
Sera duduk menunggu Eun-Woo di restoran yang Eun-Woo tunjuk. Sudah hampir kima belas menit berlalu tapi Eun-Woo tidak kunjung datang.
"Dia yang buat janji dia yang telat." Gumam Sera saat melihat Eun-Woo berjalan menghampirinya.
"Maaf ada tamu penting yang datang mendadak di kantor." Eun-Woo terlihat terburu-buru mendatangi Sera, nafasnya memburu karena berlari kecil.
Sera hanya mengangguk pelan tidak begitu peduli dengan alasan yang Eun-Woo buat.
"Kau terlihat cantik."
"Tentu saja, kartu kredit Jang Eun-Woo yang membuatku tampil cantik malam ini. Gomawo!" Kata Sera sambil mengibaskan rambutnya membuat Eun-Woo tersenyum geli.
Suasana restoran tidak ramai pengunjung, lampu remang-remang sangat mendukung interior restoran yang bergaya barat.
"Tempatnya romantis ya?"
Sera mengerutkan dahi mendengar basa-basi busuk dari Eun-Woo.
"Tidak usah basa-basi seperti itu, menggelikan."
"Kenapa sih dari tadi cemberut?" Eun-Woo ternyata memperhatikan Sera sejak awal.
"Tidak tuh. Ayo pesan makan, aku lapar." Sera menyodorkan buku menu ke Eun-Woo.
"Kau mau makan apa?" Tanya Eun-Woo sambil membuka buku menu.
"Apa saja yang penting enak, aku sedang ingin makan enak apa pun itu."
"Tumben sekali? Kau tidak diet?"
"Memangnya menurutmu aku gendut?!" Sera sedang tidak baik suasana hatinya.
"Kau sedang datang bulan ya? Galak sekali." Eun-Woo geleng-geleng.
Drrt.. ddrrrrt..
Ponsel Sera bergetar, telepon masuk dari Tae-Hyun, namun segera ditolak oleh Sera.
"Siapa?" Tanya Eun-Woo penasaran.
"Kenapa mau tahu?" Jawaban Sera semakin galak.
Drrt.. drrrt..
Lagi, panggilan masuk dari Tae-Hyun, dan ditolak lagi. Kali ini Sera langsung menonaktifkan ponselnya.
...----------------...
"Hashh.. malah dinonaktifkan, dia benar-benar marah rupanya." Tae-Hyun meletakan ponselnya sembarangan di meja. Kepalanya terasa mau pecah, karirnya terancam stak, jalan di tempat.
Tok.. tok..
"Masuk."
Nami masuk ke ruangan Tae-Hyun. "Ayo pulang, aku traktir minum. Sudah lama kita tidak minum bersama." Ajak Nami.
Tae-Hyun berpikir sejenak, dia memang sudah berencana untuk minum alkohol setelah pulang untuk merilis stresnya.
"Boleh, tunggu di luar aku siap-siap dulu."
"Aku tunggu di tempat parkir." Nami keluar dari ruangan Tae-Hyun.
Tak lama Tae-Hyun datang, lalu mereka pergi menggunakan mobil Tae-Hyun.
Tae-Hyun dan Nami minum di sebuah kedai kecil tempat favorit mereka.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Yang penting kau masih bisa bekerja. Akan ada kesempatan lagi lain waktu, jangan putus asa." Nami menuangkan soju ke gelas Tae-Hyun.
"Kesempatan? Untukku? Aku tidak begitu yakin." Tae-Hyun meneguk soju.
"Aku tidak akan menyalahkanmu tentang kejadian kantor polisi. Jika aku jadi kau, aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi, buruknya lawanmu adalah konglomerat yang bisa dengan mudah memutar dunia dengan uangnya." Nami ikut meneguk soju.
"Hmm.. aku memang terlalu drama, dulu aku mencintai Hana bertahun-tahun lamanya tanpa balasan. Setelah dapat balasan cinta dari orang yang aku cintai dia dipanggil Tuhan dalam waktu yang sangat cepat. Sekarang aku mencintai anaknya dan harus melalui jalan yang berliku tajam. Kehidupan asmaraku sangat tidak beruntung." Tae-Hyun meratapi nasibnya.
"Salah sendiri kau tidak menyukaiku, haha.."
"Sudah jangan dibahas, aku akan merasa bersalah padamu." Tae-Hyun meneguk lagi sojunya, entah sudah gelas yang ke berapa.
"Sudah ah.. jangan dianggap serius. Aku kan cuman bercanda. Kau ini! Tidak seru." Wajah Nami memerah karena malu.
"Tapi aku berharap kau menemukan lelaki yang baik dan bisa menyayangimu apa adanya. Kau patut mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik daripada aku." Tae-Hyun memandang Nami.
"Hentikan, aku bisa menangis kalau kau terus begitu. Aku tidak tahu harus menjawab apa." Nami merebut botol soju yang Tae-Hyun bawa.
Malam itu Nami bisa membuat Tae-Hyun melupakan sejenak tentang beban hidupnya.
Bersambung...