My Boyfriend Is A Biker Insyaf

My Boyfriend Is A Biker Insyaf
Airin touring dengan Bimo



Selesai kelas, sebagian dari kami langsung berhamburan menuju mushola.


Cukup melelahkan hari ini, kelas full dan juga tugas yang cukup banyak.


Penat!


Selesai mengambil wudhu, aku ikut bersama teman-teman yang lain untuk berjamaah. Dua bola mata seakan berhalusinasi. Nampak sesosok pria, yang tengah menunaikan kewajibannya di hadapanku. Dia nampak tak asing, Kaos oblong dengan celana jeans ketat. Dan rambut curly itu ….


Mata disipitkan, lantas dikucek. Memastikan, kalau yang ku lihat, bukan lah bias angan yang mengelabui pandangan.


Namun benar saja, pandanganku mengelabui diriku sendiri. Sosok itu hilang. Dan mungkin, memang tidak pernah ada. Aku menghela nafas dalam. Ada apa dengan diriku?


Masuk waktu isya. Kami yang masih tinggal, kembali berjamaah.


Empat rakaan sudah tertunai. Setiap dari kami, meninggalkan mushola satu per satu. Termasuk diriku.


Langkahku terhenti di pintu mushola. Ku lihat lagi, dia berdiri sambil tersenyum padaku. Membawakan sepatu yang tadi ku kenakan.


Aku tersenyum.


Bukkk!


Seseorang menyenggolku dari belakang.


“Maaf Rin, aku buru-buru. Jangan berdiri di pintu ya, ngalingin tau!” ujar salah satu teman kampusku.


Aku melempar senyum padanya, tanda maklum dengan apa yang ia lakukan.


Memang benar, aku menghalangi jalan. Aku tak sadar, kalau aku hanya berdiri saja di pintu.


Aku mengulurkan tangan hendak mengambil sepatu dari tangan laki-laki tadi. Sudah dengan posisi duduk, di teras mushola. Namun ….


“Sini … “ aku menghentikan kata.


Tersentak. Tak ada siapapun disana. Beberapa teman kampus, melihat heran ke arahku.


Pria itu menghilang. Ku lihat di rak, sepatuku masih berada di tempat terakhir aku menyimpannya.


Ah! Lagi-lagi hanya bias angan saja.


Aku terdiam, mencoba mencerna, apa yang terjadi pada diriku. Namun, seketika buyar, saat gawai tetiba berbunyi.


“Rin, lu dimana? Anak-anak yang lain sudah pada ngumpul nih. Bentar lagi mau berangkat!” ujar Bimo saat telpon tersambung.


“Iya, ini aku baru selesai. Aku ke sana sekarang!” ujarku.


Jarak dari kampus ke tempat start touring, tidaklah begitu jauh. Hanya berjarak sekitar lima belas menit perjalanan.


****


Pukul delapan lewat sepuluh menit, semua crew melesat beriringan.


Aku sangat exited mengikuti kegiatan malam ini. Kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya. Dan ini, kali ketiga aku ikut serta.


“Nanti ada acara live music di sana, sound nya dari gua. Acaranya pasti menggelegar. Gak apa-apa lah, itung-itung promosi, bener ga?” tanya Bimo.


( … )


Tak ada jawaban dariku.


Di sini bising sekali, namun aku merasa sepi. Pandangan ku nyaris kosong. Masih terpikir kejadian tadi, di mushola.


Ah, apa yang terjadi dengan diriku?


“Rin, lu tidur? Ko diem aja?” lagi Bimo mengajakku berbicara.


Masih tidak menyahut. Pikiranku bertamasya ke tempat lain.


Aku tidak merasakan keberadaan Bimo sama sekali.


Padahal dulu, kami bisa melakukan hal-hal aneh di atas motor. Berteriak, menyanyi tak jelas, saling meledek dengan teman yang lain, atau bahkan kejar-kejaran antar pengendara.


Entahlah!


Sepertinya Bimo merasakan kejanggalan pada diriku. Motor yang ku tunggangi, di rem secara mendadak. Aku tersentak.


“ Lu ngelamun!” kini suaranya di keluarkan dengan nada underground. Kencang.


Aku seperti orang yang ketiduran di bis, lalu di bangunkan tiba-tiba. Celingukan.


“Udah nyampe ya Bim?” tanyaku.


“Kita baru setengah jalan, nyampe ke mana maksud lu? Pikiran lu tuh, nyangkut dimana! Ngelamun!” hardik Bimo.


Menghela nafas, pasrah dengan apa yang Bimo lakukan dan katakan. Aku memang melamun sepanjang jalan. dan tidak memperhatikan apa yang dia katakan.


Pukul setengah dua belas malam, kami sudah sampai di lokasi. Berbagai atraksi, juga live music yang di katakan Bimo tadi, menambah kehangatan di malam ini.


Lewat tengah malam, acara semakin meriah. Banyak band-band indie yang di undang untuk mengisi acara malam ini, acara yang di prediksi, akan berlangsung hingga dini hari.


Bimo, Teguh, dan yang lainnya pergi entah kemana. Sementara aku, hanya menunggu sambil menikmati setiap lagu yang di bawakan band-band seperti Efek Rumah Kaca dan banyak lagi.


Tengah asik, namun dahaga menyerang, tenggorokanku rasanya mengalami kemarau yang berkepanjangan.


Aku berdiri, mencoba mencari Bimo. Atau sekedar penghilang dahaga.


Namun tiba-tiba, sebuah tangan dari balik pohon menarik tanganku hinggan tubuhku terseret .


Aku terbenam dalam dekapannya. Mendongak, terlihat siluet wajah yang mengingatkanku pada seseorang. Siluet wajah yang tersamar oleh remang-remang malam yang minim cahaya di bawah pohon yang tak begitu tinggi, namun cukup mengcover kami berdua. Aroma parfum ini, aroma parfum yang juga familiar di inderaku.


Dia tak membiarkan aku beranjak, dan membuatku larut dalam dekapannya.


Ingin aku menyebutkan sebuh nama. Namun, aku takut bibir ini salah mengucap. Dekapannya hangat. Namun aku tahu, ini salah. Dan berusaha melepaskan diri, hingga akhirnya terpental.


Tubuhku terjengkang. Sepasang tangan, menyambutku dan menyelamatkan diri dari tersungkur ke tanah. Dialah Erwin.