
Sera berjalan gontai di trotoar, dia memikirkan apa yang Nami katakan.
"Apa benar selama ini aku merugikan paman?" Sera terus saja berpikir sambil berjalan tanpa tujuan.
Tiiiiiiiin… tiiiiiin..
Sera kaget mendengar bunyi klakson yang keras, dia menoleh.
"Ki Joon??"
"Sedang apa kau berjalan kaki sendiri?" Tanya Ki Joon.
"Oh.. tidak aku hanya sedang berjalan tanpa tujuan saja." Jawab Sera santai.
"Tanpa tujuan? Kenapa begitu? Kalau begitu ayo masuk." Ki Joon sebenarnya juga sedang tidak ada tujuan makanya dia mengajak Sera untuk masuk ke mobilnya.
"Oh.. memangnya kau mau kemana?" Sera memakai sabuk pengaman.
"Sudah masuk saja dulu." Ki Joon sedang berpikir menentukan tempat tujuan.
Sera akhirnya setuju untuk masuk ke mobil Ki Joon. Sera juga sedang free dan dia tidak ada tujuan mau kemana.
"Kau mau kemana memang? Tumben pergi sendiri tanpa manajer?"
"Aku sedang free schedule, jadi bebas mau kemana saja. Sebenarnya aku tidak punya tujuan mau kemana sih." Ki Joon menggaruk kepalanya, dia akhirnya mengaku pada Sera.
"Emm.. kau sedang diet tidak?" Tanya Sera tiba-tiba.
"Tidak, kenapa? Mau mengajakku makan?"
"Bagaimana kalau kita makan topoki yang dulu sering kita beli?" Tiba-tiba saja Sera ingat saat masih menjadi trainee model bersama Ki Joon mereka sering sekali membeli topoki di dekat gedung agensi lama mereka.
"Boleh." Ki Joon langsung menyetujui ide Sera, selai tidak bisa menentukan tujuan Ki Joon juga rindu topoki itu. Dia dengan semangat menyetir hingga sampai ke tempat yang mereka tuju, namun ternyata kedai topoki yang mereka maksud sudah tidak ada.
"Bagaimana ini? Ternyata sudah tidak berjualan lagi?" Sera tampak kecewa karna dia sudah membayangkan makan topoki do tempat itu.
"Kita cari topoki di tempat lain saja, disekitar sini ada banyak kok." Ki Joon tahu Sera kecewa makanya dia memberi ide untuk mencari tempat kedai topoki lainnya.
"Tidak, kita ke mini market saja. Aku ingin makan ramyeon." Tujuan Sera sudah berubah begitu cepat, secepat kilat.
"Baiklah." Ki Joon mengikuti Sera, mereka berdua berjalan tidak jauh dsri gedung agensi untuk menuju mini market yang mereka tuju.
Mereka makan sambil menceritakan banyak hal, mengenang masa trainee, menceritakan kesibuka mereka dan membicarakan drama yang akan mereka mainkan bersama.
"Waah.. kalau begitu sudah lama sekali ya kita tidak makan ramyeon bersama." Kata Ki Joon saat mereka baru saja mengingat momen terakhir mereka makan ramyeon bersama.
"Iya, kau tahu sendiri kan kita begitu takut gemuk saat itu jadi kita jarang mengkonsumsi ramyeon padahal enak sekali." Sera masih sibuk menyantap ramyeon-nya.
"Iya kau benar, masa trainee memang sulit. Jika kita naik 0,1 kilo saja sudah kena poin pinalti. Tapi sekarang aku bahkan makan ramyeon sebelum tidur." Ki Joon membanggakan diri tentang makan ramyeon seoalh membanggakan diri menang award.
"Bohong sekali kau, perutmu saja kotak-kotak bagaimana bisa mengaku sebagai predator ramyeon?" Sindir Sera.
"Itu hanya ilusi belaka, sebelum pemotretan yang mengharuskan aku untuk memamerkan bentuk tubuhku aku mati-matian olahraga dan diet, setelah pemotretan aku makan ramyeon, hahaha.."
Sera dan Ki Joon tertawa, mereka banyak bicara hal-hal tidak penting, namun cukup menghibur bagi hati Sera yang sedang sedih.
...----------------...
Di rumah sakit..
Nami masuk ke ruangan Tae-Hyun.
"Maaf mengganggu, aku hanya ingin bilang tadi abak tirimu datang."
"Oya? Sekarang dimana dia?" Tanya Tae-Hyun.
"Aku menyuruhnya pulang."
"Apa?? Kenapa kau menyuruhnya pulang?"
"Tidak baik untuk image-mu. Kau sedang di promosikan sebagai manajaer umur, jika terlibat sebuah skandal bisa dicabut kesempatan emas itu."
Tae-Hyun terdiam sesaat.
"Hmm.. Baikalah, terima kasih sudah memberitahu. Aku akan menghubungi Sera setelah pekerjaanku selesai. Kau boleh meneruskan pekerjaanmu Nami, terima kasih." Tae-Hyun mengusir Nami secara halus.
"Baiklah, aku keluar."
Nami sangat peka dengan sinyal yang Tae-Hyun kirimkan padanya.
Bersambung...