My Boyfriend Is A Biker Insyaf

My Boyfriend Is A Biker Insyaf
Pertemuan Airin dengan Bimo kembali



"Bim, kamu mau kemana? Jangan tinggalin aku sendiri Bim. Bimoooo!” teriakku.


Nafasku terengah, aku terbangun. Lagi-lagi mimpi itu menghantuiku.


Sudah dua tahun setelah kami putus, tapi kadang-kadang kejadian waktu Bimo mantan pacarku pergi meninggalkan aku, terbawa mimpi bahkan sampai saat ini.


Namaku Airin, usia 23 tahun. Saat ini aku bekerja di sebuah perusahaan yang memproduksi sepatu dengan brand berlogo kuning, dan termasuk salah satu terbesar di kota Bandung.


Selain itu, aku juga tercatat sebagai mahasiswi fakultas ekonomi di salah satu universitas swasta dikota yang sama.


“Rin, bangun sudah subuh,” suara ibuku memanggil.


“Iya, aku sudah bangun,” jawabku.


Seperti biasa aku berangkat ke kantor dengan menggunakan sepeda motor kesayangan. Pukul 07:40, setelah scan jari lalu bergegas menuju meja kerjaku.


“Rin, pulang kantor anter ke mall ya. Brand favoritku lagi ngadain dison gede-gedean. Mumpung uang gajiku masih utuh, aku mau borong,” ucap Vany sahabatku.


“Besok aja gimana?” jawabku sekenanya.


Sahabatku yang sudah aku kenal sejak kelas satu SMA ini suka laper mata kalau sudah belanja. Apalagi kecintaan pada salah satu brand ternama itu pasti bikin dia kalap.


“Gak bisa Rin, acaranya cuma hari ini doang. Midnight sale. Dari jam delapan sampai jam sepuluh malam. Dan itu all item lho, diskonnya sampai 50%.” Dia terlihat gemes sendiri saat menjelaskan.


“Lihat nanti aja ya,” jawabku malas.


Vany kembali ke mejanya dengan sedikit muram.


Hari ini hari jumat, hari terakhir aku bekerja di minggu ini. Seperti biasa, hari ini pekerjaanku tak sepadat hari senin, selasa dan rabu. Hanya beberapa pekerjaan kecil yang biasa aku kerjakan di hari ini.


_witwiw_


Suara gawaiku tanda ada pesan masuk.


“Rin, aku ajak Zhe sama Suci juga ya.” Isi chat dari Vany.


Tiba-tiba dia mengirim pesan juga ke grup chat kami. Grup chat kamu berempat.


Aku, Vany, Zhezhe dan Suci.


Kami bersahabat sejak SMA, namun sampai saat ini kami masih berhubungan baik walau aktivitas kami sudah berbeda.


Zhe kuliah semester akhir dan sedang menyusun skripsi pun dengan Suci, sementara aku dan Vany kami baru masuk semester empat. Kami cuti dulu lebih kurang setahun dan mengumpulkan uang, baru setelah itu kami mendaftar kuliah. Dan sekarang kami kuliah sambil kerja di perusahaan yang sama.


“Hai Sis, ada diskon gede-gedean loh hari ini. Ada yang mau barengan gak? Aku sama Airin mau kesana pulang kantor.”


Zhe membalas, ”ga deh, aku lagi sibuk banget ni.”


“Iya maaf aku juga ga bisa Van,” balas Suci.


“Yah, berarti cuma aku sama Airin aja donk, ya udah deh gak apa-apa,” balas Vany kecewa.


Aku hanya tertawa menyimak obrolan mereka. Kasian Vany.


Jam sudah menunjukan pukul 17:00, sudah waktunya kami pulang.


“Rin, yuk anterin aku. Masa aku pergi sendiri,” bujuk Vany yang mulai pasang muka memelas.


Aku tidak tega juga melihatnya.


“Ya sudah ayo,” sahutku dibalas ekspresi kegirangan dari Vany.


Kami pergi menuju mall yang Vany maksud. Karena waktu sale nya masih lama, akhirnya kami putuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu.


“Mau makan dimana, kita ke foodcourt di belakang Mall aja yuk, di sana makanannya enak-enak. Murah lagi,” ajakku pada sahabat yang sudah terlihat tidak sabar menanti pukul delapan malam itu.


“Ya udah deh hayu, tapi abis makan kita balik lagi ke sini ya. Jangan jauh-jauh, nanti kita ketinggalan lagi,” pintanya.


Aku hanya mengangguk tanda setuju. Sebelum ke foodcourt, kami terlebih dahulu mampir ke mushola untuk menunaikan salat Maghrib.


Selesai sholat kami lanjut ke tempat makan. Sesampainya di foodcourt, kami memesan beberapa menu yang sudah dipilih sebelumnys. Sepanjang waktu Vany terus saja membahas barang-barang yang akan dia beli malam ini. Anak ini memang tidak pernah berubah.


“Rin, aku mau ke toilet dulu ya, jangan dulu makan tungguin aku,” ujarnya sambil berlalu.


Kurogoh gawai yang tersimpan di dalam tas, kumainkan sambil menunggu makanan tiba.


Namun seketika pandanganku teralih pada suara orang ribut. Sepertinya ada pengunjung yang menabrak pelayan yang sedang membawakan makanan sehingga semua yang dibawa pelayan itu berhamburan ke lantai.


“Heh, punya mata gak sih. Masa orang segede gini gak keliatan,” teriak si pengunjung kepada pelayan yang bertabrakan dengannya.


“Iya maaf Mas, tadi saya gak liat,” jawab pelayan itu dengan kepala tertunduk.


Pria bertato itu lantas mendorong pelayan tadi hingga tubuhnya terpental dan jatuh ke belakang.


Kasihan sekali pelayan itu.


Terus kuamati pria bertato tadi.


‘Dasar tidak punya hati,’ gumamku.


Padahal tidak usah sambil bentak-bentak gitu, 'kan kasihan pelayannya. Belum tentu juga dia yang salah.


Tak berapa lama, Vany datang. Dia terlihat heran mendengar keributan yang terdengar sampai toilet.


“Ada apa Rin, kok rame,” tanya Vany.


“Gak apa-apa, tadi ada orang yang tabrakan sama mas-mas yang bawain makanan. Dia marah-marah gitu,” jelasku.


Sebenarnya aku masih penasaran dengan pria bertato yang tadi. Pria itu mengingatkan kepada seseorang.


Belum juga makanan turun ke perut, Vany sudah mengajakku untuk kembali ke mall.


“Wah, sudah mau setengah delapan Rin. Duh pasti sudah penuh deh, kita harus secepatnya kembali ke sana. Ayoo.” Tanpa pikir panjang lagi Vany menarik tanganku.


Dan benar saja, orang-orang sudah bergimbung di depan outlet yang dimaksud. Mereka berdesakan seperti orang mau mengantri sembako saja.


“Van, aku nunggu di luar aja ya, kamu aja deh yang masuk. Padet gitu, males ah.”


Melihat reaksiku tak menyurutkan semangat perempuan yang sudah bersahabat denganku sejak enam tahun tahun silam itu. Dia menerobos masuk melewati ratusan orang yang saling berdesak-desakan.


Aku berbalik untuk mencari tempat duduk. Namun saat berbalik, hampir saja aku menabrak seseorang.


“Maaf, maaf!” ujarku pada seorang pria yang hampir bertabrakan denganku itu.


“Airin?” Pria itu menyebut namaku.


Sejenak aku seperti mematung. Pandanganku terpaku pada wajah pria di hadapanku.


“Hai, apa kabar. Dunia memang sempit ya,” ujarnya kemudian.


Aku masih belum mengeluarkan sepatah katapun. Mungkinkah ini hanya mimpi. Melihat pria yang dua tahun lalu pergi, dan kini ada di hadapanku?


“Hey, kamu Airin 'kan bener?” tanyanya kembali mencoba memastikan.


Aku seperti baru terbangun dari mimpi, ku tepuk muka sendiri beberapa kali. Ini bukanlah mimpi.


“Bimo,” ucapku kemudian.


“Iya, gua Bimo. Kenapa?" sahutnya.


“Owh, apa kabar?” ucapku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.


Aku dan Bimo terakhir bertemu sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu kami sama-sama bekerja di satu perusahaan yang sama. Tempat kerjaku sebelum bekerja di tempatku yang sekarang.


Kami sempat dekat, dan kurang lebih satu tahun kami menjalin kasih.


Masih lekat di ingatanku saat Bimo memutuskan untuk pergi karena dipanggil untuk kembali ke tempat kerjanya yang dulu di sebuah rental music. Dia pergi meninggalkanku yang saat itu sedang sayang-sayangnya.


Satu hal yang masih aku pegang sampai sekarang. Satu kalimat yang dia katakan sebelum pergi.


”Tunggu aku, aku pasti akan kembali."


***


“Rin, ko lu bengong sih. Kaya liat setan aja,” ujarnya yang melihat reaksiku yang terbengong-bengong melihatnya.


Dia terlihat biasa saja saat bertemu denganku setelah dua tahun kami berpisah.


Penampilannya masih seperti dulu, urakan. Tak ada yang berubah darinya.


Sebelum kami mengobrol lebih banyak, terdengar temannya memanggil-manggil namanya berkali-kali.


“Gua cabut dulu ya, temen gua udah manggil tuh. Oiya, minta nomor lu dong!” Dia menyodorkan ponselnya yang kemudian kutulis nomorku di sana.


“Ok, nanti gua hubungin ya.” Dia berlalu seperti angin.


Aku masih tetap pada posisiku. Masih belum menyadari apa yang terjadi. Sampai Vany menepuknya dari belakang.


“Rin, aku udah dapet. Sebenarnya aku masih mau beli beberapa lagi, tapi uangku udah abis. Yuk kita pulang saja.”


Terlihat di tangannya sudah tertenteng beberapa paperbag. Dia menariku menuju parkiran.


Sepertinya kalau anak ini membawa kartu kredit dengan limit berapapun, pasti akan dia habiskan dalam semalam.


***


Keesokan harinya, aku bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Dalam seminggu, aku hanya pergi ke kampus di hari sabtu saja. Dari pagi hingga sore, kadang sampai malam. Atau bahkan siang juga sudah pulang lagi.


Baru sampai parkiran, sudah ada yang memanggilku. Kutengok, ternyata itu Hilmy. Sepupu Vany.


Dia beberapa tahun lebih tua dariku dan sedang menempuh S2. Dia bekerja di sebuah Bank swasta terbesar di kotaku.


“Rin, kemarin kamu pergi sama Vany?” tanyanya seraya menghampiriku.


“Iya, kemarin dia minta aku untuk nganter belanja, kenapa?” tanyaku kemudian.


“Gak apa-apa, mamanya kemarin nelpon. Di telpon berkali-kali hape nya gak aktif katanya. Aku nelpon kamu, tapi gak diangkat,” ujarnya.


“Iya maaf, kemarin hape-nya di-silent. lupa,” jelasku sambil melempar senyum manisku padanya.


Kami masuk bersama. Hari ini tak banyak yang aku kerjakan di kampus. Sekitar pukul dua siang, aku sudah selesai.


***


Berjalan menuju parkiran, ternyata Hilmy sudah menungguku di sana.


“Loh, Kak Hilmy lagi ngapain di sini?” tanyaku heran.


“Gak apa-apa, kamu udah beres? Kita pulang bareng yuk, “ ajaknya.


“Pulang bareng, maksudnya konvoi gitu?” Aku tertawa kecil menanggapi ajakan dari Hilmy.


“Ya bukan gitu juga, maksudnya kamu ikut aku. Motornya simpen di sini aja dulu,” ujarnya.


“Simpen di sini dulu gimana?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi tanda tak mengerti dengan apa yang dia bicarakan.


“Jadi gini. Aku laper, kamu temenin aku makan ya. Motor kamu simpen aja dulu di sini, nanti beres makan kita ambil lagi l. Gimana?"


“Emang mau makan di mana, traktir ya?” tanyaku sambil mengedipkan mata beberapa kali.


“Iya tenang aja, asal kamu mau nemenin aku makan. Aku pasti traktir,” ujarnya.


Kami berangkat, menuju sebuah tempat makan yang tak jauh dari kampus.


Aku sudah tidak canggung dengan Hilmy. Selain dia adalah kakak sepupu dari Vany sahabatku, Hilmy juga satu sekolah denganku walaupun beda angkatan. Dan kini kami satu kampus, aku mengejar S1 sedangkan dia mau S2.


Saat tengah menikmati hidangan yang tersaji di meja, tiba-tiba pesan masuk ke gawaiku.


“Rin, kita bisa ketemu gak?”


Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


“Maaf ini siapa ya?" Kubalas pesan di nomor tidak dikenal tersebut.


“Ini gua, Bimo!” balas nomor tersebut.


Bimo? Tak langsung kubalas pesan tersebut. Aku terdiam, berfikir sejenak apa yang aku dapati hari ini.


“Udah save nomor gua, kemaren malem gua gak langsung hubungin lo. Sekarang baru sempet. Lu ada waktu gak, bisa ketemu hari ini?” Lagi pesan dari nomor itu masuk.


Masih belum aku balas juga. Masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.


Hilmy terlihat keheranan melihatku yang hanya memandangi layar ponsel tanpa melakukan apa-apa lagi.


“Ada apa Rin, kenapa berhenti makannya. Gak enak ya? Mau pesen yang lain?” Tanya Hilmy saat melihat aku hanya terbengong.


Tiba-tiba nomor tadi menelponku membuat aku yang setengah melamun menjadi kaget.


Kuangkat telpon tersebut.


“Halo, Rin. Ko lama sih balesnya. Lu lagi ngapain?” ujar suara di seberang sana langsung mencecar. Suara yang cukup familiar di telingaku.


“Iya Bim, maaf aku lagi makan. Ada apa?” ujarku.


“Jadi gimana. Bisa ketemu hari ini? Gua tunggu di tempat biasa deh,”


“Owh, iya,” jawabku


“Ya udah gua tunggu!" Dia mematikan telponnya.


Pandanganku kini tertuju pada Hilmy yang dari tadi memperhatikanku.


“Siapa yang nelpon, kok kamu terlihat tegang?” tanya Hilmy


“Cuma temen lama, dia ngajak ketemu. Aku agak kaget aja, karena sudah lama gak ketemu sama dia,” jelasku. “Kalo gitu aku duluan gak apa-apa ya,Kak. Maaf aku tinggal.”


Aku pergi meninggalkan Hilmy sendiri di sana dan bergegas mengambil motorku lalu pergi ke tempat yang dikatakan oleh Bimo.