
“Good morning.” Sera mencium pipi Tae-Hyun berkali-kali.
“Berhenti.” Tae-Hyun menutup mukanya dengan selimut.
“Bangun, ayo kita makan pagi.” Sera menyalakan pengering rambut agar Tae-Hyun terganggu, dan berhasil Tae-Hyun akhirnya bangun.
“Hahh..” Tae-Hyun melihat badannya masih polos tanpa terbalut satu helai benang pun.
“Aku sudah olahraga tapi paman baru bangun, ckck.. lelaki pemalas macam apa ini?”
Tae-Hyun menutup badannya dengan selimut lalu berlari ke kamar mandi.
“Chh.. kenapa harus malu, semalam saja dia…..” Sera tersenyum bahagia.
“Paman, aku tunggu di tempat makan buffet ya.” Sera mengetuk pintu kamar mandi lalu keluar kamar menuju tempat makan.
Sera melihat puluhan menu makan pagi yang berjajar.
“Hmm.. terlihat lezat, tapi aku harus menjaga badanku. Hmm.. tapi ya sudahlah sekali ini saja.” Sera mengambil semaunya makanan yang ingin dia makan. Padahal biasanya Sera sangat pilih-pilih makanan, terutama makanan berlemak tidak akan dia pegang.
Sera memilih meja dekat pintu. Pengunjung hotel tidak terlalu banyak saat ini.
“Waaah.. kau kerasukan setan apa Lee Sera?” Tanya Tae-Hyun saat datang.
“Hehe.. kali ini saja aku ingin makan semauku tanpa memikirkan diet.” Kata Sera.
“Seharusnya kau tidak perlu diet, olahraga rutin saja.” Tae-Hyun mencomot kue bolu kecil.
“Tidak, aku harus diet, hanya sekali ini saja makan seperti ini.”
“Hmm.. terserah kau saja, aku ambil makan dulu.” Tae-Hyun mengambil makan secukupnya lalu kembali ke meja makan.
“Benar kau ternyata.”
Sera dan Tae-Hyun kaget saat melihat Eun-Woo tiba-tiba muncul.
“Bagaimana bisa kau tahu aku disini?” Sera tidak percaya Eun-Woo sepagi ini sudah berada di Daegu.
“Ayo kembali ke Seoul.” Eun-woo menarik tangan Sera, dengan sigap Tae-Hyun menepis tangan Eun-Woo.
“Jangan kasar.”
Eun-Woo menyeringai. “Ada hak apa kau melarangku? Aku ini tunangannya, hampir semua orang di negara ini tahu siapa aku dan Sera.”
Tae-Hyun melihat sekitar yang sedang memperhatikan mereka bertiga.
“Hahh.. Sera, ikutlah dengan dia, orang-orang sedang memperhatikan kita. Keadaannya akan jadi rumit kalau kau tetap bersamaku.” Tae-Hyun mengalah.
“Tapi–”
“Ikutlah bersama dia, aku berjanji akan menjemputmu, oke?” Tae-Hyun memegang kedua pundak Sera.
“Baiklah.” Sera dengan berat hati mengikuti Eun-Woo.
“Kau tidak membutuhkannya.” Eun-Woo menggenggam tangan Sera erat lalu membawanya masuk ke mobil.
“Ini gila, ayah terlalu memanfaatkanmu. Padahal dia bisa menyuruh orangnya untuk menjemputku, tapi dia malah memintamu jauh-jauh datang kesini.” Sera memakai sabuk pengamannya.
Eun-Woo mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.
“Kau pasti marah ya karena harus menempuh jarak yang jauh hanya untuk menjemputku? Maaf ya Eun-Woo.” Sera merasa bersalah pada Eun-Woo.
“Ayahmu tidak memintaku melakukan apapun, dia hanya memberitahu bahwa kau dibawa paksa oleh lelaki itu.” Wajah Eun-Woo tampak garang, terlihat kekesalan dari wajahnya.
“Lalu siapa yang memintamu menjemputku? Ayahmu??”
Eun-Woo tidak menjawab, dia fokus mengendalikan mobil. Setelah perjalanan selama dua jam akhirnya mereka sampai di apartemen Eun-Woo.
“Kenapa kesini?” Tanya Sera saat masuk ke apartemen Eun-Woo.
“Aku tidak bisa tidur dan terus memikirkanmu setelah ayahmu memberitahuku. Aku langsung mengerahkan anak buahku untuk mencarimu.”
Sera memperhatikan wajah Eun-Woo, dia terlihat marah.
“Jadi kau marah karena membuang waktu dan tenaga untuk mencariku? Tapi kenapa? Ayahku tidak memintamu kan?”
“Karena hatiku tidak tenang jika kau bersama lelaki itu.” Suara Eun-Woo bergetar, dia menahan emosi.
Sera mengerutkan dahi, dia masih tidak paham mengapa Eun-Woo marah padanya.
“Kenapa hatimu tidak tenang? Aku kan hanya tunangan palsumu.”
“Hahhh.. kau tunanganku, kau milikku! Aku akan meminta izin presdir Lee untuk membawamu tinggal disini.”
“Kau sudah gila ya?? Kenapa??” Sera benar-benar tidak habis pikir, apa yang membuat Eun-Woo berperilaku aneh seperti ini.
“Aku rasa aku mulai menyukaimu Lee Sera,”
“APA?? Hah.. jangan bercanda!”
“Aku tidak bercanda, kau adalah milikku, aku tidak ingin lelaki lain berada disisimu. Aku mohon tinggalah bersamaku, menikahlah denganku.”
“Aku tahu, kau sedang bersandiwara kan? Kau pasti akan dapat hadiah lagi dari ayahmu jika berhasil menikahiku kan? Aku juga begitu, tapi maaf Eun-Woo aku sudah menemukan pilihanku.”
“Pilihan?”
“Iya, aku akan meninggalkan ayah, aku akan mencabut namaku dari kartu keluarga ayah. Aku akan menyerahkan semua harta yang ayah berikan, melepas semua fasilitasnya. Aku akan hidup bersama Gong Tae-Hyun.”
“Lee Sera jangan berpikir kau akan bisa melakukan hal itu.” Eun-Woo mengambil jasnya.
“Ini kartuku, pakailah semaumu untuk belanja. Tapi jangan berpikir kau bisa kabur dariku.” Eun-Woo meletakan black card di tangan Sera lalu pergi.
“Hah.. apa-apaan sih dia? Bisa gila aku.”
Bersambung...