ke apartemen Eun-Woo meski belum diberi izin.
Tok.. tok..
"Sera ini aku, buka pintunya." Ju-Hwan meminta Sera membuka pintu kamarnya.
Sera membuka pintu, membiarkan Ju-Hwan masuk ke kamarnya dan menutup kembali pintu kamarnya.
"Sera—"
Sera memberi tanda agar Ju-Hwan diam. Ju-Hwan mengerutkan dahi, tidak mengerti.
Sera mengambil ponsel Ju-Hwan, mengetik sesuatu.
[Ssst.. Ju-Hwan menyadap kamar ini. Jadi jangan bicara apapun soal rencana kita.]
Ju-Hwan menepuk jidatnya, dia tidak mengerti lagi dengan Eun-Woo dan ayah Sera yang menyiksa Sera seperti ini.
"Ini pembalut yang kau minta." Ju-Hwan membeli pembalut hanya untuk alasan saja agar bisa bertemu Sera.
"Terima kasih oppa. Bagaimana kabar paman Tae-Hyun?" Sera memberi isyarat agar Ju-Hwan bisa mengimbangi sandiwaranya.
Ju-Hwan dalam mode akting.
"Sera! Sudah kami jangan memikirkan lelaki tidak berguna itu! Dia tidak memikirkanmu sama sekali! Nyatanya dia tidak berbuat apa-apa saat ini? Aku rasa Eun-Woo yang terbaik untukmu." Ju-Hwan menahan tawa, Sera pun juga.
"Dia jahat! Aku kira dia lain dari laki-laki lainnya tapi ternyata tidak. Aku tahu Eun-Woo sebenarnya baik, tapi dia terlalu mengekang dan posesif. Aku tidak bisa bergerak bebas!"
"Itu karena kamu masih saja jutek padanya, cobalah untuk bersikap lembut padanya lalu lihat perbedaannya." Ju-Hwan dan Sera masih beradu akting layaknya aktor dan aktris hebat.
"Baiklah aku akan mencoba melupakan paman Tae-Hyun dan mulai membuka hati untuk Eun-Woo."
"Aku mendukungmu seribu persen. Taklukan arogansinya dan minta ruang untuk melanjutkan karirmu."
"Hmm.. sepertinya setelah menikah harus ada banyak hal yang dibicarakan." Sera dan Ju-Hwan menahan tawa.
"Aku pulang dulu, kau istirahat supaya kulitmu segar besok pagi." Ju-Hwan keluar dari kamar Sera.
"Ehm.. hyung." Eun-Woo memanggil Ju-Hwan dengan sapaan yang tidak biasa.
"Apa? Kau panggil aku apa barusan?" Tanya Ju-Hwan, dia tidak percaya Eun-Woo memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Emm.. aku titipkan Sera padamu untuk mengawalnya pada acara pernikahan kami besok."
"Benarkah?"
Eun-Woo mengangguk mantap. "Sera sangat percaya padamu jadi aku rasa sudah saatnya aku juga melakukan hal yang sama."
"Baiklah, kalau begitu aku yang akan menjaga Sera, jangan khawatir. Kau istirahat, jangan ganggu Sera dia sedang sensitif karena sedang datang bulan. Aku pulang dulu." Ju-Hwan keluar dari apartemen Eun-Woo.
"Tertipu kau Jang Eun-Woo! Belum tahu saja kau apa yang sedang kami rencanakan untuk besok." Gumam Ju-Hwan sambil berjalan.
...----------------...
Di rumah Nami.
Tae-Hyun dan Nami sedang meneguk secangkir teh hangat.
"Aku benar-benar tidak menyangka kita akan membicarakan hal ini. Hmm.. aku rasa aku mulai dewasa sekarang." Nami menyeruput teh.
"Aku harap kau dapat lelaki yang baik. Jauh daripada aku." Kata Tae-Hyun.
"Jelas."
"Terima kasih sudah membantuku."
"Aku menjualnya dengan harga 70% dari harga pasar."
"Waah.. cinta mengalahkan segalanya, termasuk harta dan harga diri." Sindir Nami.
Tae-Hyun sudah menjual apartemennya, untuk sementara dia tinggal di rumah Nami.
Tae-Hyun, Sera, Nami dan Ju-Hwan diam-diam sudah menyiapkan skenario epic untuk esok hari.
...----------------...
...HARI H!...
Ju-Hwan menjemput Nami di rumahnya. Nami akan disamarkan menjadi penata rias Sera. Hanya Nami yang dapat masuk ke ruang rias pengantin.
Nami masuk ke ruang rias menemui Sera.
"Lama tidak bertemu." Sapa Nami.
"Aku tidak menyangka akan bekerja sama dengan bibi." Kata Sera yang masih berpakaian biasa.
"Aku juga, aku tidak menyangka akan merelakan orang yang aku sukai, bahkan membantunya kabur membawa wanitanya." Kata Nami.
Sera memeluk Nami, "Maafkan aku bibi, aku harap kau dapat lelaki baik yang cocok untukmu."
"Jangan seperti ini, aku jadi semakin sedih." Nami melepaskan pelukan Sera.
"—ayo kita mulai." Nami mendandani Sera dengan rambut palsu pendek yang menyerupainya dan baju yang sama persis dengan yang dia pakai. Nami berganti baju memakai gaun pengantin serta aksesorisnya untuk mengelabui orang-orang.
Ju-Hwan masuk ke ruang rias, "Sera ayo, sebelum semakin ramai orang, sebentar lagi Eun-Woo akan sampai." Ju-Hwan adalah sutradara dalam drama kali ini.
"Bibi, sekali lagi aku berterima kasih, semoga kita bisa bertemu lagi." Sera memeluk Nami sebentar lalu pergi bersama Ju-Hwan.
Ju-Hwan berhasil membawa Sera ke dalam mobil. Dia akan mengantar Sera bertemu Tae-Hyun di sebuah tempat.
Tae-Hyun sudah menunggu di jalan sepi di dekat jurang. Jalan itu tidak terakses CCTV, tempat yang cocok untuk lokasi drama kali ini.
Ju-Hwan dan Sera sampai di lokasi. Sera berlari memeluk Tae-Hyun.
Ju-Hwan dan Tae-Hyun mendorong mobil yang Tae-Hyun pakai ke jurang. Hal ini mereka pakai agar seolah Sera dan Tae-Hyun kecelakaan saat sedang kabur.
"Cepat pergi ke pelabuhan. Kapalnya sudah mau berangkat." Ju-Hwan meminta Sera dan Tae-Hyun untuk cepat-cepat pergi.
"Oppa terima kasih." Sera menangis sambil memeluk Ju-Hwan.
Ju-Hwan juga tidak dapat menutupi kesedihannya berpisah dengan Sera.
"Kau harus jaga Sera baik-baik, aku sudah bertaruh nyawa membuat skenario ini!" Ancam Ju-Hwan lada Tae-Hyun.
"Gomawo." Tae-Hyun dan Sera pergi ke pelabuhan menggunakan mobil sewaan.
Rencananya Tae-Hyun akan membawa Sera ke Rusia melalui jalur darat. Perjalanan akan sangat panjang karena transit di berbagai tempat untuk menuju ke Rusia.
Tapi bagaimana lagi, jalur laut memang yang paling cocok untuk misi pelarian mereka.
"Aku tidak menyangka paman berani melakukan semua hal ekstrim ini." Sera memeluk Tae-Hyun sambil memandang lautan tenang.
"Aku sudah gila karena mu, maka dari itu aku putuskan untuk memaksimalkan kegilaanku." Tae-Hyun pasrah tubuhnya dipeluk Sera.
"Uang kita kira-kira cukup untuk berapa lama?"
"Kalau hidup biasa mungkin dua tahun. Makanya kau jangan belanja yang aneh-aneh."
"Aku akan bekerja."
"Untuk dua bulan pertama kita lebih baik tidak bekerja dulu, meminimalisir pergerakan."
"Kalau begitu kita akan banyak berdua di rumah dong?" Sera menatap nakal.
"Aku mau tidur saja, di sini dingin." Tae-Hyun masuk ke dalam ruangan di kapal, Sera mengikutinya.
Kini mereka berdua akan memulai hidup baru, benar-benar baru, bahkan dengan identitas baru pula.
...- E N D -...
...- N A L A D H I P A -...