
“Vany? Sedang apa, kamu di situ?” tanyaku sedikit tergagap.
Dia menarik tanganku menuju mushola di samping pantry.
Wajahnya mengisyaratkan kekesalan.
“ Jangan bilang, kalau kamu ada hubungan dengan Pak Abi?”
“ Hubungan gimana maksud kamu?”
“ Aku dengar pembicaraan kalian!” ujarnya
Aku terdiam. Tak bisa berkata apa-apa. Hanya menunduk dan mencoba mendengarkan setiap kata, dari apa yang Vany katakan.
“Pokoknya sepulang kerja, kamu harus jelasin semua.” tegasnya.
Dia meninggalkan diriku sendiri disana.
Aku kembali ke mejaku, dengan perasaan yang berkecambuk.
Abimanyu melintas, ia berhenti tepat di depanku. Aku tertegun, khawatir akan apa yang bisa dia lakukan.
Ku lirik Vany yang ada di sampingku. Diapun sedang melihat ke arah kami.
Abimanyu meneruskan langkahnya, aku menghela nafas. Kantor seakan menjadi horror bagiku.
Mungkin tidak hanya flu, aku juga bisa saja jantungan!
Kenapa aku harus masuk kerja hari ini? Mending rebahan saja di rumah!
Sebelum jam makan siang, yang tinggal beberapa menit lagi. Abimanyu keluar, dari ruangannya, dengan menenteng sebuah tas. Dia sepertinya akan keluar kantor, atau mungkin, pulang cepat.
Entahlah. Aku bahkan tak berani menatapnya.
Hari ini terasa berat ku lalui. Tidak tahu, apa yang harus ku katakan pada Vany nanti.
Dan apa yang Abimanyu lakukan saat ini?
Jujur, beberapa hari terakhir aku memang lebih dekat dengannya. Namun, ku pastikan itu hanya kesalah pahaman. Setidaknya, aku tahu bahwa itu salah.
Tuhan, perasaanku bergejolak tak karuan. Aku sendiri tidak tahu, apa yang ku rasakan.
“ Kita mampir dulu ke kafe. Kita harus bicara! Aku tunggu di bawah!” Ujar Vany.
Aku membereskan meja kerjaku yang masih berantakan. Pekerjaan hari ini sepertinya tidak ada habisnya, belum juga bisa ku tuntaskan.
Ku turuni anak tangga, satu per satu. Vany terlihat menunggu di sofa, di lobby kantor. Dia menoleh ke arahku. Lalu bangkit.
“ Aku sudah pesan taksi online. Kita ke kafe biasa,” ujarnya.
Aku hanya mengekor. Dengan kondisi badan yang kurang fit, aku harus juga mengalami ini semua. Kenapa hidupku serumit ini. Tak bisakah aku berjalan dengan mengikuti hati nuraniku?
“ Van, aku minta maaf.” Ucapku.
“ Aku tuh ga habis pikir ya sama kamu. Kenapa kamu melakukan ini semua? Aku pikir, kamu masih menyukai Hilmy. Tapi kamu malah pacaran dengan Abimanyu?”
“ Bukan begitu. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku sama Abimanyu tidak ada apa-apa,” aku berkelit.
“Terus kamu mau bilang, kalau apa yang aku dengar tadi itu salah? Ga mungkin! Terus apa yang benar? Jelaskan!”
Aku menelan ludah getir. Bibir ku tiba-tiba saja menjadi kelu. Aku membisu.
“ Kamu tau, Hilmy itu sayang dan cinta sama kamu!” aku menoleh ke arahnya.
“ Maaf, kalau aku baru bilang ini sekarang. Karena ini permintaan Hilmy. Waktu SMA, dia memang terlihat cuek. Padahal baru aku ketahui belakangan, kalau dia juga menaruh hati sama kamu. Dia baru mngatakan semua itu, saat kita mau mendaftar kuliah. Saat dia tau kamu akan kuliah disana, dia langsung mendaftarkan S2 nya disana juga. Itu supaya kalian bisa lebih dekat. Agar kalian bisa lebih sering bertemu. Kamu tau kan, kalau Hilmy belum pernah dekat dengan perempuan manapun selama ini. Dia bahkan rela perutnya terkoyak, hanya demi menyelamatkan kamu! Dan sebenarnya, kemarin di acara ulang tahunku dia sudah menyiapkan sesuatu. Dia akan menembak kamu disana. Menyatakan perasaan yang sudah bertahun-tahun dia pendam. Kamu tahu itu?”
“Sayang, kamu tidak bisa datang,” lanjutnya.
Aku masih terdiam. Aku bingung, apa yang di katakana Vany barusan, benar-benar membuatku tersentak.
Hilmy adalah cinta pertamaku. Dia adalah Mr. Perfect yang aku idam-idamkan semenjak SMA, semenjak aku mengenal yang namanya cinta.
Bahkan dia bisa membuatku melakukan hal konyol supaya hanya bisa dekat dengan dia, Vany tahu akan hal itu. Dan apakah benar yang di katakan Vany barusan? Benarkan Hilmy …
“Hilmy terlalu baik buat aku Van,” ucapku setelah sekian lama terdiam.
Kami saling tatap.
“ Kita tahu soal hal itu, dia memang orangnya lurus. Itu kan, yang membuat kamu jatuh cinta sama dia dulu! Lalu apa masalahnya sekarang? Dulu kamu ragu, karena dia terlihat cuek. Tapi sekarang, kamu tahu perasaan dia yang sesungguhnya. Lalu apa?” Vany terlihat kesal.
Aku kembali terdiam. Walau kami bersahabat lama, tapi tak sedikit yang aku rahasiakan dari Vany.
“ Aku ingin bicara dengan Hilmy empat mata. Sekarang!” aku berujar.
“Ok. Aku telpon Hilmy sekarang. Biar dia nyusul kita.”
Kami menuju kafe yang terletak di di pusat kota dengan view alam yang sejuk. Ini adalah kafe favoritku.
Kami memilih tempat duduk outdoor. Di lantai dua kafe ini. View yang langsung menghadap lembah-lembah membuat sejuk sepanjang mata memandang.
Masing-masing dari kami, memesan minuman favorit yang ada di kafe ini, sambil menunggu Hilmy, yang memberi kabar kalau dia sudah hampir sampai.
Vany berpindah ke meja lain saat Hilmy tiba. Dia memberikan ruang untuk kami berbicara.
Hilmy terlihat senang bertemu denganku. Terakhir kami bertemu, saat di kampus beberapa hari yang lalu.
“Kamu sudah pesan belum? Mau aku pesenin makanan?” ucapnya saat melihat di atas meja hanya tersaji segelas minuman.
Namun, aku tidak mau basa-basi.
“Tadi Vany mengatakan, kalau Kakak mau ngomong sesuatu sama aku?” langsung ku tembak dia dengan pertanyaan itu.
“ Owh, itu. Em, iya Rin. Kemarin hari minggu itu a—ku ... “ dia terdengar gelagapan.
“ Hari minggu kenapa Kak?” tanyaku lagi.
“ Sebenarnya, ada yang mau aku omongin sama kamu.” ujarnya dengan suara yang lebih lancar.
“ Apa?” tanyaku singkat.
“ Sebenarnya, aku mau ngomong kalo aku sebenarnya …” lagi dia terbata.
Pria di hadapanku ini, seorang pria yang sempurna. Pria idaman setiap wanita. Memiliki wajah yang tampan, tubuh atletis, kulit putih, tinggi memadai, pekerjaan yang mapan, pintar, sayang kepada orang tua dan tentunya taat beribadah.
Siapa yang tidak akan menyukai pria seperti dia. Pria pertama yang mengenalkan aku dengan cinta. Pria pertama yang membuat aku merasakan yang namanya gugup, malu, dan jantung berdebar kencang tiap berhadapan dengannya.
Masa-masa putih abu, yang akan selalu menguntai kisah di sepanjang hidupku nanti. Dialah cinta pertamaku. Hilmy Firmansyah.
“ Aku … ” belum dia melanjutkan, aku potong kalimatnya yang terbata.
Dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Dia terlihat kaget mendengar apa yang aku katakan.
“ Apa? Apa maksud kamu Rin?”
Ku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“ Apa? Kamu bercanda kan? Ini ga lucu lho Rin!” ujarnya.
“ Tapi itu benar, pria itu bernama Bimo!” ku pertegas ucapanku.
Hilmy terlihat shock. Dia menjatuhkan dirinya hingga terduduk.
Hal yang sudah ku duga sebelumnya. Dia tidak akan pernah bisa menerima keadaanku. Itulah alasan selama ini aku menghindar darinya. Dia terlalu baik, sangat baik. Dia berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik. Dan itu bukan aku.
Aku tak tega melakukan ini. Bisa saja aku berbohong dengan dalih apapun. Tapi tidak, rasa bersalah akan terus menghantuiku selamanya. Dan aku tidak mau itu terjadi. Kalaupun dia menolakku, karena alasan itu. Maka, itu akan ku terima dengan lapang dada.
“ Cukup! Kamu tidak usah menjelaskan lagi. Maaf, aku harus pergi!” ujarnya, dia berlalu meninggalkan aku sendiri.
Butiran bening menjatuhkan diri dari pelupuk mata. Mungkin, aku adalah satu-satunya wanita yang paling sial. Cinta pertamaku, menunggu diriku bertahun-tahun lamanya, hingga akhirnya dia menyatak perasaannya padaku saat ini. Namun, aku membuatnya menjauh seketika. Andai ini terjadi sebelum pertemuanku dengan Bimo, tak akan pernah ku sia-siakan pria itu. My first love, Hilmy.
#*
Vany menghampiriku, dia terlihat heran dengan apa yang terjadi.
“ Ada apa ini Rin? Kenapa Hilmy pergi begitu saja?”
Aku menatap Vany lekat.
“ Tanyakan saja pada Hilmy!”
Aku hanya tersenyum getir. Mengambil tasku dan juga meninggalkan tempat itu. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk ini. Rasa sakit nya, tidak akan teramat dalam walau penyesalannya akan terkenang seumur hidup
Tetesan itu berjatuhan tak ku seka, seiring langkahku, meninggalkan tempat itu.