
“Hmm.. bawa semua proposalnya ke rumah ya oppa.” Sera sedang menghubungi Ju-Hwan. Sera baru saja menaiki tangga menuju kamarnya.
“Aku kira kakak tidak akan kembali kesini?” Seoul-Hyun datang menghampirinya.
“Hmm.. iya oke, sudah dulu ya oppa aku bertemu penyihir junior.” Sera memutus percakapannya dengan Ju-Hwan.
“Penyihir junior??” Seol-Hyun melotot.
“Kau pasti kecewa ya aku kembali kesini? Tapi maaf ya, aku harus kembali kesini, aku tidak bisa keluar dari sini sebelum mengambil harta ayah dengan jumlah yang banyak.” Sera sengaja membuat Seol-Hyun merasa gerah.
“Haha.. aku tidak akan tinggal diam kalau begitu.” Seol-Hyun menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Silahkan saja, aku tidak takut. Lakukan apa maumu, aku juga akan melakukan apa mauku!” Sera tak kalah garang, dia tidak ingin kalah dari adik tirinya itu.
“Sera?”
Sera dan Seol-Hyun menoleh saat mendengar suara kakak lelaki mereka.
“Se-Hun oppa?” Sera sumringah melihat kakak tirinya itu. Berbeda dengan Sera, Seol-Hyun terlihat sungkan.
“Rupanya Seol-Hyun juga disini, aku tidak tahu kalau kalian sekarang akrab.” sindir Se-Hun.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh oppa, sejak kapan aku bisa akrab dengannya.” Sera semakin diatas awan karena dibela oleh kakaknya.
“Kalian ini kakaknya kenapa malam membulinya seperti itu?” Subin datang, Seol-Hyun langsung memeluk ibunya.
“Siapa yang kau maksud? Aku? Sera? Jangan sok tahu, kami tidak berbuat apa-apa.” Se-Hun adalah anak pertama Dong-Gun dengan istri pertamanya yang sudah cerai.
Se-Hun sangat tidak menyukai Subin dan Seol-Hyun, Se-Hun menganggap Subin sebagai perusak rumah tangga kedua orang tuanya. Namun Se-Hyun tidak membenci Sera karena ibu Sera memilih untuk tidak mengganggu kehidupan rumah tangga kedua orangtuanya.
Se-Hun juga menganggap ibu Sera sebagai korban mata keranjang ayahnya.
“Ayo masuk Sera, ada yang harus aku bicarakan denganmu.” Se-Hun mengajak Sera masuk ke kamarnya.
“Sudah lama tidak melihat oppa.” Kata Sera.
“Maaf aku lama tidak menemuimu, bahkan saat kau tunangan aku tidak datang.” Se-Hun duduk di sofa, sedangkan Sera duduk di tempat tidur.
“Tunangan palsu, jadi tidak masalah.”
“Aku tahu, asistenku menceritakan semuanya padaku. Kau ini gila ya? Melompat dari sini kan tinggi, lain kali jangan diulangi lagi.” Se-Hun dan Sera memang dekat sejak dulu.
“Kalau ayah tidak mengurungku aku tidak akan melakukan hal ekstrim seperti itu oppa.”
“Lalu kenapa kau mau bertunangan?” Tanya Se-Hun.
“Katanya kau dapat saham Enivrant?”
“Iya, tapi hanya sedikit, ayah curang, dia mau memberikan lebih banyak dari yang wanita itu punya saat aku berhasil menikah. Hmm.. dia tahu bahwa itu hanya pertunangan palsu. Tapi masalahnya Jang Eun-Woo malah bilang bahwa dia menyukaiku.” Sera memanyunkan bibirnya.
“Hahaha.. bagus dong akhirnya tunanganmu bukan palsu lagi, kau bisa menikah dan dapat saham yang banyak.” Ejek Se-Hun.
“Chh.. tidak sudi, aku mau kabur dari ayah saat uangku sudah banyak lalu menikah dengan paman.”
“Gong Tae-Hyun? Kau masih belum menyerah padanya?” Se-Hun adalah orang yang Sera ajak curhat dulu, termasuk soal Tae-Hyun, jadi dia banyak tahu.
“Jangan salah, akhirnya dia mengakui perasaannya. Kami sekarang berpacaran, bahkan kami sudah tidur bersama.” Sera dengan bangga mengatakannya.
Se-Hun tertawa sambil bertepuk tangan. “Aku salut pada kegigihanmu mengejarnya. Selamat akhirnya kamu bisa meraih apa yang kau inginkan.”
“Oiya.. apa yang ingin oppa bicarakan padaku?” Tanya Sera.
“Ya ini semua yang sudah kita bicarakan, aku ingin mendengar kabarmu dan semua cerita konyolmu, sangat menghibur, bravo.” Se-Hun bertepuk tangan layaknya Sera melakukan sebuah prestasi besar.
“Aku bahkan baru pulang oppa, aku semalam tidur di apartemen paman.”
“DAEBAK!! Ayo kita pergi makan di luar, aku lapar tapi masih ingin mendengarkan ceritamu.” Se-Hun bersemangat mendengarkan Sera bercerita.
“Maaf oppa, aku sedang menunggu manajerku, katanya dia mau membawa beberapa proposal drama dan iklan yang masuk.”
“Kau mau main drama??”
“Iya.”
“Bukannya kau anti berakting?”
“Aku mau mengumpulkan uang agar bisa lepas dari ayah.”
“Kau memang sesuatu Sera, oppa bangga padamu.” Se-Hun memeluk Sera.
“Ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentangmu, ya sudah aku pulang saja.” Se-Hun bersiap pulang.
“Terima kasih oppa sudah mengkhawatirkanku.” Sera merasa senang kakaknya itu masih mengasihinya.
“Katakan kau butuh bantuan ya.” Se-Hun keluar dari kamar Sera.
Bersambung..