My Boyfriend Is A Biker Insyaf

My Boyfriend Is A Biker Insyaf
Bimo masuk rumah sakit, di anter Abimanyu



Ku lihat dia memarkirkan mobilnya di ujung kios sana.


“Hah! Apa-apaan dia, ko malah parkir sih, bukannya pulang!”


Aku kembali ke dalam. Dan mencari Bimo, juga yang lainnya. Tidak boleh sampai Abi mendekat, bisa bahaya!


“Rik, liat Bimo gak?”


“Gak tahu tuh, gak liat!”


“Kalau Teguh liat ga? Atau Erwin, tadi Erwin di sini sih,”


“Teguh juga gak liat, kalau Erwin, kayanya dia ke parkiran deh,” jawab Erik.


“Owh gitu, ya udah makasih ya …”


Akan sulit mencari mereka dalam situasi seperti ini. Terlalu banyak orang di sini. Dan lagi, mereka semua memakai baju hitam-hitam, sehingga tidak akan mudah menemukan mereka.


Lanjut ku tanyai orang yang ku temui satu persatu, namun tak ada satu orang pun yang tahu keberadaan Bimo, maupun Teguh.


Rata-rata dari mereka, hanya melihat Erwin yang berlalu menuju parkiran.


“Mending ku telpon saja deh!” pikirku.


Ku rogoh gawai di saku celana.


“ Yah, lowbat!”


Disaat menelpon Sari tadi, memang sudah ada bunyi tanda batrenya hampir habis.


Ah, sial!


“Teh Airin? Sedang apa di sini? Bukannya Bimo di bawa ke rumah sakit, kenapa Teteh masih ada di sini?” tanya Sena, yang masih sesepunya Teguh.


Aku tidak begitu mengenal Sena, kami hanya bertemu beberapa kali saja. Itupun kalau ada event seperti ini.


“Memang nya kenapa dengan Bimo? Ini aku juga sedang mencari Bimo, kamu tahu di mana dia?”


“Lho, Bimo kan dibawa ke rumah sakit, masa Teteh gak tahu? saya tahu rumah sakitnya,”


Apa?


Bimo beneran di bawa ke rumah sakit?


Sena memberitahukan alamat rumah sakit, di mana Teguh membawa Bimo.


Aku bergegas mencari kendaraan, yang bisa membawaku ke sana.


‘Apa aku minta salah satu dari mereka saja untuk mengantarkan aku?’ gumamku dalam hati.


Namun, saat hendak kembali kepada Sena, seseorang memanggil diriku.


“Mi, kamu mau kemana, kaya orang bingung?”


Aku berbalik, menoleh ke arah suara berasal.


Dia berdiri, melihat ke arahku. Kami bertemu tatap. Pria itu, kenapa selalu pria itu ...


Dia berjalan, lebih dekat kepadaku.


“Aku lihat di sini lagi ada rame-rame, jadi pengen liat sih, tanggung juga kalau pulang, di dalem …”


“Anterin aku ke rumah sakit!” ku potong kalimatnya.


“Rumah sakit? Tapi, siapa yang …”


Lagi-lagi tak ku biarkan dia melanjutkan kalimatnya. Kutarik tangan Abimanyu, menuju mobilnya.


Diapun tak banyak bertanya, dan langsung menyalakan kendaraan yang dia bawa.


Sesekali dia melihat ke arahku, namun tak ku gubris. Lebih cepat aku sampai, akan lebih baik.


“Kamu kenapa? Siapa yang sakit sebenarnya?”


Aku hanya bisa menatap, sambil menelan saliva yang mengering.


Andai aku mengatakan, kalau tujuanku ke rumah sakit untuk menemui Bimo, apa dia akan tetap mengantarkanku ke sana?


“Kenapa malah bengong?”


“I—itu, ada teman yang satu rombongan tadi, dia sakit dan di bawa ke rumah sakit. Aku mau nyamperin, buat tahu keadaannya,” ujarku, memberikan alasan.


“Emang kenapa dia? Cowok?”


Sebenarnya, aku tidak mau menjawab. Alangkah baiknya kalau kami diam saja. Tapi, dia terus saja bertanya.


Ah …!


“Bisa di percepat saja Pak, biar cepat sampainya,” pintaku, mencoba mengalihkan perhatian.


Ku palingkan muka, melihat apa yang di tampakkan dari jendela mobil.


“Kamu ke sini dengan pacar kamu, Bimo, kan? Terus di mana dia sekarang?” lagi dia bertanya.


Deg!


Apa yang harus aku katakan sekarang? Kenapa dia terus saja bertanya.


Apa mungkin, aku berbohong lagi saja?


Sebelum aku menjawab pertanyaannya, mataku terpaku pada sebuah gedung dengan tulisan “RS. M. Mahdi, Bogor”.


“Stop, stop Pak. Kita sudah sampai!” teriakku girang.


Abimanyu menghentikan mobilnya, ke pinggir. Di tengoknya bangunan yang ada di samping kiri kami.


“Owh, iya. Kita sudah sampai,”


“Ya sudah kalau gitu, makasih ya Pak. Kita berpisah di sini saja. Di dalam banyak teman-teman saya, bisa nebeng mereka nanti pulangnya,”


Dia menatapku lekat. Tatapannya itu, hampir saja membuat hati meleleh. Mata sayup, dengan wajah manis yang terpampang nyata di mataku kini.


“Kamu itu perempuan, harus lebih bisa menjaga diri. Aku tunggu saja ya!” ujarnya dengan menampakkan wajah kesal.


Ayolah Abi, aku hanya ingin kamu cepat pergi. Dan aku bisa melihat kondisi Bimo secepatnya.


tak sanggup juga rasanya, kalau kamu harus melihat diriku bersama Bimo.


“Bapak tidak usah repot, ada Bimo di sini. Saya akan baik-baik saja. Terima kasih atas tumpangannya,”


Aku berlalu meninggalkan dia sendiri, dan tak membiarkan dia berkata lebih banyak lagi. Perhatian yang ia berikan, itu salah!


Ku biarkan setitik bulir, menetes tersapu angin.


Dan berlalu, memasuki rumah sakit.