
Sudah beberapa hari ini, Abimanyu tidak masuk kantor. Apa mungkin karena persoalan tempo hari? Ah, tidak mungkin. Seorang Abimanyu tidak selemah itu.
[Rin, hari sabtu, ikut touring yu ke Saparua? Kita berangkat jam delapan malam.] Pesan dari Bimo.
Aku sangat suka ikut touring seperti itu. Serasa memiliki keluarga baru. Walau kadang kami tidak saling mengenal, tapi satu visi dan kecintaan terhadap motor antic, bisa menyatukan kami menjadi sebuah keluarga besar yang senantiasa kompak dimana pun berada.
Kali ini Grup Vespa Antik. Aku pasti ikut.
Tak sabar rasanya menunggu hingga hari sabtu tiba. Namun, masih ada satu hari lagi yang harus aku lalui.
“ Rin, Hilmy sakit. Semenjak pertemuan kalian kemarin, Om sama Tante bilang, kalo dia terlihat murung dan sering melamun. Terus makannya juga ngasal, sekarang dia jatuh sakit. Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Vany padaku.
Aku diam, tetap diam. Aku tidak pernah tahu harus berkata apa, kalau di tanyai masalah ini.
“ Hilmy, menitipkan ini padaku. Dia meminta untuk memberikannya sama kamu. Sepertinya ada sepucuk surat di dalamnya,” ungkap Vany.
Aku membuka isi kotak tesebut. Ada sebuah kotak kecil. Sebuah kotak kaca, yang tidak bisa menyembunyikan isi di dalamnya. Sebuah cincin.
Tak ku buka isi kotak kecil tersebut, pandanganku teralih pada secarik kertas yang dilipat dan tidak beramplop itu.
Ku buka, dan mataku mulai menuntun saraf untuk membaca setiap huruf yang terangkai menjadi kata.
\=\=\=\=\=
Dear Airin,
Mungkin aku telah menyakiti perasaanmu dengan pergi begitu saja. Tapi maaf, aku terlalu kaget dengan kenyataan yang aku ketahui waktu itu. Sekali lagi maaf, karena jujur, aku kecewa.
Aku mengetahui perasaan kamu terhadapku, semenjak kita sama-sama duduk di bangku SMA. Bahkan setelah aku lulus, kamu sering ikut bersama Vany untuk berkunjung, agar kamu sekedar bisa menemui ku. Saat itu pun aku tahu, dan aku senang dengan itu.
Tapi kini aku menyesal, kenapa aku biarkan kamu mengenal pria lain. Membiarkan kamu membagi rasa yang dulu hanya kamu simpan untukku. Aku memang bodoh.
Sekali lagi maaf, kecewaku terlalu dalam. Mungkin hati ini sudah terluka dan butuh waktu lama untuk bisa sembuh. Segala hal yang ku persiapkan untuk kamu, untuk aku, dan untuk kita, kini pupus sudah.
Cincin ini, aku beli dari gaji pertamaku dulu. Aku menyiapkan nya, kalau-kalau aku punya keberanian untuk menyematkan di jari manismu.
Namun kini sudah terlambat. Aku hanya berharap, agar kamu mau menerima cincin itu sebagai tanda persahabatan. Walau yakinlah, cintaku padamu akan tetap bersemi bahkan mungkin, sampai aku mendapat pengganti dirimu.
Jaga dirimu. Maaf, aku tidak cukup berbesar hati untuk menerima semua kenyataan ini.
Dari orang yang memendam rasanya lima tahun yang lalu, untukmu.
Hilmy.
\=\=\=\=\=
Hatiku remuk rasanya! Butiran bening berlomba menerjunkan diri, seakan tahu, beban yang aku hadapi saat ini. Bibirku bergetar, dadaku bergolak.
Andai tak pernah ada yang berusaha menyimpan rasa, dan memilih untuk mengungkapkan nya saja, mungkin kisahku dengan Hilmy tak akan berakhir seperti ini. Sakit!
Namun ini adalah jalan hidupku. Pilihan sudah ku ambil. Dan biarkan aku berbahagia dengan caraku.
Dengan semua kekecewaanku. Begitu pula dengan Hilmy.
Vany mengusap pundakku. Dia ikut meneteskan air mata, dan memelukku.
Aku sesegukan, tidak bisa menahan lagi semua beban yang bertumpuk di sanubari. Emosiku meluap, mengalir bersama air mata kepedihan yang menganak sungai di pipi. Bukan, bukan karena aku tidak jadi dengan Hilmy, tapi, karena kenapa baru sekarang semua terungkap.
Penyesalan yang menyesakkan.
Laporan-laporanku, sudah ku simpan rapi di atas meja kerja Abimanyu. Namun, dia tak kunjung datang. Aku mencoba memberanikan diri bertanya pada HRD, perihal ketidak hadirannya beberapa hari ini.
Kabar yang ku dapat dari senior di kantor, beritanya simpang siur tak pasti. Ada yang mengatakan Pak Abi kunjungan ke luar kota, Pak Abi sakit, bahkan ada yang mengatakan kalau dia sedang mempersiapkan pernikahan. Entahlah!
“Halo Pak, ini Airin dari divisi marketing. Mau menanyakan soal Pak Abi, beberapa hari ini beliau tidak masuk. Apakah hari ini, beliau masih tidak masuk?” tanyaku pada Pak Wishnu kepala HRD.
“Emang kenapa, senang ya Bos nya gak masuk?” sahut Pak Wishnu.
“Bukan begitu Pak, ada laporan yang harus saya serahkan. Di showroom kan sedang ada event.” terangku.
“Iya, hari ini beliau masih ijin. Katanya sih, ada urusan keluarga,”
“Owh, bukan karena sakit? Karena banyak yang bilang beliau sakit,”
“Itu pas hari selasanya, dia pulang setengah hari. Ga enak badan katanya, tapi selebihnya sih ijin. Ada urusan keluarga, dan belum tahu juga sih kapan masuk lagi!”
Itu hari dimana kami sempat bersih tegang di toilet. Jadi dia izin pulang waktu itu?
Aku mengernyitkan dahi, ada sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku ungkap pada Pak WIshnu.
“ Owh, begitu. Baik Pak, terima kasih Infonya. Sepertinya, laporannya saya email saja.” ujarku.
“ Ok, siap.” Jawab Pak Wishnu mengakhiri perbincangan kami.
Urusan keluarga? Dari ketiga rumor yang beredar, yang berhubungan dengan urusan keluarga hanyalah masalah pernikahan. Apakah mungkin ….
Pagi yang cerah, namun tidak dengan hatiku yang kelabu. Hari sabtu, pukul Sembilan pagi, aku sudah ada di kampus. Berkumpul dengan mahasiswi yang lain. Menunggu kelas di mulai.
Hari ini, aku tak melihat Hilmy seperti biasanya, bahkan bayangannya pun tak nampak dimana-mana. Biasanya dia akan muncul di mana saja aku berada.
Minimal, sehari dalam seminggu, kami akan bertemu. Di kampus tercinta ini. Namun, Vany mengatakan kalau dia masih belum pulih.
Sudahlah, ini adalah yang terbaik bagi kami. Karena, sampai kapan pun, kami tidak akan pernah mungkin bersatu. Mungkin.
“Rin, gua udah siapin perbekalan. Sekarang gua lagi di bengkel Peno. Lagi tune up. Lu ke sini sebelum magrib ya!” ujar Bimo di telpon.
“ Aku kesana seabis Isya Bim. Beres kelas sekitar abis magrib. Jadi sholat dulu, baru kesana.” sahutku.
“ Nanti telat lho, gua ga mau ya kita ketinggalan!” ujarnya keukeuh.
“ Inshaa Alloh nggak telat!”
Aku tidak yakin. Kalau sudah di jalan, dia pasti tidak akan mau berhenti, sekedar untuk menunaikan kewajiban. Pasti dia akan mencari alasan-alasan lain, jadi lebih baik aku sholat dulu di kampus.
[Rin, kamu ga nengokin Hilmy? Mungkin kondisinya akan membaik kalau kamu datang ke mari,] pesan dari Vany
[Ini akan lebih baik buat kami Van. Cepat atau lambat, dia juga akan segera pulih. Dengan, atau tanpa kehadiran ku.] Balasku menegaskan.
[Tapi dia ngigo terus. Dia manggil-manggil nama kamu. Ini permintaan om sama tante,] ujar Vany.
Mataku tergenang, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan sudah Hilmy ambil.
[Tolong sampaikan permohonan maafku, karena tidak bisa memenuhi permintaan mereka, ini keputusan dari Hilmy sendiri. Maaf.]
Vany tidak membalas lagi, mungkin dia mengerti dengan apa yang aku maksud. Atau mungkin, dia malah kesal. Ah, entahlah.