My Boyfriend Is A Biker Insyaf

My Boyfriend Is A Biker Insyaf
Airin cari teman untuk ke pesta



Ku pandangi air mineral dan sebatang cokelat dengan isian mete itu.


[Aku kan ga terlalu suka cokelat yang ada kacangnya, suka jerawatan kalau makan kacang!]


Aku jadi teringat masa-masa awal aku dan Bimo pacaran.


Waktu itu … hari valentine. Hampir setiap pasangan, saling memberi cokelat.


Begitupun dengan Bimo. Dia memberiku cokelat yang ada kacangnya seperti ini. Dan karena tidak enak oleh Bimo, ku makan cokelat itu sampai habis. Eh, besoknya wajahku di tumbuhi jerawat sewajah-wajah.


Kalau di ingat-ingat, aku tuh bucin banget ya dulu.


Ya, namanya juga baru pertama pacaran!


Mau kentut aja di tahan-tahan, beda cerita kalau kejadiannya sekarang. Mungkin aku tidak akan peduli, mau kentut di depan dia berapa kali pun.


“Hey, Airin? Sedang apa kamu, senyum-senyum sendiri? Awas lho kesambet!”


Tiba-tiba, Mas Fajar, IT perusahaan menegur ku.


Aku tidak sadar, kalau membayangkan kejadian waktu itu, membuat aku ketawa-ketawa sendiri.


Aku fikir, tidak ada yang memperhatikan!


[Dadipada bête bener gak?]


“Eh, Mas Fajar. Ini, aku sedang menunggu Pak Abi. Lagi rapat dengan direksi!” ujarku setengah berbisik.


“Lho, terus kenapa kamu tidak ikut masuk? Biasanya juga ikut kan?” dia terlihat heran, melihat aku sendirian duduk di sini.


Aku hanya tersenyum membalas pertanyaan Mas Fajar.


Kami saling mengenal, karena Mas Fajar suka datang ke kantorku kalau-kalau ada program yang bermasalah, dan tidak bisa di remote dari server pusat.


“O iya Mas, boleh ikut ke toilet ga?”


Jujur, aku sudah menahan hasratku itu, dari beberapa jam yang lalu. Bisa saja aku cari toilet sendiri, tapi gak enak kalau di tempat orang, nyelonong-nyelonong sendiri.


“Boleh lah, masa nggak boleh. Di ujung sana, belok kiri ya, nanti ada tulisan toilet, sebelah pantry!” terang nya. “O iya, jangan lupa datang, undangannya udah aku kirim ko, ke kantor.” sambungnya.


“Undangan apa Mas? Mas mau nikah? Ya Alloh, selamat ya Mas. Pasti datang dong … ya sudah, permisi dulu ya, sudah kebelet nih!” ujarku sambil lari-lari kecil di tempat. “Pokoknya, aku pasti datang deh!” sambungku sambil melipir menuju tempat yang ia tunjukan tadi.


Mas Fajar tersenyum, lalu masuk ke sebuah ruangan.


Toilet di sini, terlihat lebih bagus. Di pisah antara toilet laki-laki dan perempuan. washtoffel nya juga, terbuat dari marmer, sangat bersih dan terawat. Kacanya bukan kaca bulat seperti yang ada di toiletku, kacanya full sedinding. Kaya yang ada di mall-mall. Nyaman sekali.


[Jadi teringat, saat aku dan Abi bersitegang tempo hari. Kalau toiletnya seperti ini, mungkin, kejadian waktu itu gimana ya?] Ku tautkan alis, disusul dengan bibir yang ku tarik ke samping.


***


Ku lihat jam, menunjukan pukul 10:23. Sudah cukup lama mereka berada di ruangan itu. Tapi rapatnya belum selesai juga.


Aku kembali duduk di sofa yang tadi, melihat-lihat isi lemari kaca yang terpajang di sana.


Ada foto semua personil perusahaan ini, lengkap. Sepertinya ini foto saat berlibur. Namun sepertii foto lama, mungkin sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Tertera juga sih tahun pembuatannya di pojok foto.


Saat tengah asik melihat-lihat apa yang ada di rak tersebut, aku di kejutkan oleh suara orang-orang yang berhamburan dari ruang meeting. Ku lihat, Abimanyu dan Amanda juga keluar dari sana.


Mereka terlihat masih berbincang, dan menuju ke ruangan Pak Tony.


Abimanyu melirik ke arahku. Namun, Amanda menggambit tangannya dan berlalu bersama orang-orang tadi.


Sudah pukul 11: 15.


Perutku sudah mulai keroncongan. Ku lihat, cokelat yang tadi Abimanyu berikan.


[Kalau aku makan, aku takut wajahku jerawatan seperti dulu. Tapi kalau tidak ku makan, aku takut pingsan lagi seperti waktu itu. Ahhh!!!]


“Ayo, kita pulang!” ajak Abimanyu tiba-tiba.


Dia berdiri di hadapanku, menatapku lekat diriku.


“Bi, kamu mau kemana? Gak makan siang dulu? Udah di pesenin makan lho!” Amanda menyusul dari belakang.


“Gak deh, aku balik ke kantor saja, makan siangnya di sana saja. Kasihan Mbak Sum, pasti udah nyiapin makan siang buat aku,”ucap Abimanyu sambil melirik ke arahku. “Ya sudah, kita balik ya, tadi aku juga udah pamitan sama Pak Tony dan yang lainnya, kan lucu kalau nanti balik lagi!” sambungnya sambil melempar senyum.


“Ya sudah kalau gitu, kalian hati-hati ya!”


Abimanyu, berlalu sambil melambaikan tangan pada Amanda. Aku mengganggukan kepalaku sambil tersenyum kepada perempuan yang tengah berdiri melihat ke arah kami itu. Lalu mengikuti Abimanyu dari belakang.


*****


“Hai Van,” sapaku lemas.


Ku jatuhkan tubuh ini di atas kursi kebesaranku. Membuang nafas kasar, dan membiarkan penat menguap di udara.


“Kok lama sih baru balik kantor? pasti seru ya meeting di sana?” wanita yang sudah ku kenal lama itu, menyeret kursi yang ia duduki mendekat padaku.


[Seru apanya? Bete iya!] gerutuku dalam hati.


“Seru banget Van, SERU … BANGETT!!!” ku pertegas kata seru dengan penekanan.


“O iya, ada undangan tuh!” Vany menunjuk sebuah amplop di samping komputerku.


“Mas Fajar ya, udah tahu, tadi ketemu di sana!” ujarku malas.


“Mau datang sama siapa nanti? Aku mau ajak Alex ah, siapa tahu dia jadi kebelet nikah,” sahut Vany sambil cekikikan.


[Pertanyaan yang malas untuk di jawab, Vany enak ada pacar yang jelas, lah aku?]


Sebelum sempat ku jawab, pandanganku tertuju pada pria yang melintas di hadapan kami. Langkahnya di pelankan.


“Ya jelaslah, aku akan datang dengan pasanganku, Iya kan?” ujarku dengan nada agak di tinggikan, sambil ujung mata ini melirik ke arahnya, berharap yang melintas barusan, akan mendengar.


Ku lihat Abimanyu meneruskan langkah yang sempat terhenti, dan berlalu menuju ruangannya.


Huft! Untung saja.


***


Aku merebahkan diriku di pembaringan.


[Siapa yang akan aku ajak ke pesta nanti? Tidak mungkin Bimo, maksudku, dia tidak akan betah berlama-lama di acara seperti itu.]


Aku membayangkan, Abimanyu yang akan bersanding dengan Amanda. Pasti banyak yang memuji kalau mereka sangat serasi. Dan mendoakan untuk segera menyusul.


[Arrgghh! Siapa yang akan aku bawa mendampingiku nanti?]


Kepalaku terasa mau pecah! Ku benamkan wajah, kedalam bantal. Dan membiarkan mimpi indah, datang menghampiri.


***


“Rin, kamu udah nyerahin judul buat skripsi?” tanya Anindita.


Dia duduk di kursi bersebrangan dengan diriku, dalam satu meja. Dia adalah teman kampusku. Gadis bercadar yang sangat baik hati dan santun.


[Oh, God! aku belum menentukan judul untuk skripsiku nanti. Tapi, nanti saja lah. Masih ada waktu!]


“Belum Nin, aku masih bingung. Emang kamu udah setorin ke dosen?”


Ku seruput es kopi yang baru saja di antar ke mejaku. Lalu kembali menatap Anindita. Gadis bercadar itu, menyimpan buku-buku yang ia bawa di atas meja.


“Udah sih, Cuma, kayanya gak di acc deh!”


Aku tidak tahu, dia sedang cemberut atau tidak. Mungkin manyun, mungkin juga malah tersenyum. Entahlah, karena wajahnya tertutup cadar.


“Ya sudahlah, gak usah buru-buru. Biar barengan sama aku,” ujarku sambil nyengir kuda.


Saat tengah asik menikmati es kopi yang sudah tinggal setengah ini, pandanganku teralih pada seorang pemuda yang berjalan memasuki kantin. Dia melihat ke arahku, lalu melempar senyum.


Ku teguk saliva kasar. Lalu memalingkan muka pada Anindita.


“Hai, Rin. Apa kabar?” sapa pemuda itu, dengan senyum manisnya.


“Hai, Kak. Gimana kabarnya?” tanyaku basa-basi. “Duduk Kak! O iya, kenalin ini Anin, teman sekelasku,” mereka saling melipat tangan di dada masing-masing, sambil menganggukan kepala dengan sedikit senyum merekah di bibir masing-masing. [Tepatnya, hanya terlihat di bibir Kak Hilmy, karena bibir Anin, tak nampak.]


Pemuda manapun juga pasti tahu cara menghormati wanita, yang menghormati dirinya sendiri dengan menutup aurat seperti Anin.


Sedangkan aku, walaupun berhijab. Tapi masih bergaya casual. Dengan hijab yang cukup ku ikat ke belakang, atau aku lempar asal kebelang, di kedua ujungnya.


“O iya, bisa ngobrol dulu gak?” tanya Hilmy sedikit berbisik, sambil melirik ke arah Anin. Dia terlihat tidak enak, apalagi melihat Anin langsung bangkit dari kursinya. “Maaf, bukan maksud ngusir, gak apa-apa, di situ saja!” lanjutnya


“Gak apa-apa Kak, lagian saya juga mau lanjut ke perpus kok. Lanjut saja ngobrolnya, saya permisi,” Anin pamit padaku, dan meninggalkan kami berdua.


Ada kecanggungan antara aku dan Hilmy. Aku tidak tahu, apa lagi yang akan dia katakan saat ini.


Berkali-kali dia mengusap rambut, walau rambutnya sudah sangat rapi.


Lalu mengusap-usap tangannya yang di kepal.


“Ada apa Kak?” tanyaku membuka obrolan.


Dia menoleh ke arahku. “Gak apa-apa, Cuma mau ngobrol saja. Kenapa, ganggu ya?”


Dia langsung bangkit dari tempat duduknya. Kita sepakat untuk tetap menjalin hubungan baik, walau apa yang sudah terjadi. Tapi, kecanggungan seperti ini, mungkin wajar saja ku rasa.


“Gimana kabar om sama tante?” kembali aku berbasa-basi.


Entahlah, apa yang harus aku katakan saat ini.


[Apa aku minta tolong Hilmy saja, untuk menemaniku ke acara nanti? Dia mau gak ya?]


Aku menatap Hilmy lekat.


“O iya Kak, ga kerasa ya bentar lagi aku skripsi. Barusan, Anin kemari untuk nanyain judul skripsi punyaku. Gara-gara acara temen kantor, aku jadi lupa untuk membuat judul untuk skripsi nanti. Abisnya bingung sih, apa ga usah datang aja kali ya?” ungkapku, mencoba memancing.


“Emang acara apa?” dia mulai menghentikan aktifitas mengusap kepalan tangannya.


“Ada yang nikahan, “ jawabku singkat.


Sebenarnya, ini agak sensitive juga sih. Mengingat, apa yang kami alalmi, cukup tidak mengenakan.


“Terus yang membuat bingungnya apa?” suaranya terdengar di pelankan.


[Tuh kan bener, harus benar-benar hati-hati nih ngomongnya!]


“Itu, teman kantor pada bawa pasangan. Vany juga ikut-ikutan bawa Alex!” aku tersenyum simpul, sambil menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.


[Bingung juga ya, ngomongnya, biar tidak menjurus-jurus.]


“Owh, itu. Kalau aku temenin, mau gak? Itu juga kalau kamu gak keberatan!” jawabnya sambil menatap meja, namun ujung mata melirik ke arahku.


[Nah, emang itu yang aku maksud dari tadi. Temenin aku!!!]


“Ya, aku sih mau-mau aja. Emang Kak Hilmy ga sibuk gitu?” tanyaku tetap dengan tenang. Aku tidak mau memaksa, namun berharap dia bersedia.


“Gak lah, ya udah kapan acaranya?”


Perbincangan kami, berlanjut lebih hangat. Kecanggungan yang timbul di awal tadi, perlahan terkikis dan mencair.


Kami sepakat, akan pergi ke acara nikahan Mas Fajar bersama.


Satu masalah, Done!


***