
Kami sampai rumah sakit sesaat sebelum waktu maghrib tiba. Sebelum menemui Hilmy, aku pamit untuk ke mushola terlebih dahulu. Sementara Vany, dia langsung menuju ruangan Hilmy karena kebetulan dia sedang berhalangan.
Baru selesai mengambil wudhu, aku duduk menunggu waktu magrib yang tinggal beberapa menit lagi.
Gawaiku lagi-lagi berbunyi, pasti laki-laki menyebalkan itu. Malas jadinya.
Ku lihat nama di layar, ternyata Bimo.
[Rin, tadi lu nyariin gua? Ada apaan? Tadi Iguh nelpon, cuma gua lagi di lapangan. Hape nya ketinggalan, ini baru balik kantor] pesan bari Bimo.
[Gak apa apa!] jawabku singkat. Jujur aku masih kesal karena di kerjai Teguh.
Aneh, biasanya Bimo akan mencecarku, tapi kali ini, dia tidak melakukan itu. Padahal, jawaban yang ku berikan cenderung ketus.
Waktu maghrib sudah masuk. Aku ikut berjamaah dengan yang lain, di mushola rumah sakit.
Selesai sholat, aku beranjak menuju ruangan dimana Hilmy di rawat.
Menelusuri koridor rumah sakit, ku lirik kiri dan kananku, terlihat lengang. Cukup angker, apalagi ini sudah masuk waktu malam.
Tak banyak orang yang berlalu lalang. Angin berhembus, menerobos celah-celah kerudung. Mengusap sisi penakut dalam diri.
Lagi-lagi gawaiku berbunyi. Menghentak jantung, membuat detaknya mengencang seketika. Aku kaget!
[Iya halo,] ku jawab tanpa melihat siapa yang membuat panggilan.
[Siapa Hilmy?] Tanya seseorang di sana.
Ku lihat layar ponsel. Nama Abimanyu tertera disana.
Berarti benar dia memperhatikan dan menguping pembicaraan aku dan Vany tadi. Ada urusan apa dia bertanya!
[Owh, ada apa Pak?] tanyaku malas.
[Kalau diluar kantor, ga usah panggil Bapak. Panggil Abi saja!] ucap Abimanyu membuat aku ingin muntah rasanya.
[Hah?] tanggapanku datar.
[Jangan pura-pura lupa, subuh tadi kan sudah dibilang di telpon, mulai hari ini kamu jadi pacar aku!] dengan entengnya dia mengatakan seperti itu.
Emangnya dia pikir pacaran itu seperti beli fastfood. Tinggal pilih, pesan, bayar, tunggu sebentar langsung bisa di santap.
Ini masalah hati, gak bisa dipaksa begitu saja. Lagi pula, konyol sekali sih ini orang. Aku rasa, ada satu kabel yang korslet di kepalanya, jadi otaknya kadang geser kanan kadang geser kiri. Tergantung kemana angin berhembus.
[Hey, malah bengong! Aku mau nagih hutang yang tadi!] ucapnya kemudian setelah beberapa saat aku terdiam.
[Hutang apa sih, ya udah bilang aja aku harus bayar berapa?] ujarku yang sudah malas menanggapinya.
[Kamu hari sabtu kuliah kan? Nanti aku tagih hari sabtu saja!] dia menutup tiba-tiba panggilannya.
Aduh! Setahun bekerja di kantor, kayanya baru kali ini aku tahu sifat asli dari atasanku. Dia ternyata tidak waras. Aku benar-benar harus menghindarinya dan jaga jarak aman. Jangan sampai aku ikut gila karena dia.
Tanpa disadari aku sudah sampai di depan pintu ruangan Hilmy. Aku masuk. Terlihat Vany dan Hilmy sedang berbincang.
“Assalamualaikum. Maaf, aku lama ya,” ucapku sambil masuk.
“Gak apa apa Rin, sini masuk,” ucap Hilmy.
“O iya, aku haus! Mau ke kantin dulu ya, nyari minuman,” tiba-tiba Vany pergi meninggalkan kami berdua.
“Jangan lama ya Van,” ujarku pada Vany yang secepat kilat berlalu seperti angin.
“Kamu dari kantor langsung ke sini?” tanya Hilmy membuka obrolan.
“Iya, kan bareng sama Vany. Eh, gimana lukanya, udah mendingan Kak?” tanyaku kemudian.
“Iya, udah mendingan nih. Kata dokter sih, satu dua harian lagi udah bisa pulang kok,” terang Hilmy.
Aku mengambil bungkusan yang ada di dalam tas, lalu menyerahkannya kepada Hilmy.
“Ini Kak, tadi aku mampir ke Mall, terus liat ini. Makasih ya udah belain-belain nolongin aku. Kak Hilmy sendiri malah terluka seperti itu,” Hilmy terlihat senang menerima hadiah dariku.
“Makasih ya Rin. Padahal gak usah repot-repot lho. Ini kan udah kewajiban, untuk saling nolong,” jelasnya klise.
“Ya, pokoknya di pake ya!” seru ku.
Hari berganti hari. Tak terasa sudah sampai di hari jumat, hari paling santai di kantor.
Seperti biasa, aku meminta Mba Sum untuk membuatkan teh melati hangat tanpa gula.
“Hari ini Hilmy pulang dari RS. Kamu mau ikut jemput ga Rin?” Tanya Vany setengah berbisik.
“Dia suka lho sama kemejanya. Om sama Tante juga ngucapin terima kasih tuh,” lanjut Vany.
“Kenapa ngucapin terima kasih? Harusnya juga aku yang ngucapin itu sama Hilmy, dia kan yang sudah nolongin aku malam itu,” ucapku.
“Udah deh Rin. Daripada kamu jomblo terus, aku pikir, mending kamu sama Hilmy aja. Lagian kamu juga suka kan sama dia,” ujar Vany yang tiba-tiba saja mengatakan hal itu.
Aku hanya menghembuskan nafas kasar. Entah lah, apa yang bisa aku katakan pada Vany. Tak satu pun dari ketiga sahabatku yang mengetahui perjalanan cintaku bersama Bimo. Aku pun tak pernah menceritakan perihal Bimo pada mereka.
Kalau mereka tahu, aku berpacaran dengan laki-laki seperti Bimo, pasti mereka sudah memprotesku dan tak akan pernah memberikan restu mereka pada kami. Ini akan menjadi pilihan yang sangat sulit buatku. Karena, diantara Bimo dan ketiga sahabatku itu, mereka mempunyai tempat yang sama.
Makanya, selama ini aku sembunyikan hubungan yang pernah terjalin bersama Bimo. Termasuk Vany, sahabat terdekatku.
Dulu saat masih duduk di bangku SMA, aku memang pernah naksir pada Hilmy. Pria sholeh, baik dan sayang pada orang tuanya. Dia adalah tipikal pria yang diimpikan oleh setiap gadis seusiaku saat itu.
Namun, pemikiran yang masih labil, membuat diriku buta akan cinta. Aku tak pernah berfikir panjang tentang masa depan, saat bertemu dengan sosok Bimo. Sosok pria yang bisa membuat diriku selalu dipenuhi cinta dan kasih sayang.
Bersama Bimo, aku bisa melihat dunia dari sisi yang berbeda. Tak pernah mempedulikan apa kata orang. Yang terpenting, saat kami bersama, dunia serasa milik kami berdua.
Aku merasakan cinta yang sesungguhnya bersama Bimo. Kala itu.
Saat pikiranku melayang entah kemana, tiba-tiba aku di kejutkan dengan sesosok pria yang ada di hadapanku. Pria yang akhir-akhir ini mengusik ketenangan jiwa.
Entah sejak kapan dia ada di sana.
Aku tak berani menyapa. Hanya melihatnya dan terdiam.
“Maaf pak, ada yang bisa kami bantu?” ucap Vany saat melihat nya berdiri di hadapan kami.
Dia melihat ke arahku, lalu beralih kepada Vany. Lalu kembali lagi menatap diriku.
“Buatkan saya minum, Mba Sum tidak ada di tempat,” ujarnya sebelum kembali memasuki ruangannya.
Aku dan Vany saling menatap. Vany mengangkat pundaknya mengisyaratkan ketidak pahamannya akan sikap atasannya itu.
Dia meminta, agar aku saja yang membuatkan minum, dia tidak berani menghadapi Abimanyu.
Terpaksa aku yang membuatkan minum untuk dia.
Sampai di pantry, ku buatkan teh hijau yang biasa Mba Sum sajikan untuk Abimanyu. Setiap paginya. Aku bisa tahu, karena melihat catatan kecil punya Mba Sum yang ia temple di pintu kulkas.
“Permisi Pak, ini minumannya,” ujarku memasuki ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dia hanya menatap lekat diriku, tak mengucapkan sepatah katapun atau sekedar menjawab sapaanku.
Ku taruh teh hijau tadi di atas meja kerjanya. kemudian, bergegas keluar dari ruangan tersebut.
“Jangan lupa, untuk bayar hutang kamu besok!” ujarnya saat aku melangkah keluar.
Langkahku terhenti dan seketika membalikan badan menghadap pria itu.
“Hutang apa lagi sih Pak? Bapak jangan becanda deh,” ucapku pada pria dihadapanku.
Dia beranjak dari tempat duduknya, melangkah mendekat. Matanya lekat menatap diriku. Jantung seakan berhenti memompa, keringat dingin tiba-tiba berjatuhan.
Semakin di ayun, semakin tubuh nya merapat mendekati diriku.
Aku melangkah mundur, dan hampir terjengkang ke belakang.
Dengan sigap, dia menarik tanganku, dan menyeret diriku kepelukannya.
Kini detak jantung kami seakan memburu satu sama lain, detaknya tak beraturan saling mendahului.
Di peluknya erat diriku, yang terbenam di dalam dekapannya.
Kami terdiam, merasakan desiran hangat yang mulai menjalar.