My Crush My Step Father!

My Crush My Step Father!
Bab 38 : Tae-Hyun sakit.



Cekrek.. cekrek..


"Oke bagus, angka dagu sedikit ke kiri Sera. Oke bagus, berputar sambil sedikit mengibaskan rambut." Arahan fotografer dilakukan dengan baik oleh Sera.


Sebagai model profesional Sera sudah terbiasa dengan arahan fotografer, suara bising dan flash light saat pemotretan.


Kali ini Sera sedang melakukan pemotretan untuk sebuah merek skincare.


Ju-Hwan sedang sibuk memberitahu pada staf pemotretan bahwa ada coffee truck kiriman dari Eun-Woo.


"Oke, selesai. Good job Sera, terima kasih." Kata Fotografer.


Sera dibantu beberapa staf keluar dari area pemotretan.


"Kopi?" Ju-Hwan memberi segelas kopi pada Sera.


"Thank you!" Sera melihat ada fotonya menempel sebagai stiker di cup kopi.


"Apa-apaan ini? Oppa memesan coffee truck ya?" 


"Bukan, Eun-Woo yang mengirim."


"Apa?" Sera berlari ke luar studio melihat coffe truk dengan banner yang besar bertuliskan 'Lee Sera sayangku semangat, tolong bantuannya untuk tunangan saya yang cantik. Terima kasih.'


"Ih.. norak sekali sih bannernya?" Sera kesal sendiri melihatnya.


"Tapi dia perhatian sekali lho Sera." Kata Ju-Hwan.


"Ya itu karena dia ada maunya." Sera berjalan kembali ke ruang rias.


"Aku tunggu disini ya, kamu ganti baju dulu sana." Kata Ju-Hwan.


"Hmm.." Sera masuk ke ruang rias untuk ganti baju.


Selesai urusan ganti baju Sera meminta Ju-Hwan membawanya ke rumah sakit. Sera sudah tidak tahan marahan dengan Tae-Hyun. Dia ingin segera berbaikan.


Sesampainya di rumah sakit Sera langsung menuju kamar mandi karena selama perjalanan dia menahan buang air kecil.


"Ahh.. leganya." 


Terdengar suara dua orang sedang berbincang di kamar mandi.


"Manajer Gong dan Nami sama-sama tidak berangkat. Aku yakin terjadi sesuatu semalam." Kata seorang petugas cleaning service.


"Hush.. kau ini, manager Gong kan sudah berpacaran dengan anak almarhum Hana."


"Iya aku tahu, tapi Nami kan sudah lama menyukai manajer Gong. Semalam mereka pergi berdua, Nami sempat bilang akan mengajak manajer Gong minum untuk melepaskan stres." Kedua petugas cleaning service itu asik membicarakan Tae-Hyun dan Nami.


"Kasihan manajer Gong, dia jadi kehilangan kesempatan untuk naik jabatan karena berurusan dengan polisi."


"Yang salah adalah pacarnya! Gara-gara dia manajer Gong jadi kehilangan kesempatan emas yang sudah dia tunggu selama ini." 


Beberapa orang masuk ke kamar mandi lalu kedua petugas cleaning service itu pergi.


Setelah merasa keadaan aman Sera langsung keluar dari bilik kamar mandi dan langsung pergi keluar rumah sakit mencari taxi menuju apartemen Tae-Hyun.


Sesampainya di gedung apartemen Sera berlari masuk menuju lift, dia langsung menuju lantai tempat Tae-Hyun tinggal.


Ting.. tong.. ting.. tong..


Sera tidak sabar, dia memencet bel dengan brutal.


Tae-Hyun membuka pintu apartemen.


"Kau.. hacim.. hacim.. hacim.." Wajah Tae-Hyun memerah, matanya sayu, dan terlihat tidak segar.


"Paman sakit?" Tanya Sera sambil memegang dahi Tae-Hyun.


Tae-Hyun hanya mengangguk, "Aku sangat merindukanmu, maaf.. aku ingin sekali memelukmu tapi aku sedang, hacim.. hacim.. sakit." Tae-Hyun sedang demam dan flu.


Sera menyeret Tae-Hyun masuk ke apartemen, dia menyuruh Tae-Hyun untuk berbaring.


Sera mengambil air hangat untuk mengompres dahi Tae-Hyun.


"Maaf." Suara Tae-Hyun lirih.


"Tidak usah dibahas yang penting kau sembuh dulu." Sera tidak


"Kau sudah tidak marah kan?" 


Sera tidak menanggapi. "Kenapa tidak cerita soal gagal naik jabatan padaku?" Sera malah membahas hal lain.


"Kau tahu dari mana soal itu?"


"Dari kamar mandi rumah sakit." Sera dengan telaten mengompres dahi dan tangan Tae-Hyun.


"Kamar mandi??"


"Hmm.. ada dua orang petugas cleaning service yang membicarakan soal paman dan bibi Nami yang pergi minum berdua." Kata Sera dengan nada jutek.


"Aku tidak punya teman selain dia, maaf, hacim. Pulang sana nanti kau ketularan sakit." Tae-Hyun tidak ingin Sera ikut-ikut sakit.


"Dasar, mau mengalihkan pembicaraan ya?" Sera malah mengira Tae-Hyun mau menghindarinya.


Ting.. tong.. ting.. tong.. ting.. tong..


"Siapa sih memencet bel sampai begitu?" Sera kesal mendengar suara bel yang mengganggu.


Tae-Hyun hendak bangun tapi Sera melarangnya. Sera mengintip dari lubang pintu, ternyata Eun-Woo. Sera kembali ke kamar Tae-Hyun.


"Eun-Woo, dia pasti mau menjemputku, huh.. ayolah paman kita kabur saja." Lagi-lagi Sera membicarakan soal kabur.


"Pulanglah, kita bahas saat aku sudah sembuh. Oke?" 


"Hmm.. baiklah, jangan lupa makan dan minum obat, aku pulang." Sera membawa tasnya lalu membuka pintu apartemen.


Bersambung...