
Dong-Gun masih kepikiran tentang sikap Sera yang terlihat aneh pagi tadi. Sejak sampai kantor dia tidak bisa berkonsentrasi bekerja.
Dong-Gun merasa terusik dengan sikap Sera yang tidak biasa.
"Benar-benar aneh sikapnya, apa aku terlalu keras padanya? Hmm.. Aku malah lebih suka saat Sera dengan berani melawanku dari pada dia pasrah seperti saat ini."
Dong-Gun menghela nafas kasar. Dia mencoba mencari cara agar Sera kembali menjadi dirinya sendiri.
Dong-Gun mengambil ponselnya, dia memilih untuk minta bantuan pada Eun-Woo.
"Siang Eun-Woo." Sapa Dong-Gun.
"Siang presdir Lee, tumben menghubungi saya?" Tanya Eun-Woo.
"Apa kau sedang sibuk?"
"Tidak, saya baru saja selesai meeting dengan petinggi perusahaan. Sepertinya ada sesuatu yang serius?" Eun-Woo mulai penasaran karena suara Dong-Gun terdengar tidak bersemangat seperti biasa.
"Aku menghukum Sera, dia tidak boleh kemana-kemana. Aku mengambil ponselnya dan memblokir semua akun banknya."
"Apa?? Kenapa tiba-tiba begitu?"
"Dia masih menemui lelaki itu."
"Lalu kenapa anda menghibungi saya?"
"Pagi tadi Sera tampak pucat dan tidak bersemangat. Semalam aku juga menemparnya, aku minta tolong jenguk dia, hibur dia sejenak." Kali ini Dong-Gun benar-benar mengkhawatirkan Sera.
"Hmm.. baik saya akan menjenguk Sera setelah mengurus pekerjaan saya sebentar."
"Terima kasih Eun-Woo."
"Sama-sama presdir Lee."
Dong-Gun memutus panggilan jarak jauhnya dengan Eun-Woo.
...----------------...
Tak butuh waktu lama, kini Eun-Woo sudah sampai di rumah Sera.
"Wow.. tumben siang-siang begini datang kemari?" Sambut Subin.
Eun-Woo memberi hormat.
"Aku mencari Sera, presdir Lee yang menyuruhku."
"Oh.. Sera ya. Masuk saja, dia ada di kamarnya Sejak tadi pagi dia tidak keluar kamar, padahal ayahnya tidak mengurungnya di kamar, hanya tidak boleh keluar rumah saja." Jelas Subin.
"Kalau begitu saya masuk, permisi." Eun-Woo berjalan menuju kamar Sera.
Tok.. tok..
"Siapa?" Seru Sera dari dalam kamar.
"Eun-Woo, boleh masuk?"
"Masuk saja tidak dikunci."
Sera sedang membaca buku di sofa.
"Kenapa kesini??" Tanya Sera ketus.
"Ayahmu khawatir dia memintaku untuk datang melihat kondisimu." Eun-Woo duduk di sebelah Sera.
"Dia hanya pura-pura khawatir. Hmm.. Ini ulah mu kan??" Sera mengira bahwa Eun-Woo yang melaporkan pada ayahnya soal dirinya dan Tae-Hyun.
"Mungkin kau tidak akan percaya, tapi faktanya bukan aku yang melakukannya." Jelas Eun-Woo.
Eun-Woo baru kali ini melihat Sera tidak memakai riasan wajah, rambutnya masih setengah basah, auranya berbeda dengan Sera yang selama ini dia kenal.
"Sudah lihat kan bagaimana keadaanku sekarang? Jadi pulang saja sana."
"Pipimu masih lebam. Kau harus mengoleskan salep agar bekasnya cepat hilang." Eun-Woo melihat pipi Sera sedikit lebam.
"Tidak perlu khawatir, nanti juga hilang." Sera mengambil bukunya lagi, meneruskan membaca.
"Tinggalah bersama ku di apartemenku."
Sera menatap Eun-Woo bingung.
"Kenapa tiba-tiba begitu?"
"Kau terkihat stres di sini, kau biss sedikit bernafas lega jika tinggal di apartemenku."
Sera berpikir sejenak.
"Pertimbangkan saja dulu." Kata Eun-Woo.
"Bawa aku ke tempat paman Tae-Hyun sekarang." Sera malah minta diantar menemui Tae-Hyun.
"Tidak, aku sibuk, aku harus kembali ke kantor."
Sera memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah, terima kasih sudah menjenguk walau tidak bawa apa-apa." Sindir Sera.
"Kau butuh sesuatu? Aku akan membelikannya."
"Tidak terima kasih."
"Hmm.. aku akan coba membujuk ayahmu agar mencabut hukumannya." Kata Eun-Woo sebelum keluar dari kamar Sera.
"Kadang-kadang dia bisa baik juga." Sera bergunam saat Eun-Woo sudah pergi.
–
Di rumah sakit Tae-Hyun tidak bisa fokus bekerja karena seharian Sera tidak bisa dihubungi.
"Kenapa ponselnya di matikan sampai sekarang? Jangan-jangan Sera dikurung lagi? Apa aku ke rumahnya saja? Hah.. tidak.. tidak, sama saja pasti tidak akan diijinkan masuk." Tae-Hyun menyandarkan kepalanya di kursi.
"Aku tunggu saja dulu sampai besok." Tae-Hyun mencoba bersabar menunggubkabar dari Sera.
Bersambung...