
"Makasih Win, kalau gak ada kamu, mungkin aku sudah terjatuh tadi!”
“Emang lu kenapa, sampai terpental gitu?” tanya nya.
“Gak apa-apa, tadi cuma kesandung. O iya, dimana Bimo dan yang lainnya?” tanyaku.
Dia terdiam, seribu bahasa.
Sejak tadi, aku belum melihat Bimo lagi.
Wajah Erwin terlihat pucat, dia seperti menyembunyikan kegetiran.
Aku mulai berfikir negative, apa yang terjadi pada Bimo. Erwin adalah kakaknya Peno, yang juga sahabat dari Bimo dan Teguh.
“Win, mana Bimo?” lagi ku tanyakan hal yang sama. Namun ia tetap bungkam.
Melihat perilaku yang di perlihatkan Erwin padaku, membuat aku kembali bertanya dengan sedikit berteriak.
“ A—ku Ta—nya, di—mana Bi—mo!” ku pertegas pertanyaanku dengan penekanan.
“Bi—mo, di—a …” di jawabnya namun tak tuntas, dan terbata.
“ Iya, dia kenapa?” tanyaku kesal
“ Di—a … ”
“ Apa?” tanyaku semakin penasaran.
Dia menunduk.
Pernah dulu, aku di prank saat mengikuti touring seperti ini. Mereka mengerjaiku, mengatakan kalau Bimo sedang berduaan dengan seorang wanita di pojokan. Atau pernah juga, mereka mengeprank diriku, dengan mengatakan kalau Bimo pulang duluan dan meninggalkan aku sendiri disini. Ah, terserahlah.
Kali ini, aku tidak akan kena lagi. Ini sudah basi!
“ Bimo, dia OD!” suara Erwin terdengar lesu.
“Owh, seperti itu.baiklah.” ku tanggapi santai dengan apa yang Erwin katakan.
Aku berlalu, meninggalkan Erwin di sana. Ternggorokanku sudah sangat kering!
Aku tidak melihat ekspresi yang ditunjukkan Erwin saat itu, aku tidak peduli!
****
Beberapa kios terlihat berjejer, mulai dari kios makanan, minuman, baju, dan souvenir lainnya. aku mendatangi salah satu.
Ku lihat minuman jeruk dalam botol, membuat ku menelan ludah.
Ku ambil satu, namun …
“Maaf, aku duluan!” ujarku pada seorang pria yang juga mengambil botol yang sama, berbarengan.
“Masih banyak yang lain, ambil saja yang lain!” ujar pria itu, tak mau mengalah.
Aku tidak ingat, apakah mulutku menganga atau tidak. Namun, pria di hadapanku ini, membuat jantungku seakan terhenti.
Kami saling melempar tatap.
“Kenapa Bapak bisa ada disini?” tanyaku.
“Memangnya kenapa? Ini tempat umum kan?”
Ini memang tempat umum, tapi sedang apa dia disini selarut ini?
“Iya, tapi selarut ini, disini?” ku pertegas pertanyaanku.
“Ingat ya, kamu bukan siapa-siapa aku kan? Jadi ga usah sok perhatian deh! Kamu sendiri, sedang apa disini?” ujarnya.
“itu … aku …” aku terbata, bibir ini tiba-tiba saja menjadi gagap.
“Sudahlah, apa peduliku!” jawabnya sinis.
“O iya, tadi aku habis dari kunjungan di mall Botani Square. Makanya, liat jadwal kunjungan, atau paling tidak, komunikasi dengan orang toko. Jangan mentang-mentang ini bukan hari kerja, terus kamu lepas tugas!” ujarnya melanjutkan, sambil berlalu memasuki mobil hitamnya.
Emang aku ini sekertarisnya apa!
Enak aja dia nyolot seperti itu.
Tapi, masa iya dia abis kunjungan.
Rasa penasaran membuat diri iseng menghubungi pihak toko, yang dia sebutkan tadi.
“Halo Mbak, ini mbak Sari ya? Maaf ganggu malam-malam,”
“ Iya Mbak Rin, tumben. Mau ngecek penjualan ya? Kebetulan saya belum tidur kok,” jawab seseorang di seberang sana.
“Owh, itu. Iya Mbak, gimana penjualan, rame?” tanyaku sekenanya.
“Alhamdulillah Mbak, tadi juga Pak Abimanyu datang kesini. Hari ini kan ada acara midnight sale, Mall tutup satu jam lebih lambat.”jelasnya.
Benar juga, hari ini ada midnight sale di sana. Jadi, Abimanyu benar-benar habis kunjungan. Tapi, dia kan bisa lewat tol, kenapa juga dia kemari?
Ku akhiri percakapan setelah cukup berbasa-basi.
Aku tetap dalam posisi, berdiri di sana. Mencoba menduga, apa yang membawa Abimanyu kemari.
Teringat seseorang yang menarikku tadi. Di balik pohon.
‘Masa iya, dia?’
“Jadi beli minum ga? Malah bengong!”
Aku menoleh ke arah suara berasal. Kaget!
“Aku pikir, Bapak sudah pergi?” tanyaku heran.
“Terus, kamu mau bayarin minuman aku? Tadi aku ke mobil, cuma ambil dompet aja!” serunya.
‘Biasa aja kali, ko nyolot terus sih!’ gumamku dalam hati.
“Kenapa Bapak lewat kemari? Kenapa tidak lewat tol saja, kan lebih cepet?” kembali aku bertanya.
Rasa penasaran menghantuiku. Entah kenapa, aku merasa perlu mengetahui kenapa dia berada disini. Apa mungkin hanya kebetulan semata? Tidak mungkin!
“Kepo banget sih! Emang kamu bilang, kalau kamu mau kesini, ke aku? Enggak kan?”dia malah balik bertanya.
Ah …! Kenapa dia jadi menyebalkan sih.
Ya sudahlah, terserah apa katanya saja.
“Ini!, jangan melamun, nanti kesambet lho!”
Dia melempar sebotol minuman jeruk yang tadi kami hendak ambil. Senyum tersungging di bibirnya, nampak manis terlihat.
Dia kembali menaiki mobil, dan melaju menjauh.