
"Bagus.. masih ingat juga jalan ke rumah?" Sindir Dong-Gun saat Sera baru saja masuk rumah.
"Sebenarnya aku tidak ingin pulang kesini tapi. Aku merasa kalah jika pulang kesini, tapi aku seperti tidak akan bisa terlepas dari rumah ini. Aku seperti anjing yang dipasang rantai di lehernya." Sera berjalan melewati ayahnya.
"Jangan pernah berharap ayah akan merestui hubunganmu dan Tae-Hyun." Suara Dong-Gun meninggi.
"Aku tidak butuh restu dari ayah atau siapapun. Aku sudah terbiasa sendiri."
"Tapi kau anak ayah, anak presdir Lee Dong-Gun!! Kau tidak boleh bersikap seenaknga!!" Dong-Gun marah.
"Ayah baru tahu bahwa aku ada di dunia ini saat aku berusia dua belas tahun, dan ayah baru mengakui bahwa aku ini anak ayah saat usiaku enam belas tahun. Lalu sekarang ayah merasa bahwa seluruh hidupku adalah milik ayah??!" Sera tidak bisa menahan air matanya, rasa tidak adil membuatnya merasa sedih.
Dong-Gun terdiam, apa yang Sera katakan adalah fakta dia tidak bisa membantahnya.
"Ayah tidak pernah memperlakukanku sebagai seorang anak! Jadi jangan berlagak seperti seorang ayah untukku!!"
PLAK..
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sera.
"Jaga omonganmu Lee Sera, masuk ke kamarmu SEKARANG!!"
Sera berlari menuju kamarnya. Ia menangis di balik pintu kamarnya.
"Ini tidak adil, mengapa Tuhan menjadikan lelaki jahat itu ayahku? Huhuhu.." Sera menenggelamkan wajahnya di kedua tangan.
"Dia tidak pernah menganggapku sebagai anak, dia tidak pernah menyayangiku dan sekarang dia menghalangi kebahagiaanku." Sera tidak dapat membendung kekecewaan hatinya terhadap sang ayah.
...----------------...
Ting.. tong.. ting.. tong..
Eun-Woo mendatangi apartemen Tae-Hyun. Dia merasa terusik dengan hubungan Sera dan Tae-Hyun.
"Untuk apa kau kesini? Ada urusan apa?" Tae-Hyun menyambut dingin kedatangan Eun-Woo.
"Ada beberapa hal yang perlu kita bahas jadi izinkan aku masuk." Eun-Woo menerobos masuk ke apartemen Tae-Hyun.
"Katakan apa maumu? Aku usah bertele-tele."
"Lepaskan Sera." Eun-Woo juga tidak ingin bertele-tele, sebenarnya dia juga malas untuk bicara dengan Tae-Hyun.
Tae-Hyun tersenyum kecut.
"Rupanya kau sudah terlalu dalam menjiwai peran."
"Kami tidak peduli soal omongan orang lain. Aku tidak akan menahannya lagi, aku akan berjuang demi Sera." Tae-Hyun tampak sangat serius.
"Jangan bermimpi, presdir Lee tidak akan tinggal diam. Dia akan terus ikut campur untuk memisahkan kalian, kalian tidak akan hidup dengan tenang jika terus bersama."
"Aku akan merebut Sera dari ayahnya."
"Hahaha.. kau pikir hal presdir Lee akan mudah dikalahkan?? Dia punya uang dan kekuasaan kau tidak akan bisa mengimbanginya." Eun-Woo berdiri.
"Kau boleh pulang kalau sudah selesai bicara." Tae-Hyun mengusir secara halus.
"Kalau kau memang mencintai Sera seharusnya kau tidak menempatkan Sera pada posisi sulit. Sera adalah model terkenal, dia anak seorang konglomerat, semua gerak geriknya akan menjadi berita dan itu akan mengganggu mentalnya." Eun-Woo mendekat ke Tae-Hyun, kini jarak mereka hanya beberapa centimeter saja.
"Kau yang akan mempersulit Sera. Dia sudah setengah gila menghadapi ayahnya, sekarang tunangan palsunya ikut campur juga." Mata mereka saling bertemu, seperti ada api di mata masing-masing.
Eun-Woo menyeringai.
"Kita lihat saja siapa yang menang." Eun-Woo pergi dari apartemen Tae-Hyun.
"Hahh.. urusan dengan Dong-Gun semakin runyam sekarang lelaki bedebah ikut malah ikut campur." Tae-Hyun memijat ujung dahinya.
Memang benar hubungannya dan Sera tidak akan berjalan mudah.
...----------------...
Sera pamit terlebih dahulu saat selesai makan malam bersama ayahnya, Subin dan Seol-Hyun.
Sera berniat masuk ke kamar.
"Kenapa orang yang selalu membuat ayah marah dan kecewa malah mendapatkan saham yang jumlahnya tidak sedikit. Kakak seharusnya bersyukur ayah selalu memberikan hal yang besar untuk kakak." Seol-Hyun menahan langkah Sera masuk ke kamar.
"Aku tidak memintanya, kalau mau diambil silahkan. Aku tidak butuh!"
"Aku yang melaporkanmu ke ayah. Aku tidak sengaja melihatmu dan ayah tirimu di cafe."
"Apa katamu?"
Seol-Hyun menyeringai tanpa meneruskan omongannya, dia pergi begitu saja.
"Hah.. Bisa benar-benar gila aku, apa-apaan sih dia? Apa yang dia mau?" Sera masuk ke kamar, kepalanya pusing, masalah datang bertubi-tubi seakan tidak memperbolehkannya bahagia.
Bersambung...