
Setelah berdiskusi dengan Ju-Hwan, akhirnya Sera setuju untuk mengambil sebuah peran sebagai pemeran pembantu di sebuah drama.
Hari ini adalah hari pembacaan naskah bagi semua pemain.
“Huft.. aku gugup oppa.” Sera merasa gugup karena ini pengalam pertama baginya.
“Jangan khawatir, sutradara dan penulis kemarin memujimu kan. Itu artinya aktingmu bagus dan sangat cocok dengan karakter ini.” Ju-Hwan masih konsentrasi menyetir mobil.
Tak lama mereka sampai di tempat pembacaan naskah. Sera dan Ju-Hwan turun dari mobil, mereka menyapa seluruh kru dan pemain.
“Lama tidak bertemu Lee Sera.” Sapa Ki Joon, aktor terkenal yang dulunya adalah teman satu sanggar dengan Sera,
“Kyaa.. lihat penampilan Ki Joon sekarang, keren sekali.” Sera memukul bahu Ki Joon. “Aww.. bahumu kencang sekali si.”
“Makanya jangan asal memukul.” Ki Joon memulai karir sebagai model namun akhirnya dia fokus menjadi aktor sekarang.
“Aku senang, kerja kerasmu terbayar sudah. Sekarang siapa yang tidak kenal dengan Ki Joon? Kau benar-benar pekerja keras yang pantang menyerah Ki Joon, aku bangga dan senang mengenalmu sejak dulu.” Tiba-tiba di otak Sera terputar kenangannya dengan Ki Joon saat masih sama-sama menjadi trainee model.
“Aku juga senang kamu akhirnya mau mencoba berakting.” Ki Joon memiliki wajah tampan, dan badannya yang tinggi dan berotot membuatnya semakin rupawan , pantas saja kalau dalam waktu yang tidak lama Ki Joon sudah mendapatkan popularitas yang luar biasa.
“Terpaksa, karena kau butuh uang.”
“Apa?? Hahahaha..” Ki Joon tertawa. “Ckck.. seorang anak konglomerat butuh uang?” Sindir Ki Joon.
“Justru karena aku ini anak konglomerat makanya aku harus menandingi uang ayahku agar bisa bebas darinya.”
Ki Joon mengerutkan dahinya, dia tidak paham dengan kata-kata Sera, terdengar tidak pantas dikatakan oleh seorang Sera.
“Hmm.. ya pokoknya aku ingin mencoba dunia akting, siapa tahu aku bisa menjadi pemeran utama juga sepertimu.”
“Kapanpun kau butuh bantuan aku akan membantu, jadi jangan sungkan-sungkan untuk minta bantuanku Lee Sera.” Senyum Ki Joon membuat Sera sekejap lupa bahwa dia sudah punya kekasih.
“Terimakasih Ki Joon.”
“Ayo masuk, yang lain pasti sudah menunggu.”
Akhirnya Sera dan Ki Joon masuk, mereka mengikuti pembacaan naskah untuk drama. Meski awalnya sedikit tidak percaya diri namun berkat bantuan sutradara dan penulis naskah Sera menjadi lebih yakin dan percaya diri, dia melakukan yang terbaik untuk debut aktingnya.
“Kau yakin? Nanti presdir bisa menghukummu lagi lho?” Kata Ju-Hwan, mencoba untuk membuat Sera mundur.
“Kalau oppa tidak memberitahu ayah dia tidak akan tahu. Jadi semua ini tergantung oppa, paham?” sindir Sera,
“Hah.. tapi presdir meminta lapor setiap malam, jadi aku harus bilang apa?” Ju-Hwan sebenarnya juga tidak ingin melaporkan apa yang Sera lakukan tapi dia tidak punya pilihan lain.
“Laporkan saja bahwa pembacaan naskah sampai malam.”
“Kalau begitu nanti aku jemput ya? Aku akan mengantarmu ke rumah agar presdir tidak curiga. Bagaimana?” Akhirnya Ju-Hwan membela Sera.
“Nah.. begitu dong oppa. Oke, nanti aku hubungi kalau aku mau pulang, sekarang aku mau pacaran dulu, bye.” Sera keluar dari mobil lalu berlari masuk ke rumah sakit.
“Ckck.. anak itu.” Ju-Hwan heran kenapa Sera bisa tergila-gila dengan Tae-Hyun.
...----------------...
Nami melihat Sera dari kejauhan sedang menuju ruangan Tae-Hyun, buru-buru Nami mengejarnya.
“Kau tidak kapok bertemu dengan Tae-Hyun? Kau malah sengaja kesini? Kau ini tidak tahu malu atau bagaimana sih??” Tanpa aba-aba Nami langsung menyemprot Sera dengan omelan.
“Bibi sedang menstruasi ya? Kenapa marah-marah begitu sih?” Sera menanggapi dengan santai.
“Aku serius.”
“Ups.. atau jangan-jangan bibi sudah menopause??”
“Yak! Lee Sera! Aku serius, saat kau datang kesini hanya untuk menemui Tae-Hyun, orang-orang bergunjing tentang Tae-Hyun. Di depannya mereka baik tapi di belakangnya mereka membicarakan hal jelek tentangnya. Aku tidak rela Tae-Hyun dibicarakan seperti itu.”
Sera melihat wajah Nami yang tampak sedih dan khawatir, dia lalu berpikir bahwa apa yang dia lakukan mungkin memang salah.
“Baiklah, aku akan pulang. Sampaikan saja pada paman aku datang.” Dengan wajah kecewa Sera akhirnya tidak jadi menemui Tae-Hyun.
Nami tersenyum, dia merasa menang kali ini. “Dasar bocah!”
Bersambung...