My Crush My Step Father!

My Crush My Step Father!
Bab 33 : Gosip.



BRAK…


Dong-Gun membanting sejumlah foto Sera bersama Ki Joon di meja ruang tamu.


"Apa-apaan ini?" Nada suara tinggi melengking langsung menggelegar di ruangan itu.


Pagi ini media setempat heboh dengan berita dari foto-foto Sera dan Ki Joon yang beredar.


"Sudah di konfirmasi itu hanya foto-foto biasa. Kenapa ayah heboh sekali?" Sera berdiri, dia hendak meninggalkan ruang tamu, tapi Dong-Gun menarik tangannya.


"Apa sih ayah? Aku ada jadwal pemotretan!" Sera menepis tangan Dong-Gun.


"Kau selalu saja membuat masalah! Ayah banyak merugi karena ulahmu!!" Dong-Gun marah besar.


"Salah ayah mau mengakui dan memperkenalkan aku pada media sebagai anak ayah. Kalau saat itu ayah tidak sok menjadi gentleman tidak akan begini ceritanya." Sera sebenarnya juga sudah lelah bertengkar terus dengan ayahnya.


"Jaga omonganmu Lee Sera!!" Dong-Gun mengangkat tangannya hendak menampar Sera tapi ditepis.


"Aku tidak akan mengalah sedikitpun pada ayah. Silahkan saja ayah melakukan apapun sesuai kehendak ayah, karena aku juga akan melakukan apapun sesuai kehendak diriku sendiri." Sera melepaskan tangan ayahnya lalu pergi keluar, diikuti oleh Ju-Hwan.


"Sera kau terlalu kasar pada presdir Lee." Kata Ju-Hwan sambil menyalakan mesin mobil.


"Aku berjanji pada diriku sendiri untuk melawan ayah sekuat tenaga. Aku ingin membuatnya lelah menghadapiku lalu melepaskanku begitu saja." Sera duduk di kursi penumpang sebelah Ju-Hwan.


"Hah.. kau ini."


"Oppa, apa media heboh sekali soal fotoku dan Ki Joon?" Tanya Sera.


"Iya, lalu foto masa lalu kalian juga banyak beredar hari ini. Tapi tanggapannya positif, karena tahu bahwa kau dan Ki Joon sudah berteman sejak lama." Ju-Hwan mulai menyetir.


"Aku belum sempat menghubungi Ki Joon. Aku merasa tidak enak padanya." Sera mengambil ponselnya dia hendak menghubungi Ki Joon.


"Jangan sekarang, Ki Joon pasti sedang dimata-matai. Nanti tengah malam saja, atau kirim pesan saja." 


"Emm.. baiklah."


Baru Sera mau mengetik pesan untuk Ki Joon, sebuah pesan masuk.


'Massage from Eun-Woo.


Ada yang harus kita bicarakan.'


Sera menghela nafas kasar, ingin rasanya dia membuang makhluk satu ini ke planet lain.


'Aku dan Ki Joon tidak ada hubungan apa-apa jadi tidak usah dibicarakan lagi.'


Sera membalas pesan Eun-Woo.


TING!


'Massage from Eun-Woo.


"Apa dia sudah GILA??! Dasar lelaki brengs*k!" 


Ju-Hwan sampai kaget mendengar umpatan Sera. "Apa lagi sih Sera? Mengagetkan saja."


Tidak menggubris Ju-Hwan, Sera segera menghubungi Eun-Woo.


"Apa maksudmu??" Tanpa menyapa, tanpa basa-basi Sera langsung membicarakan intinya.


"Sudah aku bilang kita akan tinggal bersama. Jadi aku rasa butuh barang-barang baru untuk mengisi kamarmu."


"Tidak! Aku tidak butuh!!"


"Uww.. apa artinya kau mau tinggal satu kamar denganku??"


"YAK! JANG EUN-WOO!! Kau sudah gila ya?! Aku tidak akan tinggal bersamamu!!" Sera semakin emosi, dia sampai menurunkan suhu AC mobil karena merasa gerah.


"Coba saja kalau bisa melawan. See you at my apartment Sera." Eun-Woo seenaknya saja memutus telepon.


"Hasshh.." Sera membuang ponselnya sembarangan di kursi belakang.


Ju-Hwan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Sera yang kekanak-kanakan kalau sedang emosi.



Di rumah sakit tempat Tae-Hyun bekerja, hampir semua karyawan menggosip soal Sera dan Ki Joon.


Tae-Hyun sebenarnya tahu tapi dia berpura-pura tidak tahu.


Tok.. tok..


"Masuk."


Kreek..


Nami masuk ke ruangan Tae-Hyun membawa segelas es americano


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Nami sambil menyodorkan es americano.


"Thank you! Seperti yang kau lihat, aku sehat, aku baik-baik saja." Tae-Hyun sibuk dengan berkas-berkas pekerjaannya.


"Aku tahu itu hanya gosip belaka, tapi seluruh rumah sakit bahkan satu kota ini sedang membicarakannya. Aku tidak yakin kalau kau baik-baik saja." Nami duduk di depan meja kerja Tae-Hyun.


"Aku tidak peduli dengan omongan orang, aku hanya percaya pada Sera. Dan pagi tadi dia sudah menjelaskan tentang foto itu. Lagi pula masalah ini tidak begitu penting." Tae-Hyun berhenti bekerja dia menatap Nami seolah ingin Nami tahu bahwa dirinya dan Sera tidak gentar dengan masalah-masalah yang menimpa mereka.


"Baiklah, terserah kau saja. Aku hanya mengatakan kekhawatiranku, karena kau sedang dalam promosi naik jabatan. Jangan sia-siakan kesempatan ini agar delapan belas tahun pengabdianmu dengan rumah sakit ini tidak sia-sia." Nami pergi dari ruangan Tae-Hyun.


"Hah.. ada-ada saja masalahnya." Tae-Hyun memijat ujung keningnya.


Bersambung...