
Tae-Hyun dan Sera makan siang di cafe yang tidak jauh dari rumah sakit.
"Ayahmu masih berulah?" Tanya Tae-Hyun sambil menikmati kopinya.
"Tidak, dia malah memberiku saham Enivrant."
"Wow.. jadi kamu sekarang sudah jadi pemilik Enivrant?"
"Tidak juga, ayah baru memindahkan delapan persen saja, dia bilang kalau aku menikah dengan Eun-Woo aku akan dapat dua puluh dua persen lagi.”
“Lalu kau juga mau sandiwara menikah dengan Eun-Woo? Demi memiliki saham?” Alis Tae-Hyun terangkat.
“Tapi ini bukan sembarang saham paman, dua puluh dua persen saham Enivrant, artinya aku akan menjadi pemegang saham utama.” Sera sengaja ingin membuat Eun-Woo cemburu.
“Aku tidak ingin jadi orang ketiga di rumah tanggamu, sebelum kau dan Eun-Woo menikah kita harus putus kalau begitu.”
Mata Sera berbinar. “Putus? Aa.. jadi sekarang kita sudah benar-benar resmi berpacaran ya?” KEdua tangan Sera menopang dagunya diatas meja.
Tae-Hyun berkedip-kedip beberapa kali, dia merasa salah bicara.
“Emm.. ya, kalau kau mau.” Tae-Hyun mengatakannya dengan suara yang lirih.
“Apa? Aku tidak dengar, coba katakan lagi?” Sera sangat senang menggoda Tae-Hyun.
“Minggu depan adalah hari peringatan meninggalnya ibumu, kau ingat kan?” Tae-Hyun mengalihkan pembicaraan.
“Hmm.. jelas saja aku ingat, seperti biasa kan? Kita lakukan di apartemen paman?”
“Hmm.. hah.. bisa gila aku.” Tae-Hyun mengacak-acak rambutnya.
“Paman ini kenapa sih?”
“Aku bisa merasakan bahwa ibumu di surga sedang menertawakan ku, dia tahu bagaimana aku menahan perasaan ku padamu selama ini, aku berjanji padanya untuk menahan perasaan ini. Tapi lihat sekarang apa jadinya? Hahh..” Tae-Hyun terlihat frustasi.
“Kenapa paman imut sekali sih?” Sera mencubit kedua pipi Tae-Hyun.
“Lepas Sera!.”
Sera melepaskan cubitannya.
“Eun-Woo.. aku rasa dia menyukaimu.”
“Eun-Woo?? Hahaha.. jangan asal ngomong paman, tidak mungkin.” Sera meneguk jus semangka.
“Kenapa memangnya?”
“Aku dan Eun-Woo adalah partner, kita sama-sama mengincar harta ayah kita. Sudah hanya itu tujuan kita bertunangan, tidak ada lainnya. Jadi paman tidak usah khawatir soal Eun-Woo.”
“Tapi aku bisa merasakan bahwa anak itu menyukai mu.”
“Bilang saja paman cemburu kan?”
“Tidak!”
“Hahh.. sudah selesai makannya kan? Ayo aku antar pulang, aku masih harus bekerja.” Tae-Hyun berdiri.
“Oke, bekerja yang rajin ya paman untuk bekal hidup kita berdua.” Sera ikut berdiri.
“Yak! Lee Sera jangan berlebihan kita ini baru saja pacaran.”
Sera melingkarkan tangannya di tangan Tae-Hyun.
“Lelaki ku sayang Gong Tae-Hyun.” Sera menyandarkan kepalanya di lengan Tae-Hyun.
Tae-Hyun hanya tersenyum, anehnya dia menyukai sikap Sera yang manja padanya.
...----------------...
Seol-Hyun masuk ke gedung perusahaan J.H.S untuk menemui Eun-Woo.
“Saya anak ketiga presdir Lee Dong-Gun, saya ingin bertemu Eun-Woo oppa.” Kata Seol-Hyun ke resepsionis.
Lalu seorang pengawal perusahaan mengantar Seol-Hyun ke ruangan Eun-Woo.
“Aigo.. kenapa kau kesini? Masih memakai seragam sekolah pula.” Eun-Woo kaget saat Seol-Hyun mendatanginya.
“Aku baru saja melihat kak Sera makan dengan Gong Tae-Hyun, mereka terlihat mesra.” Seol-Hyun memperlihatkan foto yang dia ambil di cafe.
“Lalu apa maumu?”
“Jika aku berikan ini pada ayah dia pasti akan menghukum kak Sera lagi. Aku ingin mengetes Eun-Woo oppa.”
“Aku?? Tes? Tes apa memang?”
“Haruskah aku berikan foto ini ke ayah?” Seol-Hyun ingin tahu apakah Eun-Woo menyukai Sera atau tidak, jika Eun-Woo menjawab jangan maka dia membela Sera, bisa jadi dia benar menyukainya.
“Terserah kau saja, tidak ada hubungannya denganku.” Meski ragu dengan jawabannya sendiri tapi Eun-Woo tidak ingin terlihat aneh jika dia membela Sera.
“Kalau begitu aku ada kesempatan kan?”
Eun-Woo mengerutkan dahi. “Kesempatan apa maksudmu?”
“Aku menyukaimu oppa, jika kak Sera akan menyusahkanmu. Batalkan saja pertunangan kalian, lalu bertunangan denganku, bagi oppa akan sama saja kan? Aku juga anak ayah.” Dengan percaya diri Seol-Hyun berkata seperti itu.
Eun-Woo tertawa, dia berjalan mendekati Seol-Hyun.
“Lee Seol-Hyun, kau ini lucu sekali. Sudah sana pulang , kerjakan PR mu, anak sekolah dilarang berkeliaran di sini.”
Seol-Hyun memanyunkan bibir. “Lihat saja aku akan membuat oppa jatuh cinta padaku.” Seol-Hyun pergi dari ruangan Eun-Woo.
“Waaah.. gila, dia memang cocok jadi adik Sera, sama-sama gilanya, huft..” Eun-Woo tak habis pikir Seol-Hyun bisa berterus terang tentang perasaannya.
Bersambung...