
Eun-Woo sudah menunggu di tempat parkir studio tempat Sera pemotretan.
"Lama sekali sih." Sudah lebih dari satu jam Eun-Woo menunggu Sera.
"Itu dia." Eun-Woo bergegas keluar dari mobil.
"Lee Sera." Teriak Eun-Woo sambil melambai-lambaikan tangan.
Sera terkejut melihat keberadaan Eun-Woo.
"Kenapa malah dia yang kesini? Padahal paman yang bilang mau datang." Sera celingukan mencari mobil Tae-Hyun tapi tidak ketemu.
"Cari apa sih?" Tanya Eun-Woo.
"Bukan urusan kamu. Kenapa kamu disini?" Tanya Sera ketus
"Aku akan membawanya, presdir Lee sudah tahu. Jadi anda bisa pulang sekarang, terima kasih sudah menjaga tunangan saya dengan baik." Eun-Woo meminta Ju-Hwan untuk pergi.
"Emm.. baiklah kalau begitu sampai jumpa—"
Sera menahan Ju-Hwan.
"Oppa! Kenapa meninggalkan aku begitu saja sih? Oppa kan manajerku, aku akan ikut oppa."
"Sera maaf, sepertinya dia diutus ayahmu. Aku tidak ingin ikut campur jika sudah berurusan dengan ayahmu." Ju-Hwan berbisik ke Sera.
"Oppa aku mohon." Wajah Sera memelas meminta belas kasihan agar Ju-Hwan mau menolongnya.
"Sera ayo ikut aku." Eun-Woo menarik pelan tangan Sera.
"Lepas! Mau kamu apa Eun-Woo?"
Ju-Hwan pergi meninggalkan Sera begitu saja.
"Aku mau kau tinggal bersamaku."
"Untuk apa? Apa dengan begitu kau akan dapat suntikan dana lagi dari ayahmu?" Sera tidak bisa berpikir positif tentang Eun-Woo.
"Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya?" Eun-Woo menatap Sera secara intens dan serius.
Sera membuang pandangannya.
"Aku tidak ingin mendengarnya aku tidak ingin tahu. Jadi lepaskan aku." Sera berusaha melepaskan genggaman tangan Eun-Woo.
"Kau membuatku gila, kau seharusnya milikku tapi bukan milikku. Kau wanita pertama yang mengabaikanku untuk pria lain." Harga diri Eun-Woo terasa tersakiti dengan sikap Sera padanya itulah yang semakin membuat Eun-Woo penasaran pada Sera.
"Aku pikir kau akan menjadi partner yang baik tapi ternyata tidak. Kau terlalu mendalami sandiwara ini." Sera kembali mencoba melepaskan genggaman tangan Eun-Woo tapi malah semakin kuat menggenggamnya.
"Eun-Woo lepas."
BUK!!!
Eun-Woo tersungkur di aspal saat Tae-Hyun tiba-tiba datang dan langsung menonjoknya.
"APA-APAAN KAU??" Eun-Woo berteriak.
"Aku tidak akan tinggal diam jika kau mengusik wanitaku." Tae-Hyun menarik Sera untuk berdiri di belakang punggungnya.
"Hahaha.. apa wanitamu? Hei.. bung, dia wanitaku buka wanitamu." Eun-Woo berdiri, dia menyeka darah segar yang keluar dari ujung bibirnya.
"Sera minggir." Tae-Hyun meminta Sera untuk menepi, karena dia ingin memulai perkelahian dengan Eun-Woo.
Adu jotos antara keduanya pun tidak bisa dihindari. Sera berteriak minta tolong lalu beberapa petugas keamanan melerai mereka.
Keduanya sama-sama sudah berdarah di bagian wajah.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu Sera." Tae-Hyun masih tidak bisa menahan emosinya.
Eun-Woo menyeringai. "Lihat saja siapa yang akan menang diantara kita." Eun-Woo berjalan masuk ke mobilnya lalu membawa mobilnya melaju kencang.
"Tidak perlu, ayo pulang." Tae-Hyun menarik tangan Sera masuk ke mobil.
"Tapi luka paman?" Sera mengambil tisu lalu membersihkan darah di ujung bibir dan ujung dahi Tae-Hyun.
"Tidak masalah, namanya juga lelaki." Tae-Hyun bercermin melalui kaca spion dalam.
Sera mulai menangis karena merasa bersalah. "Maaf gara-gara aku, jadi seperti ini,huhuhu.."
Tae-Hyun memeluk Sera, menepuk punggungnya sambil mengelus rambut panjangnya. "Bukan salahmu, brandal satu itu yang buat masalah, sudah ya jangan menangis." Tae-Hyun menyeka air mata di pipi Sera.
"Kalau kau menangis seperti ini jadi ingat waktu kau masih SMP dulu saat nilai rapormu jelek kau menangis seharian dan tidak mau makan sampai ibumu tidak masuk kerja karena bingung." Tae-Hyun tidak menyangka anak kecil dalam ingatannya itu kini menjelma menjadi wanita cantik yang berhasil menggantikan posisi ibunya.
"Kalau begitu ayo cepat ke apartemen paman, lukanya akan membekas kalau tidak buru-buru diobati."
"Baiklah." Tae-Hyun memasangkan sabuk pengaman untuk Sera lalu melaju.
–
Sesampainya di apartemen Tae-Hyun, Sera buru-buru mengobati luka di wajah Tae-Hyun.
"Awas saja kalau lukanya membekas akan aku bunuh Jang Eun-Woo." Sera merasa tidak terima kekasihnya dihajar oleh Eun-Woo.
Tae-Hyun tersenyum, "Ternyata begini rasanya punya kekasih."
"Jangan bicara nnti obat olesnya masuk ke mulut." Kata Sera.
Ting.. tong.. ting.. tong..
Tae-Hyun hendak berdiri untuk membuka pintu, tapi ditahan oleh Sera, akhirnya yang membuka pintu.
"Kami dari kepolisian sektor Gangnam." Seorang polisi memperlihatkan surat penangkapan pada Sera.
"—kami akan membawa tuan Gong Tae-Hyun ke kantor polisi sebagai tersangka pemukulan terhadap tuan Jang Eun-Woo." Ada tiga polisi yang datang.
Sera berusaha menutup pintu tapi gagal, ketiga polisi itu masuk lalu membawa Tae-Hyun.
"Apa-apaan ini? Lepaskan dia!" Sera berusaha menarik Tae-Hyun.
"Sera tenang, aku tidak apa. Kau baik-baik disini ya." Tae-Hyun mencoba menenangkan Sera.
"Kalau begitu aku harus ikut, aku adalah saksi!!" Pinta Sera pada polisi tapi tidak digubris, polisi resmi membawa Tae-Hyun ke luar apartemen.
Sera langsung menghubungi Eun-Woo.
"Apa-apaan ini?? Hal kecil begitu kenapa sampai membawa polisi??" Sera langsung marah pada Eun-Woo.
"Hal kecil? Tidak bagiku, wajahku luka, dna dia yang memulai duluan. Dia pantas dapat pelajaran." Kata Eun-Woo diseberang sana.
"Yaak! Jang Eun-Woo!! Lepaskan Gong Tae-Hyun sekarang juga!!" Sera sampai menangis karena terlalu emosi.
"Bisa saja dengan satu syarat."
Sera menghela nafas dia sudah menebak pasti akan ada konsekuensinya bernegosiasi dengan Eun-Woo.
"Apa?"
"Kau harus tinggal denganku."
Sera menarik nafas dalam, "Oke, setelah dia keluar dari penjara aku akan tinggal bersamamu."
"Oke, kalau begitu tunggu saja. Karena sudah masuk ke ranah polisi maka dia tetap akan diinterogasi, mungkin hanya beberapa jam. Jadi malam ini kita akan tinggal satu atap Lee Sera."
Sera tidak menanggapi apapun dia langsung memutus pembicaraan. "Dasar lelaki licik!"
Bersambung...