
Hari senin, di kantor ….
“Van, Airin gak masuk?” tanya Abimanyu saat meja di samping meja Vany terlihat kosong.
“Iya Pak, Airin sedang tidak enak badan. Kayaknya dia kemarin kehujanan jadi sakit. Tapi dia sudah menelpon pihak kantor katanya. Memang dia tidak menghubungi Bapak?” jelas Vany sekalian bertanya.
“Owh ya sudah kalo begitu.” Dia berlalu menuju ruangannya. Diapun terlihat kurang baik, sesekali dia bersin-bersin.
Sementara itu, di rumah Airin ….
“Diminum teh jahenya Rin,” ucap Ibu sambil menyodorkan sebuah cangkir berwarna putih yang berisi the jahe buatannya..
“Iya Bu, simpen aja dulu.” Aku mencoba bangkit dari pembaringan.
“Ya sudah, cepet di minum, mumpung masih hangat. Ibu pergi ke tukang sayur dulu ya,” ibu mengusap rambutku halus, kemudian menghilang di balik pintu.
Aku menyeruput sedikit demi sedikit isi dalam cangkir putih itu. Aroma jahe menghempas saluran yang mampet pada inderaku. Hangatnya menjalar ke seluruh tubuh. Membuat badanku yang menggigil, seketika menjadi lebih relaks.
Setengah isi cangkir tersisa, namun tak sanggup lagi diteguk. Aku kembali berbaring. Melipat netra yang ingin beristirahat.
Terdengar lantunan music, yang biasa kugunakan sebagai nada pesan di hape.
Aku lupa mematikan gawai yang tergeletak di atas meja di tempat cangkirku tadi bersemayam.
Kedua bola mata melihat sebuah nama yang terlihat di layar gawai, Bimo.
Dia mengirimiku sebuah pesan.
[Rin, udah lupa ya sama gua? Angkat telpon!] belum sempat membalas, gawaiku berdering.
“Iya Bim,” sahutku.
“O gitu ya lu sekarang, udah gak peduli sama gua? Ok!” Dia memutus sepihak panggilannya.
Dari nada bicaranya, sudah jelas dia marah. Sejak malam dia dipukuli itu, kami memang belum sempat bertemu. Saat aku datang untuk menengoknya pun, dia tidak ada di tempat. Hanya Teguh yang saat itu berhasil kutemui. Itu pun dengan rasa malu, karena nyatanya dia telah mengerjaiku.
[Bagaimana ini, Ibu sedang pergi ke tukang sayur. Dan motorku pun masih di bengkel,] gumamku.
Hati menjadi resah. Sebuah aplikasi yang sebenarnya jarang sekali digunakan, sekarang aku menggunakannya. Aplikasi ojek online.
Kuorder, dan dengan cepat langsung mendapatkan driver yang akan mengantarkan ke rumah Teguh. Bimo memang tinggal bersama Teguh, di rumahnya.
Setelah membungkus tubuhku dengan sehelai jaket, aku bergegas melangkah keluar dengan tak lupa tas kecil berisi dompet dan hape ikut bersamaku.
Kukirim sebuah pesan pada ibu sebelum aku berlalu. Aku berdalih, berangkat ke dokter. Karena pihak kantor memintanya. Kukatakan, kalau temanku Zhe, yang menjemput dan menemaniku.
Mudah-mudahan ibu tidak curiga.
Beruntung ojol yang kupesan tak lama harus kutunggu.
Di depan gang rumah, ojol itu sudah stand by. Tak berlama-lama lagi, langsung kuminta drivernya untuk memacu kemudi dengan maksimal. Menuju rumah Teguh.
“Owh elu! Masuk Rin,” ucap tuan rumah mempersilahkanku masuk.
Aku membisu, masih lekat di ingatan saat Teguh mengerjaiku sampai aku harus ijin ke kantor karena panic.
“Bimo lagi beli rokok, tungguin aja. Kalo lu mau minum, udah tau kan di mana tempatnya. Ambil aja sendiri ya, gua mau keluar dulu.” Teguh pamit. Aku hanya diam.
Ku rebahkan diri di atas sofa berwarna hitam, berbahan dasar kulit sintetis yang sudah terkoyak di beberapa titik. Kepalaku masih berkunang-kunang, hidungku setengah mampet, suhu tubuhku meninggi tapi aku menggigil kedinginan.
Sretttt.
Aku menoleh ke arah pintu. Laki-laki yang kutunggu berdiri di sana.
“Ngapain lu di sini? Bukannya lu harusnya kerja?” Dia menyapa dengan nada ketus.
Aku memaksa tubuh untuk bangkit. Mengumpulkan sisa tenaga, agar bisa berdiri. Namun semua sudah berada pada titik terlemahku. Aku ambruk dan tak sadarkan diri.
***
Mata terasa berat, perlahan aku membukanya. Yang pertama kali ku lihat adalah Bimo. Dia ada di sampingku. Menungguiku.
Tangannya erat menggenggam tanganku. Jari-jemarinya berpaut di antara jemariku.
Pria ini, bukanlah orang pertama yang membuatku jatuh cinta. Tapi pria inilah yang mengenalkan aku tentang rasa, mengajariku apa arti cinta yang sesungguhnya. Dan bersama dia, aku berani menentang dunia.
Bimo. Dia yang mengajariku tentang kebebasan, tentang arti hidup yang sebenarnya.
Dia adalah pria yang bisa menghapus rasaku pada Hilmy yang kupendam selama bertahun-tahun. Bertemu dengan dia, aku tahu bahwa hidup tidak selama tentang hal baik. Karena dari hal buruk seklipun, kita tetap bisa mendapatkan kebahagiaan.
Lekat kutatap pria di hadapanku ini. Matanya yang sayup memandang sendu ke arahku.
“Airin? Lu udah siuman?” Suaranya lemah, netranya menatap dalam diriku.
Di kecupnya kening ini dengan lembut. Matanya berair, pipinya basah, bibirnya kelu.
Dia terus menciumi tangan yang masih ia genggam. Mulutnya tak henti mengucap syukur. Apa benar dia Bimo?
“Kenapa lu gak bilang, kalo lu lagi sakit?” ucapnya lembut. Agak aneh memang, dia berkata selembut itu. Biasanya, dia melontarkan kata dengan nada tinggi padaku, dengan membentak. Namun sekarang tidak.
“Sekarang lu makan, terus minum obat. Barusan gua panggil dokter buat meriksa lu,” ujarnya masih dengan nada yang selalu melembut.
Seketika sebutir demi sebutir cairan bening menejunkan diri dari pelupuk mata. Sudah lama aku tidak melihat sisi ini dari dirinya. Aku tahu kalau dia bukan lah laki-laki yang lembut, berperangai bagus, atau berkata yang menyejukan hati. Namun, dia punya caranya tersendiri untuk menghormati wanita yang ia sayang. Andai saja!
Andai dia bisa bersikap seperti ini dari dulu. mungkin saja ... Ah sudahlah.
Perasaan ini membuatku bingung. Dua tahun tak bertemu, tapi desiran itu masih bisa kurasakan. Entahlah.
"Bim," panggilku dengan sok manja.
Dia menoleh. Wajah tampannya, selalu membuatku meleleh.